Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BONUS CHAPTER III


__ADS_3

............ Lanjut


"Aarrrgggghhh!! Kamu potong kuku nggak sih?!!" sentak Lorenza 100 persen sadar tiba-tiba kala dia merasakan di bagian intinya akibat ulah jemari Gavin.


"Potong, Za ... lihat, kukunya pendek semua."


Gavin dengan polosnya memperlihatkan jemari yang sedikit basah itu pada sang istri, mereka sebenarnya mau apa, sempat-sempatnya menanyakan perihal kuku.


"Yang kamu pakek yang mana?" tanya Lorenza tanpa malu sedikitpun, terlanjur basah sudah terbuka semua apalagi yang perlu dijadikan malu, pikirnya.


"Middle finger (Jari tengah), salah?" tanya Gavin lembut, dia merasa tidak ada yang salah dan hal semacam ini wajar saja dilakukan pasangan suami istri.


"Cicinnya lepas dulu, tajem, Gavin! Kamu mau nyiksa apa gimana?" Lorenza menghela napas kasar, itu bukan cincin pernikahan dan memang bentuknya saja sudah menjelaskan akan menciptakan rasa sakit di bagian intinya.


"Hahaha lupa ... maaf, Za." Melepas cincinnya sedikit sulit karena terlalu pas dengan ukuran jarinya, melempar dengan asal dan hanya meninggalkan bunyinya saja.


Setelah membuat istrinya ngilu, Gavin kembali menciptakan kenyamanan yang lain agar Lorenza tidak trauma. Pinggangnya terangkat kala lidah Gavin yang mengambil peran, belum apa-apa dan Robert belum melancarkan aksinya Lorenza sudah mencapai puncak berkali-kali.


Belajar dari mana Gavin? Hanya dia yang paham. Skill terpendam dan mampu membuat istrinya lupa daratan itu luar biasa memabukkan.


Semua sudah begitu jelas, milik Lorenza terpampang dengan nyata di hadapannya dan Gavin mengarahkan miliknya.


Masih menunggu Lorenza menyesuaikan napasnya, Wanita itu menatap sayu Gavin di atasnya, pria itu masih dengan sabar dan tangannya berada di pinggang Lorenza.


"Udah?" tanya Lorenza lemas, menatap Gavin yang hanya diam dia berpikir jika memang sudah selesai.


"Aku bahkan belum memulai, Za."


"Lama, nanti keburu subuh, Gavin." Matanya bahkan tak bisa terbuka dengan baik karena Gavin benar-benar membuatnya lelah sebelum bertempur sesungguhnya.

__ADS_1


"Sabar sedikit, Lorenza ... agresif juga ternyata."


Sama-sama agresif, hanya cara mereka saja yang berbeda. Hingga dirasa tidak akan membuat istrinya pingsan karena serangan bertubi, pria itu mengarahkan miliknya untuk siap memasuki aset pribadi Lorenza.


Pelan namun pasti, dan sedikit sulit karena milik Lorenza luar biasa sempit. Sama-sama tidak pernah melakukan sebelumnya dan merasakan surga dunia secara nyata berdua.


"Hhhmmmppp, bentar-bentar ... tarik napas dulu."


"Diam, Za!" titah Gavin kala merasakan Lorenza menjauh.


"Bentar, Gavin ... kalau robek gimana?"


"Tidak akan bodoh, kepala bayi saja muat," tutur Gavin menarik pinggang istrinya agar kembali kepada posisinya semula.


"Itu beda, Gavin ... Kalau robek tanggung jawab ya?" ancam Lorenza dengan mata tajamnya, dia sedikit mengangkat kepalanya demi memastikan miliknya baik-baik saja.


Tak menjawab lagi, Lorenza menggigit telapak tangannya demi melampiaskan rasa sakit. Dia tidak berbohong dan memang sakit walau Gavin sudah melakukan pemanasan di awalnya.


"Bis.... Aarrrgghhh, ini memang sakit atau kamu yang salah sebenarnya?"


Gavin memejamkan mata, dan di bawahnya Lorenza sudah mengomel dengan suaranya terdengar lelah.


"Gav ...."


Wanita itu terhenti kala Gavin mulai menghentak halus, Lorenza memalingkan wajah dan menutupi jika dirinya menikmati saat ini. Baru saja hendak mengomel namun Gavin membungkamnya dengan aksi.


Peperangan yang sesungguhnya tengah berlangsung, Lorenza dibuat gila dengan skill Gavin yang diluar ekspetasinya. Sempat berpikir malam pertama mereka akan penuh dengan saling tatap dan bertanya satu sama lain, nyatanya kini Lorenza seakan tengah dibuai sang pemain.


Tubuh Lorenza hendak menegang untuk kesekian kalinya, dan Gavin pada akhirnya merasakan sesuatu akan meledak di bawah sana.

__ADS_1


Hingga Gavin kini mengerang dengan hentakan terakhir dan menyemburkan lahar panas di bagian inti Lorenza. Pria itu ambruk di atas tubuh sang istri dan membenamkan wajah di ceruk Lorenza.


Keringat bercucuran dan deru napas yang berpadu usai keduanya mencapai puncak bersamaan, Lorenza terengah-engah dan untuk memeluk saja dia tak kuasa.


"Anget, Vin."


"Hm? Apanya, Lorenza?" tanya Gavin masih bertahan dengan posisinya karena memang benar-benar lelah.


"Rahimku," jawabnya dengan sisa tenaga yang hampir habis.


Gavin berpindah ke sisi Lorenza, menarik selimut dan menutupi tubuh istrinya. Keduanya saling menatap dengan makna yang tak bisa terucap, ada perasaan yang berbeda ketika mereka selesai menunaikan ibadah pertama dan saling memenuhi kewajiban sebagai pasangan halal dalam ikatan sucinya.


Sebelum kantuk dan lelahnya semakin berkuasa, Gavin menarik Lorenza dalam pelukan dan mengecup wajah istrinya begitu lama. Pelukan seperti ini kerap mereka lakukan walau terkadang besok paginya berdebat dan saling menyalahkan.


"Tidurlah, terima kasih makan malamnya, Lorenza."


Lorenza mendongak dan sedikit terperanjat dengan ucapan Gavin. Setelah dia ingat-ingat suaminya memang belum makan malam. Senyum tipis Gavin membuat hatinya berdegub kencang, Lorenza bertanya dalam batinnya apa benar adalah makna cinta.


"Kenapa nggak ingetin kalau belum makan?"


"Tapi aku sudah kenyang makan kamu, cepat tidur."


Malam panjang pertama yang mereka rasakan, tidur dalam pelukan Gavin dan ini dalam keadaan sama-sama mau. Tidak mungkin besok akan bertengkar kembali seperti sebelumnya.


Ternyata benar, menikah tak sesulit dan serumit yang dipikirkan - Gavin Andreatama


Ternyata benar, perihal cinta ... akan hadir secara nyata jika mau membuka diri dan menerima - Lorenza Wiradhyanata


Bonus Chapter Part Lorenza dan Gavin Usai✨

__ADS_1


__ADS_2