Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 67


__ADS_3

"Nona marah, Tuan?"


Gavin khawatir, tapi sepertinya yang terjadi tidak demikian. Senyum Ibra kini terbit kala usai menerima telepon dari sang istri, pria itu menggeleng pelan kemudian menyimpan gawainya.


"Tidak, dia takkan marah hanya karena hal kecil, Gavin."


Suatu kepercayaan Ibra, Kanaya takkan marah hanya karena dia sengaja membuat istrinya kesiangan. Niat awalnya memang begitu, sejak tadi malam sebagaimana saran Gavin yang mengatakan untuk melarang Kanaya kerja.


Namun, untuk bicara baik-baik Ibra tak punya waktu. Istrinya tertidur bahkan sejak di perjalanan pulang, hingga pada pagi hari dia berpikir akan lebih baik jika Kanaya tak menyadari waktu.


"Hari ini berhasil, lalu besok bagaimana?"


"Gampang, aku bisa membuatnya tidak berdaya menjelang pagi ... dia tidak akan mungkin sanggup berangkat kerja setelahnya." Ibra menarik sudut bibir, tatapan itu membuat Gavin tiba-tiba bergidik ngeri.


"Uhuk, maksud Anda?" Pura-pura polos, padahal Gavin cukup paham apa yang Ibra maksudkan.


"Hahah jangan pikirkan, tidak baik untuk perjaka sepertimu."


Pria itu menggeleng pelan, nampaknya bicara bersama Gavin tidak satu frekuensi jika tentang ini. Entah itu memang Gavin yang polos atau sengaja pura-pura tidak paham padahal dia tidak sebodoh itu.


"Oh iya, Mama bagaimana?" tanya Ibra kemudian, alasan dia membuat Kanaya kesiangan dengan sengaja adalah karena takut wanita itu akan mengetahui perihal Kanaya.


"Bi Ningsih sudah melakukan apa yang saya perintahkan, Tuan ... menurutnya Nyonya memang akan datang hari ini, tapi saya khawatir Anda belum siap maka dari itu, saya memilih cara ini, maafkan saya, Tuan," ungkap Gavin yang membuat Ibra mengerutkan dahi, wajahnya menatap bingung kenapa Gavin justru meminta maaf setelah melakukan tugas dengan baik.


"Memangnya apa yang kau lakukan? Kenapa minta maaf?"

__ADS_1


"Saya meminta Ningsih memasukan obat pencahar ke minuman Nyonya," ucap Gavin enteng sekali, seakan hal ini adalah kesempatannya untuk balas dendam.


"What? Kau gila, Gavin?"


"Maaf, Tuan, saya lancang ... lagipula Tuan sendiri yang tadi malam menyerahkan semuanya pada saya dan membebaskan saya memakai cara apapun."


Benar memang, tidak ada yang salah dan semua sudah berjalan sesuai dengan perintah. Ibra tak memberikan larangan apapun sebelumnya, dan Gavin hanya memikirkan cara agar Indira tidak bisa mendatangi Ibra saat ini.


"Benar juga, baiklah ... sesekali wanita itu tersiksa, terima kasih."


Dia tidak marah sama sekali, bahkan Ibra berharap dengan ini Indira akan merasakan kesakitan yang lainnya. Pria itu menyadari seberapa benci Gavin pada sang mama, wajar saja jika hal itu dia lakukan.


"Saat ini, yang menjadi fokus Anda adalah Nona dan bayi dalam kandungannya. Tidak lama lagi, Anda akan bebas ... anak itu adalah kunci kebebasan hidup Anda sebagaimana wasiat tuan Megantara."


Ibra menatap jauh, mendengar ucapan Gavin dengan teliti. Sebuah wasiat yang Indira salah artikan dan melupakan fakta bahwa sang papa menginginkan Ibra memiliki anak dari wanita yang dia cintai, bukan pilihan paksa Indira.


Ibra tak suka jika Gavin hanya terfokus pada semua kekuasaan yang akan Ibra genggam dengan kehadiran anaknya. Bagi Ibra, memiliki anak adalah semata-mata sebagai tujuannya dalam hidup, sejak dulu dia merindukan sosok malaikat kecil dalam hidupnya, tapi tidak ada wanita yang mampu membuatnya yakin selain Kanaya.


"Sejak dulu? Kenapa baru Anda realisasikan sekarang?" tanya Gavin heran, pasalnya pria itu bisa memilih wanita manapun yang ia mau jika memang tak menyukai Olivia.


"Tidak ada rahim yang bisa mengguncang milikku," ucapnya enteng tanpa pikir panjang dan sukses membuat Gavin tersedak ludah.


Uhuk-uhuk


"Kau kenapa? Ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Ibra menatap heran Gavin yang terkejut sebegitunya kala mendengar ucapannya.

__ADS_1


Sinting sekali, untung saja yang berada di ruangan ini hanya mereka. Bayangkan jika mereka bicara di tempat umum. Mungkin Ibra akan kehilangan wibawanya, mulut pria itu memang sedikit perlu dimaklumi.


"Ehm, tidak ... tidak sama sekali."


Ibra menghela napas perlahan, jam makan siang masih beberapa waktu lagi. Dilema, dia pulang atau tetap di kantor. Batinnya meminta pulang, tapi jaraknya cukup lumayan.


"Apa ada yang Anda pikirkan, Tuan?"


"Makan siang, pulang atau tetap di sini menurutmu?" tanya Ibra meminta pendapat dari Gavin, keduanya sama-sama berpikir keras seakan ini adalah hal paling gawat di dunia.


"Pulang jika Anda tidak lelah, tapi menurut saya lebih baik jangan ... saya tidak percaya Anda akan kembali jika pulang makan siang," celetuk Gavin dan ini memang nyata adanya, kemungkinan Ibra tidak akan pulang itu sangatlah besar.


"Sialan kau," cetusnya sedikit kesal, nampaknya Gavin tengah mengejeknya, batin Ibra.


Merasa cukup pembicaraan bersama Ibra, Gavin berlalu keluar. Dengan penampilan yang selalu berwibawa dan keren tentu saja. Baru saja berjalan beberapa langkah, Gavin dikejutkan dengan kedatangan wanita cantik berambut pendek dengan tatapan yang hendak mengulitinya.


"Pak Direktur ada?" tanya wanita itu dengan tangan yang sengaja ia lipat di perut, Gavin sedikit mundur lantaran takut jika kakinya akan jadi korban keganasan wanita itu.


"Ada keperluan apa? Pak Direktur tidak bisa diganggu," ucapnya tegas, padahal dia was-was jika Lorenza menyerangnya.


"Pribadi, kau tidak perlu ikut campur," ucapnya ketus dan membuat Gavin tertantang kali ini.


"Pribadi? Anda sespesial itu di mata pak Ibra hingga berani bicara masalah pribadi?" Pria itu memasukkan tangannya di saku celana, mata keduanya beradu seakan menimbulkan bercahaya di sana.


"Ah tentu saja, tapi tidak sespesial di matamu," ucapnya sembari mengedipkan satu matanya dan membuat Gavin merinding.

__ADS_1


"Dasar wanita sinting, tidak bisa!! Pak Ibra tidak bisa diganggu, jangan membantah jika masih ingin digaji bulan depan." Gavin menghindari kedipan maut Lorenza, wanita ini sangat berbahaya sewaktu-waktu, pikir Gavin.


Tbc


__ADS_2