
Harap-harap cemas, jam menunjukkan pukul 22:00, Ibra belum kembali dan tidak bisa dihubungi. Sejak tadi pikiran Kanaya tidak baik-baik saja, dia terpaku menatap keluar dari balkon kamarnya.
Rambut panjangnya tergerai dengan hembusan angin malam, Kanaya memeluk tubuhnya sendiri lantaran dingin yang menusuk kulit.
"Kamu kemana, Mas."
Belum ada tanda-tanda suaminya pulang cepat, Kanaya sudah menyibukkan diri sejak tadi dengan hal-hal lain. Merapikan isi lemari Ibra yang sebenarnya sudah rapi walau belum dia tata kembali, wanita itu hanya suka menata pakaian sesuai dengan warnanya.
Berada jauh dari Ibra, dia selalu merasa begini. Khawatir, takut dan semua kecurigaan bersemayam dalam diri Kanaya. Kejadian malam itu kala Ibra pulanh dengan keadaan tak baik-baik saja membuat Kanaya trauma hal itu akan terjadi lagi.
Selama apapun menunggu, Kanaya akan sabar dan tak peduli apapun itu. Meski Ibra memintanya tidur lebih dulu, namun untuk tidur wanita itu harus dengan peluk Ibra lebih dulu.
Hingga senyumnya terbit kala sorot lampu kendaraan dari jarak cukup jauh mulai terlihat. Ibra pulang, Kanaya sebahagia itu meski belum melihat suaminya keluar dari sana.
Dia melambaikan tangan, tak peduli Ibra melihatnya atau tidak. Melompat kecil lantaran terlalu senang dan dia lupa jika itu adalah larangan. Semenjak hamil, ada banyak aturan yang Ibra tekankan karena tidak mau istrinya mengalami hal yang tidak diinginkan.
"Mas!!" teriak Kanaya kuat-kuat, menatap Ibra yang kini keluar dan melihat ke atas tanpa suara.
Pria itu menggeleng pelan, mungkin sekarang tengah berdecak karena istrinya berada di luar malam-malam begini. Sapaan Kanaya tak ia jawab dan kini pria itu berlalu dari pandangan Kanaya.
"Is, kok gak dia respon ... bikin malu." Dia berdecak kesal, Ibra menyebalkan sekali.
Tak lama berselang, Kanaya masuk dan meyakini suaminya tengah di perjalanan ke kamar. Siap-siap membukakan pintu untuk Ibra dengan penampilannya yang cukup terbuka.
__ADS_1
Ceklek
Kanaya menyambut Ibra dengan senyum terbaiknya, namun wajah Ibra justru datar dan tak merespon senyumnya sama sekali. Ibra menelisik Kanaya dari kepala hingga ujung kakinya, belahaan yang begitu nyata membuat Ibra menghela napas kasar.
"Kenapa keluar? Cari apa kamu di luar, Nay? Hm?"
Hanya beberapa saat dia menelisik Kanaya dengan pandangan tak bersahabat. Setelah itu, Kanaya sudah dia berada dalam peluk hangat Ibra yang baru datang, suaminya menghujani kecupan di pipi Kanaya hingga wajahnya terasa basah.
"Aku nunggu Mas pulang, kenapa lama banget? Yang dikelarin banyak ya?" tanya Kanaya menahan sejenak wajah Ibra yang tak henti menyerang wajahnya,
"Hm, banyak sekali ... maaf ya buat kamu nunggu." Suara itu terlalu hangat terdengar, udara dingin yang tadinya menusuk luar biasa seakan hilang begitu saja.
"Gak buat nunggu, akunya aja nggak sabar," tutur Kanaya lembut sembari tak melepaskan Ibra dari tatapannya. Berbohong sedikit, Kanaya sudah sejak lama menunggu Ibra di balkon kamar sebenarnya.
"Mas capek banget kan? Aku siapin air hangat buat mandi ya," tutur Kanaya bermaksud membantu Ibra agar tubuhnya tak terlalu lelah.
Pria itu menggeleng cepat, dia melarang Kanaya melakukan apapun untuknya. Meski itu tak sulit, bagi Ibra tetap saja tidak boleh.
"Terima kasih, tapi Mas bisa sendiri, Sayang."
Melepas pelukannya dari Kanaya dengan sedikit tak rela, dia lupa jika sebelum pulang Ibra sempat menyentuh Olivia. Ibra membuka kemejanya, dan dengan bodohnya Kanaya justru menikmati pemandangan itu hingga tubuh ibra telah terbuka sempurna. Memperlihatkan roti sobek kesukaan Kanaya yang setiap perang di atas ranjang terlibat menantant baginya.
"Nay, lihat apa?"
__ADS_1
Kanaya membuang pandangannya seketika, suara Ibra membuatnya tersadar tiba-tiba. Hingga kala Ibra tertawa sumbang, dia benar-benar salah tingkah.
"Nggak lihat apa-apa."
Semua terlambat, sejak tadi Ibra menyadari tingkahnya. Pria itu meraih dagu Kanaya dan mengulas senyum usil kala mata mereka bertemu, jika biasanya Ibra yang kerap mencuri pandang kala Kanaya mengganti pakaian, kini semua berbanding terbalik dan demi apapun sebagai wanita ini cukup memalukan.
"Oh iya? Masa?" tanya Ibra dengan nada penuh ejekan, merdeka sekali jika berada di posisi ini.
"Iya memang enggak, kamu kenapa sih."
Bibirnya maju beberapa centi, tatapan Ibra menyebalkan dan kini Kanaya berlalu meninggalkan Ibra yang tersenyum tipis akibat ulahnya.
"Kamu mau ikut mandi sekalian? Kamu kepanasan kan makanya pakek baju tipis begitu?" tanya Ibra kembali memancing keributan, Kanaya yang kini hampir keluar membalikkan badan dan menghela napas kasarnya.
"Cepet mandi, Mas ... aku siapin makan malam." Itu bukan hanya sekadar peringatan, tapi juga perintah yang harus Ibra turuti.
"Iya, hati-hati, perhatikan langkahmu."
Bukan hanya ucapan belaka, tapi itu peringatan yang harus Kanaya turuti. Wajahnya berubah serius dan Kanaya hanya mengangguk pelan setelahnya.
"Jangan lama," ucap Kanaya sebelum kemudian berlalu keluar, dan Ibra hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Menatap pintu yang kini tertutup, entah kenapa rasa bersalah itu menyeruak dalam diri Irba. Malam ini dia membuat Kanaya menunggu di luar, hanya demi dirinya pulang.
__ADS_1
To Be Continue.