
"Mas mau kemana?"
Kanaya mengetahui gelagat suaminya yang tidak tenang sejak tadi. Pria itu tak bisa menyembunyikan kegelisahannya meski sudah berusaha. Ibra mengusap wajahnya kasar, semua semakin rumit dan Kanaya tidak bisa dia tinggal saat ini juga.
"Jangan pergi," pinta Kanaya dan tak biasanya wanita itu meminta Ibra tetap berada di sampingnya.
Ibra mengangguk, niat hatinya untuk menuntaskan semua dengan cepat nyatanya tidak bisa detik ini juga. Kanaya bukan penghambat, mendengar apa yang terjadi jelas saja dia takut.
Adanya Axel dan dua orang lainnya tak bisa membuat Kanaya merasa aman. Meskipun Abygail telah berada di sisinya, tetap saja yang Kanaya mau adalah Ibra.
Istrinya dan Jackson berada di rumah sakit yang berbeda. Siska dan Haikal mengusur Jackson karena keberadaan Axel dibutuhkan untuk menjaga Kanaya di depan pintu ruang rawatnya.
Sementara Gavin harus bertindak cepat lantaran beberapa anak buah Indira menerobos masuk ke dalam rumah sore ini. Semua sekacau itu dan mereka harus berperan sendiri-sendiri.
"Kenapa semuanya jadi runyam begini, Ibra? Apa yang sebenarnya terjadi?"
Sebagai orang yang belum mengetahui bagaimana lingkungan Ibra, jelas saja Abygail heran. Pria itu bingung kenapa sekacau ini. Telepon masuk berkali-kali dan wajah Ibra selalu menunjukkan keadaan tak baik-baik saja.
"Tidak, Mas ... semua akan baik-baik saja, tidak perlu khawatir."
Ibra berusaha menenangkan Abygail, berharap kakak iparnya takkan berprasangka buruk lagi. Pria itu terdiam mengangguk mengerti, mungkin memang benar apa yang Ibra maksudkan.
"Mas yakin? Kenapa Jackson sampai diserang jika semua baik-baik saja?"
Kanaya turut bicara, setelah lebih baik dia mulai berpikir dengan tenang. Semua seakan diatur semulus mungkin, penusukan Jackson yang sedang memantaunya di luar restaurant, kedatangan Olivia yang tiba-tiba mengusiknya dengan membawa kedua sahabat dekatnya, dan kini kabar beberapa orang datang dan membuat keributan di kediaman mereka.
__ADS_1
"Mas akan selesaikan dengan cepat Kanaya, jangan khawatir ... mereka tidak akan berani menyentuhmu."
"Mama ya maksud Mas?"
Kanaya mulai pahami, itu sebabnya Ibra mengatakan jika dia ingin menemui mamanya ketika menghubungi Gavin. Namun, Kanaya kembali teringat bagaimana Ibra pulang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja beberapa waktu lalu.
"Entahlah, kemungkinan paling besar hanya itu, Nay."
Abygail hanya menjadi pendengar rumitnya masalah mereka. Pria itu tidak mengerti arah pembicaraan Ibra kemana sebenarnya.
Rencana Ibra sudah begitu banyak, pikirannya saat ini sudah begitu jauh dan terfokus pada Indira. Pelaku utama yang harus dia curigai. Nyatanya benar kata Gavin, diamnya Indira bukan berarti tenang, melainkan siap untuk membuatnya tenggelam.
Beberapa dokumen yang sudah Ibra amankan yang menjadi kekhawatirannya saat ini. Susah payah Ibra membawanya lari dari rumah utama di luar pengawasan Indira, jika sampai kembali mereka kuasai maka akan sia-sia usahanya selama ini.
Sementara di sisi lain, Gavin dibuat tak percaya dengan apa yang dia lihat. Ini bukan terjadi di malam hari tapi kenapa bisa semengerikan ini.
Bukan tidur, tepatnya dibuat tak berdaya lantaran mereka menjadikan Sulis sebagai sandera yang pada akhirnya jadi korban juga. Penjaga rumah hanya berdua saat kejadian itu berlangsung, karena memang Axel dan Jackson mengikuti kemanapun Kanaya pergi.
"Maaf, Tuan ... kami tidak berani karena semua menggunakan pistol dan jumlah mereka lebih dari 8 orang."
"Alasan!! Lihat, semua sehancur ini!! Kalian tidak berguna!!"
Gavin membuang napas kasar, mereka benar-benar masuk hanya untuk menghancurkan keadaan. Ruang tamu yang tak berbentuk, semua foto pernikahan dihancurkan dan bisa dipastikan siapa yang berada dibalik penyerangan dadakan ini.
Berpindah ke kamar tidur, Gavin semakin dibuat gila lagi. Kondisi kamar Ibra persis seperti ketika pria itu kerap menggila. Berantakan dan benar-benar tidak bisa diselamatkan.
__ADS_1
Andai saja Kanaya yang menyaksikan, mungkin wanita itu akan pingsan di tempat. Gavin mengusap wajahnya kasar, masih menjadi tanya kenapa bisa mereka melakukan hal segila itu di sore yang seharusnya setenang itu.
Rentang waktu antara pertengkaran Olivia dan kedatangan mereka cukup jauh. Dan kemungkinan besar perintah itu bukan dari Olivia karena wanita itu masih terbaring lemah menurut info yang Gavin ketahui.
"Indira, sudah pasti wanita sinting itu."
Gavin mengepalkan tangannya, kerugian dari kerusakan yang mereka lakukan amatlah besar. Namun anehnya ruangan kerja Ibra tidak tersentuh, padahal mereka bisa saja memaksa meminta kunci cadangan selain yang Ibra bawa kemana-mana.
Ruangan rahasia yang selamanya akan Ibra jaga, dia tidak memiliki kepercayaan sebesar itu lagi pada orang lain.
Melihat keadaan rumah yang begini, Kanaya dan Ibra tidak mungkin bisa pulang. Penyerangan Jackson yang membuat pria itu sekarat dan kehilangan banyak darah, dan juga penyiksaan pada Sulis yang membuat wanita paruh baya itu kehilangan nyawa membuat kesabaran Gavin habis.
"Ambil tindakan, kita sudah terlambat ... mereka benar-benar gila, Tuan."
"Urus jenazahnya dengan baik, sampaikan permintaan maaf untuk keluarganya, Gavin."
To Be Continue.
Give Away Periode 06 Mei - 06 Juni berakhir.
Untuk pembagian hadiah silahkan masuk GC Desy Puspita, kalian tinggal klik profile aku dan masuk ke sana. Yang lain juga silahkan masuk karena selain dari 5 besar ini masih ada komentar terpilih yang akan aku umumin juga, selain itu fungsi masuk GC juga buat aku ngabarin perihal up dan karya lainnya.
Ditunggu ya, kalau bisa liat pengumuman ini langsung masuk biar gak lupa😗
Pembagian akan aku mulai abis isya, karena aku agak ribet kalau pc satu-satu. Oke Baby❣️
__ADS_1