Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 139


__ADS_3

Siang itu, cuaca tak sebaik biasanya. Ibra mengerutkan dahi lantaran rapat kali ini hanya membuat emosi. Tak bisa dipungkiri, kini Gavin juga jadi kena imbasnya.


"Bisakah kau tidak datang terlambat, Gavin?!!" sentak Ibra sembari melonggarkan dasinya, rapat sudah selesai dan baru kali ini dia sempat meluapkan amarahnya.


"Maaf, Tuan ... istri saya tidak bisa lepas."


"Alasan!! Kau yang tidak bisa lepas, bukan istrimu."


Selalu saja dia mengatasnamakan Lorenza, padahal jika Ibra ingat istrinya dahulu tidak sebegitunya di awal kehamilan. Sementara Lorenza bentuknya saja Ibra yakini masih sekecil biji sawi tapi Gavin seakan merasa semuanya amat rumit.


Meski Ibra mengomel, Gavin tetap mengikutinya dan menunggu titah Ibra selanjutnya. Dia paham memang Ibra tengah menyimpan banyak beban, kelahiran bayinya diperkirakan tinggal menghitung hari. Akan tetapi, di sisi lain dia juga harus tetap bertanggung jawab di sini.


Suaminya di kantor tengah tegang urat, Ibra kesal luar biasa pada Gavin sementara di sisi lain Kanaya sebahagia itu bersama Lorenza dan Siska. Meski ruang geraknya memang kian terbatas, akan tetapi kini dia merasa bahagia karena pada akhirnya dua wanita itu bisa menyempatkan waktu untuk mengunjunginya.


"Aku aja yang siapin, kamu keberatan badan, Nay."


Seperti biasa Siska akan mengeluarkan pernyataan di luar nalar yang bisa saja membuat salah satu dari mereka tersinggung. Sudah paham jika berat badan adalah hal senstitif bagi wanita, kini Siska dengan jelas mengutarakan perihal berat badan Kanaya.


"Kamu ngehina aku?" tanya Kanaya dengan wajah yang terlihat kecewa, dia saja sedih karena sulit bergerak dan kini Siska dengan jelas mengusiknya.


"Nggak, bukan hinaan itu, Sayang ... tapi aku itu khawatir, Nay."


Bisa saja membuat alasan, akan tetapi memang ada benarnya. Sejak dia datang, Kanaya sudah mengutarakan jika perutnya terasa sedikit sakit. Berulang kali Siska memastikan dan Kanaya selalu jawab dengan kekenyangan.


Sementara Siska berlalu mengambil minuman, di ruang keluarga ada Lorenza dan Kanaya yang sama-sama menikmati keripik pisang aneka rasa itu. Tentu saja oleh-oleh dari Lorenza yang dia dapatkan dari memaksa Gavin ke provinsi sebelah demi keripik itu.


"Nay dia kalau udah nendang-nendang sakit gak?" tanya Lorenza menatap lekat perut Kanaya.


"Lumayan, kadang sakit ... kadang enggak, nikmatin aja, Za." Pasrah sekali, sungguh Lorenza tak suka jawabannya.


"Oh iya, kata mas Ibra kamu ngidam nggak kira-kira ya?" tanya Kanaya penasaran separah apa sahabatnya ini.


"Enggak juga sih." Mana mau dia mengaku jika semua keinginannya membuat Gavin kehilangan akal, dia juga tidak paham kenapa keinginannya beragam.


"Enggak apanya nggak, malem-malem minta timun suri, mana ganggu suamiku tidur lagi ... emang bener-bener kamu ya, Za."

__ADS_1


"Iya namanya ngidam, kayak kamu enggak aja, Nay."


"Aku emang ngidam, tapi gak sesinting kamu!!"


Kehamilannya saja belum terlihat, namun ngidamnya Lorenza bahkan merepotkan satu kelurahan. Kasihan sekali Gavin, perkaja ting-ting yang terpontang panting menghadapi istri ketika bunting. Begitulah kira-kira pepatah yang pas untuk seorang Gavin Andreatana saat ini.


"Aku kan cuma ikutin dia, lagian dia ada di sini karena Gavin juga ... wajar dong aku nyusahin dia."


Memang tidak akan pernah menang melawan Lorenza, wanita itu dalam keadaan tidak hamil saja dia menyebalkan. Apalagi sekarang, dengan cara apa Kanaya melawannya tetap saja mulut Lorenza akan menang.


-


.


.


.


"Nih minumnya, kalian nggak boleh banyak-banyak nanti ngembang!!" seru Siska menyerahkan sop buah yang telah disediakan oleh Ningsih sebelumnya.


"Aarrrgghh, Sis ...."


Panik, sudah Siska katakan Kanaya tidak baik-baik saja. Tanda-tandanya sudah dia duga sejak tadi, wanita itu meringis dengan memegangi perutnya. Belum sempat Lorenza minum, dia juga sama paniknya.


"Haaaaaaa, sakit Siska!!"


"Aduh ... anu apa? Itu ... Lorenzaaa!! Telepon Ibra!!" sentak Siska ketar-ketir, Kanaya semakin terlihat kesakitan sementara Lorenza dengan bodohnya masih mencari nomor ponsel Ibra.


"Aaarrrrrggghhhh!!! Siksa!!"


"Aaaaawww, Nay!! Lepas ... aduh buruan, Lorenza!!" gertak Siska seraya menahan sakit lantaran rambut panjangnya menjadi sasaran Kanaya.


"Ya bentar!! Aku juga lagi cari ... elus-elus, Siska."


Jemarinya sudah bergetar, semakin kencang teriakan Kanaya semakin gugup pula dirinya. Memang perkiraan tidak akan lama lagi, tapi mereka juga tidak menyangka bahwa akan secepat ini.

__ADS_1


"Mas!!" teriak Kanaya dengan mata yang kini membasah, sebelumnya memang Ibra ingin tetap bersamanya, namun karena Kanaya yakin belum akan terjadi apa-apa dan kedua sahabatnya akan datang, wanita itu meminta Ibra untuk meinggalkannya.


"Bibi!!! Bantuin aku, tolong!!" teriak Siska dengan suara lantangnya, wanita paruh baya itu bahkan bisa mendengar jeritan Siska dari dapur sana.


"Tarik napas, Nay ... buang ... iya begitu."


Sakit tak apa, bukannya berhenti malah semakin menjadi. Sementara Lorenza masih berusaha menghubungi Ibra.


"Cepet tolool!! Lama banget, mau lahiran ini."


"Ya sabar!! Ini kenapa nggak ada nomor mas Ibranya?"


"Itu HP aku!! Cari di Hp kamu peak!!" Di saat-saat begini, kenapa ketolollan Lorenza harus muncul. Sungguh lelah rasanya jadi Siska.


Kericuhan di ruang keluarga begitu cepat terdengar, apalagi setelah Ningsih mengetahui hal itu. Tanpa banyak berpikir dan tidak mungkin menunggu Ibra lebih dulu, mereka ke rumah sakit dengan bantuan Axel dan juga Jackson.


"Tahan, Kanaya ... jangan lahir dulu!! Aku gabisa liat darah!!" teriak Siska gemetar luar biasa, meski dia berada di sisi Kanaya demi apapun dia tidak sanggup jika tragedi gila semacam itu tejadi.


"Aku mau Mas Ibra, Siska ...." lirih Kanaya lemah, sakit yang ia rasakan lebih sakit dari segalanya. Wanita itu hanya ingin suaminya saat ini, yang bisa memberikan dia kekuatan tanpa berteriak-teriak hanya Ibra seorang.


"Sabar, Nona ... Tuan akan segera datang, bertahanlah." Axel memberikan kalimat penenang kepada wanita yang selalu ia jaga itu, dia sudah berusaha melaju secepat mungkin demi majikannya bisa selamat.


"Cepat Axel!!" gertak Siska menitikkan air mata, dia juga tak kuasa melihat Kanaya tersiksa lebih lama.


"Sis ...."


"Hm? Kenapa, Za?" tanya Siska menatap khawatir wajah pucat Lorenza.


"Basah, Bibi ... Kanaya kenapa?" Wanita itu sedikit menjerit kala menyadari ada yang tidak beres.


"Haah?!! Lorenza jangan bercanda, muka kamu jangan begitu, Za."


"Aku gak becanda, Siska!! Kamu lihat makanya jangan liat depan mulu," sentak Lorenza naik satu oktaf, percayalah suasana di mobil saat ini lebih heboh daripada kandang ayam.


"Axel tolong cepat, kalian berdua tolong tenang! Jangan membuat Non Kanaya tertekan." Memang menyebalkan sekali kedua wanita itu, pikir Ningsih. Bukannya memberikan ketenangan, tapi mereka justru panik sendiri.

__ADS_1


Yang hendak melahirkan siapa namun yang gemetar hingga menangis justru mereka berdua. Untung saja ada Ningsih yang menenangkan Kanaya hingga wanita itu masih bisa sedikit lebih tenang dan fokus dalam keadaan sadarnya.


Tbc


__ADS_2