Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 99


__ADS_3

Bulan madu dadakan yang nyatanya hampir satu minggu, Kanaya dan Ibra benar-benar merepotkan bagi Lorenza. Gavin kembali memintanya membantu ini dan itu, dengan iming-iming gaji dua kali lipat dan promosi naik jabatan adalah andalan Gavin yang paling berpengaruh baginya.


"Udah nggak kuat, kamu lama banget ... makasih banget akhirnya pulang, Kanaya." Ingin rasanya Lorenza sujud syukur lantaran Kanaya akhirnya kembali setelah menikmati bulan madu ke pulau dewata itu.


Dengan membawa oleh-oleh kulit yang sedikit hitam dan tanda kemerahan di dada yang setiap malam terus bertambah dan tidak ditemukan titik sembuhnya, Kanaya kini tersenyum senang ketika mereka kembali berkumpul dalam satu meja.


Siska, wanita itu meredam ego dan mengakui jika dirinya memang benar-benar salah. Walau pengakuannya tetap atas desakan Lorenza tetap saja kehendak hatinya turut bicara.


"Gimana sama Gavin?" tanya Kanaya menarik sudut bibir, pria itu memang meresahkan akhir-akhir ini.


Lorenza yang mendapat pertanyaan itu memasang wajah kusutnya tiba-tiba. Teringat jelas bagaimana Gavin yang memintanya membawa tumpukan berkas dan itu berulang kali.


Kakinya terasa sangat melelahkan sejak kemarin, yang Gavin minta sepertinya tidak waras lagi. Pria itu nampaknya memanfaatkan keadaan, terlebih karena Ibra tidak berada di kantor.


"Gimana apanya? Nyesel banget nerima tawaran kanebo kering itu ... Aaaarrrggggghhhh, lihat!! Kakiku lecet!!"


BRAK


"Iyyuuhhh!! Lorenza turunkan kakimu."


Siska yang memang memiliki emosi tak terbendung di antara mereka jelas saja kesal lantaran tingkah Lorenza yang tiba-tiba menaikkan kakinya ke atas meja demi memperlihatkan lecet itu.


Lecet akibat terlalu banyak kesana kemari demi perintah Gavin yang tak bisa dia tolak. Lorenza menyeka keringatnya, mereka makan siang di sebuah restaurant mewah di pusat kota, seperti biasa Lorenza menentukan tempatnya.


"Bukti kalau memang aku tersiksa, Siska, dia nih ngidam nyusahin ... Gavin beneran balas dendam tau gak."


Ingin marah namun tak bisa, mau mengadu pada Ibra juga tidak mungkin. Kanaya hanya terkekeh mendengar keluhan sahabatnya, bukannya turut berduka dia justru merasa ini sebuah hal yang dianggap lucu.


"Hahaha ya nggak masalah, bukannya emang suka Gavin, Za?"


Siska memang tidak bisa menjaga rahasia, curhat kepada wanita itu sama halnya menuang air ke dalam ember bocor.


"Ketebak sih, kayaknya disiksa Gavin aja dia terima," imbuh Kanaya turut meyakini pembicaraan Siska.


Sebelumnya Lorenza memang terpana dengan ketampanan Gavin. Pria tak bisa ditebak yang membuat Lorenza bingung itu tetap berhasil menghipnotis wanita cantik itu.


"Hello!! Please banget ya, dulu iya karena aku kira Gavin itu baik dan manis karena dari penampilannya tidak ada tanda-tanda dia akan menyebalkan ... dan ternyata, seminggu kemarin benar-benar membuka mata batinku, Sister!!"


Dia berapi-api menjelaskannya. Kenyataan yang tak bisa dilawan, Gavin memang menyebalkan dan lebih tepatnya Lorenza terjebak kerja rodi kemarin.


"Taunya ih, yang punya perusahaan siapa yang berani ngatur-ngatur siapa ... asisten pribadi mas Ibra sarap, Nay."

__ADS_1


Dia tidak bercanda, apa yang dia dapatkan dari Gavin membuat hati Lorenza putar arah. Beruntung saja dia belum mencintainya, pikir Lorenza kesal.


"Tapi Gavin menurutku perfect sih, Za ... yang pakek kacamata kan? Dia cakep banget sumpah!!" puji Siska lupa diri padahal kini sambungan teleponnya masih terhubung bersama Haikal, sang kekasih yang selalu ia puja-puja.


"Dih, cakepan juga Haikal," ucapnya menaikkan alis, melirik sekilas ponsel Siska yang tiba-tiba saja mati dan membuat wanita itu ketar ketir.


"Yah-yah-yah .... gimana dong!!"


"Hahaha kasian, perang dunia ketiga gara-gara Gavin, semangat Siska, nanti Gavin yang cuakep itu bantuin kamu."


Kanaya tidak ikut-ikut, dia tetap saja meneruskan makan siangnya dan menjadi saksi paniknya Siska. Lorenza merdeka sementara Siska memerah, matilah dia, bagaimana hendak meminta maaf karena dengan nyata dia memuji Gavin dan itu jelas Haikal ketahui.


"Nay," panggil Sisksa meminta bantuan, sayangnya wanita itu angkat tangan dan meminta maaf sembari menahan tawanya.


-


.


.


.


"Wanita ini yang kamu maksud, Liv?"


"Hm, kebetulan sekali kita bertemu di sini, Kanaya ... wajar saja rumahmu sepi."


Kanaya berdiri dan tidak memperlihatkan ketakukan dalam dirinya. Didampingi Lorenza dan Siska semakin membuatnya tidak memiliki rasa takut sama sekali.


Rumah? Artinya Olivia benar-benar masih berniat mengusiknya. Beberapa kali Sulis memang melaporkan jika ada beberapa orang yang memperhatikan rumah mereka ketika Kanaya dan Ibra pergi.


"Mau apa lagi? Bukankah kita sudah selesai, Olivia?" tanya Kanaya tegas, sementara Lorenza sudah pasang badan dan mengambil langkah agar dirinya berada di depan Kanaya.


"Selesai? Tidak ada yang selesai selama suamiku belum kembali."


Benar-benar tidak waras, Lorenza berdecih jijik mendengarnya. Ingin rasanya dia cakar belahaan Olivia yang sengaja diperlihatkan itu.


"Suamimu? Heh, kampungan ... yang namanya udah cerai artinya bukan suami lagi, pernah sekolah nggak?"


Lorenza yang ambil alih, tenaga Kanaya terlalu berharga untuk digunakan melawan manusia tak bermalu ini.


"Aku tidak bicara denganmu, miris sekali ya ... pelakor seperti dia ada yang mellindungi," teriak Olivia sengaja membuat perhatian tertuju pada mereka.

__ADS_1


Beberapa orang yang mendengar itu jelas saja termakan ucapan Olivia. Banyaknya kejadian gila dalam kehidupan rumah tangga akhir-akhir ini membuat mereka percaya bahwa Kanaya memang bukan wanita baik-baik.


"Kalian semua lihat, betapa polosnya istri rahasia suami saya yang dia sembunyikan dari saya dan bahkan orang tuanya!! Karena wanita ini, suami saya jadi durhaka dan meninggalkan saya tanpa pikir panjang!!" hardik Olivia yang tiba-tiba saja membuat suasana tempat ini jadi sunyi.


Bisik-bisik mulai terdengar, dengan memojokkan Kanaya dan beberapa di antara mereka mulai mengeluarkan gawai masing-masing karena akan ada pertunjukkan istri sah melabrak pelakor, pikir mereka.


"Bagaimana menurut kalian semua? Saya harus gimana?"


"Hajar aja, Mba! Kita semua dukung!!!"


Salah satu kompor mulai membara di sudut sana, dan Kanaya yang merasa tidak salah jelas saja tidak terima. Melangkah tanpa ragu dan mendaratkan telapak tangannya di pipi Olivia tanpa aba-aba.


Sebagian dari mereka yang termakan ucapan Olivia berteriak histeris dan semakin mengutuk Kanaya sebagai wanita tidak tahu diri.


"Kau masih berani mengusikku?" Menatap sengit Olivia dan wanita itu tak tinggal diam karena di sini dia tidak sendiri, melainkan membawa kedua sahabatnya.


"Jika kemarin aku tidak sempat membalasmu karena Mas Ibra, maka hari ini jangan harap bisa lepas."


Olivia menarik rambut Kanaya hingga dirinya sempat kehilangan keseimbangan, Lorenza berusaha melerai dengan cara menarik rambut Olivia tak kalah kuat. Jika dalam hal ini, skill Olivia tidak perlu diragukan.


Hanya dengan sekali tarik, Olivia kini mendongak dan meringis sakit. Akan tetapi dia tidak melepaskan Kanaya sama sekali dan tetap bertahan di posisi.


"Lepaskan aku!!"


"Lepaskan Kanaya dulu!!" sentak Lorenza tak kalah bengis.


Kedua teman Olivia juga tak tinggal diam, mereka berusaha melepaskan tangan Lorenza dari rambut indah Olivia, sementara Siska yang panik berusaha mencari Jackson dan Axel. Ini sangat aneh, biasanya dua bodyguard Kanaya selalu sigap, kenapa justru kecolongan, pikir Siska frustasi.


"Kau mau mati?"


"Kau yang cari mati!! Kalian berdua sialan ... beraninya keroyokan!! Aaarrrggghhh!!"


"Eeeugghh!!"


Kemampuan bela diri Lorenza masih patut dipertimbangkan, tendangan spontan di area perut itu berhasil membuat salah satu dari mereka terpental. Kejadian itu begitu cepat, belum lagi beberapa orang yang lain justru berkerumun dan membuat pekerja di sana kesulitan.


Satunya jatuh, masih ada satu yang justru berusaha menyakiti Lorenza juga. Mereka dikerumuni banyak orang tapi tidak ada sedikitpun hati yang tersentuh dan berniat menolong. Semua menganggap Kanaya buruk dan pantas dihajar.


BUGH


Lorenza terpaksa, menyakiti dada Olivia dengan sikunya hingga jambakan itu terlepas dan Kanaya menganga. Lorenza mengambil gelas di meja dan membuang isinya sebelum kemudian dia menghampiri Olivia yang berusaha menyesuaikan keseimbangan di sana.

__ADS_1


"Lorenza Jangan!!"


To Be Continue


__ADS_2