
Sayangku, tolong bantu koreksi typo ya🤗 Siapapun yang baik, tolong langsung komen di paragraf karena othor beneran buru-buru, Makasih - Author khayangan😚
"Za?" Entah karena spontan atau kenapa, Gavin yang kaget dengan kehadiran Lorenza justru berdiri dan hendak meraih pergelangan tangan Lorenza.
Siallan, apa yang kulakukan?!! Kalau begini, mereka jelas yakin aku memang melakukan hal keji itu pada wanita ini!!
Demi apapun, Gavin kerap kali melakukan hal semacam ini. Tindakannya membuat semua yang ada di sana justru berpikir jika di antara mereka memang ada hubungan spesial.
"Gavin duduk!!" desis Ibra panik sekali, sungguh dia saat ini tengah berganti peran layaknya seorang Kakak yang menemani adiknya usai membuat masalah.
Dan dengan polosnya Gavin menuruti titah Ibra dan segera kembali duduk manis di sofa. Wajah Lorenza yang membuat Gavin spontan sebenarnya.
Hal yang dia heran dari seorang Lorenza, wanita itu bisa membuatnya terpana dan tak berdaya. Apa yang dia rencanakan memang akan berbeda ketika sudah berhadapan dengan Lorenza.
"Kenapa Lorenza, apa yang mau kamu katakan?"
Sang papa masih bertahan dengan ekspresi yang sempat membuat Lorenza ketar-ketir tadi malam. Tanpa Lorenza ketahui bahwa seisi rumah tengah bersandiwara seakan percaya dirinya dan Gavin terjebak cinta satu malam.
"Sebelumnya aku mau meluruskan, aku dan pria ini sama sekali tidak melakukan apapun!! Tuduhan kalian keterlaluan ...."
"Za, Mama tidak pernah mengajari kamu berbohong, Sayang."
Dengan wajah sedihnya, Maria seakan benar-benar terpukul. Kemampuan akting wanita itu memang lebih menantang dari aktris terkenal, matanya yang sayu benar-benar membuat hati Lorenza seakan meringis.
"Mama ya Allah ... bohong apa? Aku bohong apa?"
Lorenza mengacak rambutnya hingga kini kian tak tertata, tak peduli bagaimana kini Gavin menatapnya. Yang jelas, alasan mereka untuk menikahkan dia dan Gavin tidak dapat diterima akal.
Keputusan keluarga sudah bulat, dan itu sengaja dilakukan Maria sebelum Lorenza keluar dari kamar. Wanita itu sudah mewanti-wanti Lorenza akan keluar dengan segala pembelaan dirinya.
"Semua demi kebaikan kamu, Za ... sebelum perut kamu membesar dan...."
"Mama!! Perutku kenapa memangnya? Tuh lihat!!"
"Lorenza!!"
Sekali lagi, Gavin kembali spontan menarik Lorenza dan menahan tangannya. Wanita itu hendak menyingkap bajunya di hadapan mereka, Gavin yang sudah biasa menjadi tameng demi pakaian ketat Lorenza seperti biasa jelas saja terperanjat kaget.
__ADS_1
"Masya Allah ... saya takjub, baru kali ini saya tidak melihat hal buruk di antara kalian, meski melakukan kesalahan tapi ini berbeda."
Ustadz Handoko turut bicara. Habis sudah Gavin, pria itu hanya menelan salivanya pahit. Sungguh hal di luar dugaan, wajahnya bahkan memerah dan kini dengan gerakan lambat Gavin kembali duduk.
Ibra tersenyum tipis, Kanaya demikian. Dia berseru "Iyes!" melihat wajah panik Lorenza. Meski dia paham mata itu sembab usai menangis, baru kali ini dia melihat lamaran yang berbeda dari yang lain.
"Terima saja, apa yang tidak baik menurutmu bisa jadi membawa hal baik, Za."
Kanaya ikut-ikutan, Lorenza yang sudah lelah hanya duduk pasrah di sisi sang mama. Menunduk malu dan meremmas jemarinya. Demi apapun Lorenza merasa saat ini hanya dia yang tidak suka dengan pertemuan ini.
-
.
.
.
07 Juli, tanggal pernikahan yang ditentukan seenak dengkul oleh Kanaya dan Maria. Dua wanita bersatu dan membuat Lorenza semakin tak berdaya. Sungguh wanita itu hanya bisa gigit jari dengan keputusan mutlak sang mama.
"Maaf ... di luar kendaliku."
"Kenapa minta maaf?" tanya Lorenza dengan suara lemah, dia memang marah namun hendak memaki Gavin dia juga tidak bisa.
"Tidak ada, hanya saja wajahmu terlihat tertekan."
Dia juga sebenarnya, Gavin menendang kerikil kecil di dekat kakinya. Pria itu menepis gejolak batinnya, sempat berontak sebelumnya. Namun, kala menatap mata sendu orangtua Lorenza hati Gavin benar-benar tak tega.
Harapan orangtua Lorenza memang benar adanya. Teringat jelas bagaimana Wiradh dan Maria sebahagia itu menyambut kedatangannya.
Pria tampan bertubuh tinggi itu hanya melirik Lorenza dengan ekor matanya, mata sembab yang justru berubah menjadi mata panda dan itu sungguh menyedihkan.
"Kita jalani semampunya ... jika kau tidak mampu, boleh lepaskan aku."
Pernyataan Gavin membuat pemilik manik coklat itu mengerutkan dahi. Lorenza mendongak dan memastikan bagaimana bibir itu berucap untuk kalimat selanjutnya.
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Sebelumnya aku pernah berkata ingin membuatmu takluk, tapi sepertinya pendirianmu sekuat itu ya?"
Gavin menarik sudut bibir, penolakan Lorenza lebih nyata dibandingkan dirinya. Cara Lorenza juga nyata menolak pernikahan ini. Dan dia sakit? Tidak juga, tapi intinya meski dia menolak entah kenapa ketika melihat Lorenza berontak dia sedikit gusar.
"Pendirian yang mana?"
"Kau menolakku ... iya kan?" tanya Gavin kemudian, seumur-umur tidak pernah mendapat penolakan dalam hal apapun.
Memang dia aneh, egois dan sama halnya seperti Ibra. Pantang ditolak walau dia suka sekali menolak, bahkan secara mentah-mentah.
"Bukan menolakmu, aku hanya menolak pernyataan Mama tentang kita."
Yang menjadi inti dari berontaknya Lorenza hanya itu, tuduhannya hamil duluan adalah alasannya. Lorenza membuang napasnya kasar.
"Dan kamu, kenapa cuma diam? Terima-terima aja gitu dituduh yang nggak-nggak begini?" tanya Lorenza dengan menahan suaranya agar tak memancing keributan.
"Bukan cuma diam, Za, kau tidak paham seberapa usahaku meyakinkan Ibra dan lainnya jika kita berdua tidak melakukan hal yang mereka tuduhkan."
Harus dengan cara apa Gavin menjelaskan jika dia juga sudah berusaha membela dirinya. Akan tetapi, baik Wiradh maupun Maria justru seakan menerima kesalahan yang sama sekali tak mereka lakukan itu.
"Entahlah, mama kenapa begitu."
Bingung. Jika biasanya Gavin akan menguatkan Lorenza, kali ini dia merasa berbeda. Hendak menguatkan bagaimana, toh yang tersandung masalah adalah dia.
"Mamamu lucu ... dia tidak marah sama sekali, kau benar-benar putrinya kan?" Pertanyaan konyol yang membuat Lorenza menatap kesal pria yang kini sudah menjadi calon suaminya.
"Pertanyaanmu kenapa begitu?" sentak Lorenza kini kembali seperti wujudnya semula.
"Hahah santai, Za, aku hanya bertanya."
Tanpa dia sadari jika sebenarnya mereka menyatu dalam hal apapun itu. Lorenza sudah membuatnya luluh tanpa dia sangka, hal ini terbukti jelas lantaran dia yang bisa berubah begitu saja ketika sudah mendengar suara Lorenza.
"Santai apanya? Jabatanku belum naik dan kini terpaksa jadi istrimu, lucu sekali."
Jabatan? Tunggu, dia tengah menyinggung Gavin sepertinya. Beberapa kali Gavin menjanjikan jabatannya akan naik usai banyak membantunya, namun sepertinya dia lupa dan bahkan tidak memikirkan hal itu lagi.
"Ehem, masuklah ... hari ini sepertinya akan hujan, kau masih sakit kan?" Wajah pucat Lorenza sudah menjawab jika dia memang tidak baik-baik saja, pria itu berucap pelan layaknya seorang Gavin yang biasa padanya.
__ADS_1
Dia kok santai? Benar-benar siap menikah atau bagaimana? -Lorenza
Tbc