
Pagi menjelang, mata Gavin masih begitu berat. Akan tetapi dia harus bangun cepat mengingat apa yang Ibra katakan tadi malam. Cepat-cepat pria itu ke kamar mandi, memanfaatkan waktu dan berharap rayuannya kali ini bisa menggagalkan rencana Ibra.
Bersih atau tidaknya, dia juga tidak yakin. Yang jelas dia buru-buru. Berperang dengan Ibra memang akan sulit, namun akan makin sulit jika dia tidak berhasil memperjuangkan dirinya.
"Aku tidak mau menikah ... Papa, kenapa tuan muda yang harus aku jaga itu menyebalkan sekali."
Kemarin dia menantang Lorenza, dan ketika dihadapkan dengan keadaan yang memaksa dia untuk benar-benar menikag, Gavin justru ketar ketir.
Tak butuh waktu lama, mandi secepat mungkin dan mengenakan pakaian seadanya. Pria itu keluar dari kamar dengan rambut yang masih sedikit lembab, dia bahkan tidak menyadari jika dunia belum seterang itu.
Beberapa pekerja bahkan baru memulai aktivitasnya, dia bangun kepagian sepertinya. Yang ada di dapur baru Ningsih saja, wanita itu menatap Gavin dengan senyum hangat sembari menggeleng pelan.
"Den Gavin mau kemana? Buru-buru sepertinya ya?"
Senyumnya bukan hanya karena ramah, melainkan Gavin terlalu lucu di matanya. Ningsih ingin mengungkapkan yang sebenarnya tapi takut Gavin tengah dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
"Bi ... ini kan hari minggu, kira-kira dia bangun jam berapa ya?"
Kemungkinan Ibra akan bangun siang memang cukup tinggi. Terutama saat ini pria itu sudah beristri, harusnya Gavin mengerti tanpa harua Ningsih jelaskan sebenarnya.
"Tunggu saja, Den, paling juga nggak lama lagi."
Meski belum begitu lama Ibra dan Kanaya mengisi kekosongan tempat ini, akan tetapi kebiasan baik Kanaya dapat menjelaskan jika memang dia anti bangun siang.
Walau hanya bantu-bantu sedikit, Kanaya biasanya akan ikut terjun ke dapur menyiapkan segala sesuatunya di pagi hari.
"Bangunin, Bi."
"Heeh, kamu aja sana ... berani kan?"
Interaksi mereka memang cukup santai, walau tetap saja Ningsih adalah orang yang menjadi kaki tangan Gavin selama Indira masih menjadi penguasa rumah utama.
Gusarnya Gavin terlihat begitu jelas, dan mata itu kemudian berubah berbinar kala dia melihat sang bidadari milik Ibra menghampiri dengan senyum manis dan wajah cantiknya itu.
"Selamat pagi, Nona ... tuan muda belum bangun?"
Itu ejekan sebenarnya, panggilan yang tak selamanya menunjukkan jika mereka berbeda sejauh itu. Kanaya belum menjawab, seperti biasa yang dia akan berikan lebih dulu hanya tersenyum geli mendengar panggilan keramat itu.
"Belum ... mau aku panggilkan, Gavin?"
__ADS_1
Dia memberikan penawaran, nampaknya pria itu sangat butuh bicara dengan suaminya. Tanpa Gavin berkata dia paham betul kenapa pria itu mencari suaminya.
"Tidak, Nona, saya tunggu saja."
"Ah iya, Gavin ... kalau pakai baju, usahakan jangan buru-buru," tutur Kanaya menatap sekilas kemeja Gavin yang terlihat lucu di matanya.
"Hah?" Dia tidak menyadari sama sekali, hingga pada akhinya dia terkejut sendiri. Astaga!! Matamu kemana, Gavin!! Benar-benar buat malu.
Memilih kembali ke kamar, sepertinya dia harus merapikan lebih dulu penampilannya. Akan sangat lucu jika nanti dia menjadi bahan olokan Ibra lantaran kancing kemejanya yang tak seimbang itu.
-
.
.
Ini saatnya!! Berperang demi masa depan, Kanaya hanya bisa pasrah melihat kedua pria ini. Sudah 20 menit dan Ibra bahkan tidak bisa keluar rumah, Gavin benar-benar batu.
"Lepaskan kakiku, Gavin!! Jangan seperti anak-anak."
"Katakan bahwa Anda tidak akan mendatangi orangtua Lorenza!!"
Persis seorang pria yang memohon di kaki pasangannya, begitulah Gavin saat ini. Dia tidak peduli bagaimana Kanaya melihatnya, yang jelas dia tidak siap jika Ibra benar-benar datang untuk melamar Lorenza.
Sementara Ibra berbeda, mau menangis darah Gavin dia tidak akan peduli. Keputusannya sudah bulat, bahkan tanpa pengetahuan Gavin dia sudah lebih dulu memberitahukan kedatangannya sebagai wali Gavin kepada orangtua Lorenza.
"Gavin lepas," pinta Ibra baik-baik, meski kini sedikit menekan kalimatnya karena untuk pertama kalinya pria yang menjadi kaki tangannya ini persis bayi.
"Tidak akan!!"
Keduanya sama-sama kuat, tubuh Gavin dan Ibra hanya berbeda beberapa centi. Tentu saja akan sulit meski Ibra berusaha memaksanya lepas, belum lagi dia memeluk kaki Ibra kuat-kuat bahkan membuat pria itu kesulitan.
"Gavin kau tidak malu begini?"
"Tidak!! Tolong urungkan niat Anda!"
"Astaga!! Ini hanya sebuah pernikahan, apa yang kau takutkan?" ketus Ibra mulai kehabisan kesabaran.
"Anda jangan memaksakan kehendak ... semua salah paham dan aku tidak melakukan apapun kepada Lorenza."
__ADS_1
Masih berusaha memberikan penjelasan, namun seperti yang dia duga sama sekali Ibra tidak menerima alasan apapun. Terlepas dari dugaaan itu benar atau tidak, Ibra hanya cari kesempatan agar pria yang menemaninya sejak lama itu menjalin hubungan dengan wanita.
"Terserah!! Yang jelas aku harus pergi ... tante Hilmira juga akan datang lusa," ucap Ibra dan membuat Gavin membeku seketika.
Apa tadi? Mamanya bahkan mengetahui hal itu. Habislah sudah, Gavin hanya bisa gigit jari jika sudah begini. Dan dalam waktu sesaat, Ibra mampu melepaskan diri dan kini berlalu usai menarik pelan tangan istrinya.
"Mama?"
"Iya, mau apa kau?"
Gavin yang pintar dan tangkas mendadak hanya terpaku dan bingung hendak bagaimana. Dia bahkan memukul wajahnya sendiri demi memastikan ini bukan mimpi, tak bisa dia percaya kebaikannya justru berujung fitnah.
"Tetap di sini ... atau kau mau ikut?"
Dia menimbang keputusan, jika sudah berada di sana kemungkinan dia masih bisa meluruskan salah paham itu. Walau akhirnya tidak dia ketahui bagaimana nantinya, akan tetapi membersihkan nama adalah hal utama dalam hidup Gavin.
"Gavin? Kau tuli?" sentak Ibra kemudian, tangan Kanaya berusaha menenangkannya namun tak berhasil juga.
"Ikut!!" seru Gavin dan mengambil langkah panjang di depan Ibra.
Baru saja beberapa langkah, Gavin kian ciut kala melihat seorang pria dengan pakaian yang bisa menjawab jika dia bukan orang sembarangan. Jantungnya berdebar luar biasa, Ibra melamar atau mau menikahkan secara langsung, pikir Gavin.
"Dia siapa, Tuan?" Gavin bertanya begitu pelan karena takut pemilik wajah teduh itu akan tersinggung.
"Ustadz Handoko, dia yang akan mendampingi kita ke sana."
Sebagai pengalaman, Ibra tidak mau apa yang dia alami ketika melamar Kanaya terjadi lagi. Dengan membawa tokoh agama yang cukup disegani itu rasanya akan lebih baik dibandingkan dia datang sendiri.
"Tunggu ... ustadz? Maksudnya untuk apa?" Kening Gavin berkerut, dia menatap bingung Ibra dan menuntut penjelasan tentu saja.
"Mendampingi, kau ini boddoh atau kenapa? Kan sudah aku jelaskan!!" desis Ibra berusaha tak emosi karena ada orang lain di sini.
"Dia bukan penghulu kan?" Gavin memastikan, jujur saja dia takut.
"Kalau kau mau, dia juga bisa jadi penghulu." Berlalu begitu saja dan beralih pada pria yang tadi Gavin pertanyakan.
What the fu*ck!! Dia benar-benar sinting ... punya bos kenapa begini
Tbc
__ADS_1