Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 101


__ADS_3

“Jangan dibentak, kau bisa bicara padanya baik-baik bukan?!!”


Melihat perlakuan pria berseragam itu pada Lorenza, Gavin tak terima. Entah kenapa dia naik darah meski tau Lorenza memang salah.


Pria itu baru datang dengan napas yang sedikit terengah-engah. Gavin menatap sekilas wanita yang tengah duduk sembari bersedekap dada.


“Kenapa kau memukulnya?”


Gavin memijat pangkal hidungnya, baru kali ini dia menemukan wanita yang begini. Dalam situasi kebebasan hidupnya terancam, Lorenza masih terlihat santai. Sebagaimana hal yang sudah diduga banyak orang, setelah membuat Olivia dilarikan ke rumah sakit jelas saja dia diseret ke kantor polisi.


“Khilaf,” jawabnya singkat, Lorenza menunduk sembari menautkan jemarinya.


Gavin luar biasa pusingnya, wanita itu juga meminta agar Gavin merahasiakan hal ini dari keluarganya. Dan kali ini, hanya Gavin yang bisa menyelamatkan hidupnya. Pria itu menghela napasnya gusar, mengetahui separah apa Olivia akibat serangannya Gavin benar-benar mengira Lorenza tidak waras.


“Khilaf katamu? Oh my gosh, Lorenza!! Kau tau kita hidup di negara apa?” tanya Gavin menatap Lorenza putus asa, kepala Olivia terluka cukup parah akibat hantaman gelas cukup tebal karena ulahnya.


“Konoha,” jawabnya kesal sembari membuang pandangan sesukanya, dia sedang marah. Demi apapun Lorenza ingin ngamuk saat ini juga.


"Aku tidak bercanda, Lorenza."


"Aku juga tidak bercanda," sahut Lorenza pasrah, dia tidak sedang mencari tawa sebenarnya, sama sekali tidak.


“Dengarkan aku! Kau bisa dipenjara karena ini, paham?” Gavin memejamkan matanya, dadanya bergemuruh dan bahkan kini pria itu memukul angin.


“Aku tidak akan dipenjara jika kau melindungiku,” ujarnya sembari menunduk lemas, sebelumnya Lorenza biasa saja, bahkan saat dia diseretpun dia tidak memperlihatkan jika dia takut. Sebagaimana keyakinan yang dia miliki, dia tidak salah dan sama sekali tidak pantas disebut kriminal.


Gavin terdiam mendengar ucapannya, sesaat kemudian pandangan mereka bertemu kala Lorenza mendongak. Meski sebenarnya mudah saja jika dengan kekuasaan Ibra wanita itu bebas, akan tetapi apa yang dia lakukan memang cukup membahayakan orang lain.

__ADS_1


Beberapa orang di tempat ini mengenal Gavin, mereka berubah dan bahkan memperlakukan Lorenza dengan lembut setelah melihat kedatangan Gavin. Persis seorang pelajar yang merasa aman ketika ada walinya, Lorenza merasa dengan adanya Gavin hidupnya akan baik-baik saja.


Setegar itu tapi jemarinya bergetar dan Gavin menyadari hal itu. Gelagat Lorenza menjelaskan jika ada sebuah ketakutan dibalik wajah sadisnya itu. Di lengan bagian atasnya terdapat luka bekas gigitan, luka tampaknya cukup menyakitkan, pria itu menyentuhnya tanpa sadar dan membuat Lorenza meringis kesakitan.


“Sakit?” tanya Gavin lembut, wanita itu menghela napas pelan karena pertanyaan konyol yang seharusnya tidak perlu Lorenza jawab.


“Lumayan,” jawabnya pasrah sekali, gigitan yang Lorenza dapatkan tak hanya satu, sepertinya lawannya kali ini sepadan dan dia melakukan hal itu pada Olivia bukan tanpa alasan.


Pakaian Lorenza cukup terbuka memang, seperti biasa. Tapi kali ini lebih terbuka lagi. Gavin melepaskan jasnya karena menurut Gavin penampilan Lorenza selalu merusak matanya. Wanita itu menatap Gavin dengan sejuta tanya,


“Ketat, Za … kau terlalu percaya diri dengan tubuhmu ini,” tutur Gavin enteng sekali, pria itu kemudian merogoh ponselnya, panggilan dari Ibra membuat beban di otak Gavin semakin besar saja.


-


.


.


.


Baik Gavin maupun Ibra jelas tak tinggal diam, kejadian ini sudah jelas ancaman. Kepala Gavin rasanya mau pecah, belum lagi Lorenza yang harus dia jaga dan kacaunya situasi di kediaman Ibra juga membuatnya hampir gila.


“Apa? Anda tidak bercanda?”


“Sejak kapan aku suka bercanda, Gavin!! Mereka benar-benar masuk, kau urus mereka aku akan menemui Mama,” tegas Ibra dari balik telepon dan hal itu berhasil membuat jantung Gavin tidak aman sama sekali.


“Lalu bagaimana dengan wanita ini?”

__ADS_1


“Siapa? Lorenza yang kau maksud?” tanya Ibra putus asa, dia lupa jika Gavin juga punya tanggung jawab di sana.


“Saya kesana sekarang.”


Tanpa menjawab lagi, Gavin beranjak dan membuat Lorenza ketar-ketir. Wanita itu spontan menahan kepergian pria itu dengan tatapan sendunya. Dia menggeleng berharap Gavin mengerti jika dia tidak lagi ingin sendiri di tempat ini.


“Nanti aku kembali, hanya sebentar, Lorenza.” Pria itu berkata lembut kali ini, dia mengerti untuk saat ini Lorenza tidak seharusnya diperlakukan kasar seperti biasa.


Menatap kepergian Gavin yang tak bisa dia pertahankan, untuk pertama kalinya Lorenza berharap perlindungan pada seorang laki-laki. Matanya mendelik tak suka kepada orang-orang di sekelilingnya, Lorenza semakin terlihat jelas tampang narapidananya.


Bukannya menyesal, dia merasa kurang menghajar Olivia jika hanya membuat wanita itu masuk UGD. Seharusnya dia masih bisa membuat wanita itu masuk kamar jenazah, jika sudah begini pukulan seperti tadi begitu kecil rasanya.


Pinggangnya terasa pegal, tak pernah terpikirkan di usianya yang menginjak 26 tahun Lorenza berurusan dengan kantor polisi. Jika biasanya wanita itu hanya tegang urat akibat ditilang, kini dia terjebak dalam masalah yang lebih membahayakan.


Drrt Drrt


"Mati aku!!"


Lorenza mengacak rambutnya kasar, sang mama menghubunginya dan dia tidak siap jika harus menjelaskan semuanya. Dia lupa mengingatkan Siska untuk tutup mulut, dan jika Orang tuanya mengetahui hal habis sudah Lorenza.


"I-iya, Ma, kenapa?" sedikit bergetar tapi dia mencoba tegas dan tegar.


"Sarung Papa dimana, Za?"


Lorenza menghela napas pelan, entah ini musibah atau justru anugerah. Sang mama tidak curiga dan tidak mengetahui dimana keberadaannya, tapi yang jadi masalah sarung yang mamanya maksud sudah Lorenza amankan karena ulahnya yang menyetrika terlalu panas hingga sarung itu tak bisa diselamatkan lagi.


"Di kamar Leon, Ma .... iya, kemaren Leon pinjem buat sholat katanya." Menjadikan sang adik sebagai kambing hitam, dia tidak bisa berpikir jernih karena saat ini otaknya tidak baik-baik saja sama sekali.

__ADS_1


To Be Continue


__ADS_2