
Malam ini, mungkin bisa dikatakan sebagai puncak bahagianya beberapa pasangan itu. Syukuran 7 bulan kandungan Adiba, kakak iparnya. Istri kesayangan Abygail dan menantu tercinta keluarga Chandrawyatama.
Pesta yang hampir sama seperti resepsi pernikahan, Kanaya bersama Ibra duduk berdampingan dengan Mikhail yang berada dalam gendongan Ibra. Pipi gembul dan mata bulatnya adalah perpaduan antara Kanaya dan Ibra secara nyata.
"Adududu Ibra lagi gendong uang, nggak mau gantian? Sini sama Mamsky," ujar Siska yang kini sudah terikat cincin pertunangan dari Haikal, setidaknya hilal akad kian dekat.
"Sama Mommy aja, Sayang ... sini, sekalian jodoh kamu juga kangen sama Mikhail."
Belum sempat Siska tersenyum bebas, wanita itu sudah mengacaukannya. Andai saja Lorenza tidak tengah hamil besar, mungkin Siska akan mendorong sekuat tenaga.
"Dih, Mikhail nggak boleh digendong sama Ibu hamil, nanti sawan!!" ujar Siska menepis tangan Lorenza yang sudah berada di ketiak Mikhail, putra Ibra itu hanya menunjukkan reaksi datar dan tidak sedikitpun menolak.
"Dih enak aja sawan, yang nggak boleh itu Mikhail digendong yang belum punya pengalaman kayak Mamsky ... jadi, sama Mommy aja!"
Ya, perkara Mikhail saja mereka berebut, Gavin dan Haikal yang duduk dari kejauhan hanya memandang pasangan masing-masing sembari menggeleng pelan.
"Ya ampun, Lorenza ... duduk diem sekali-kali, mata suami kamu udah kayak mau copot tuh."
Kanaya saja bergidik melihat Gavin, sementara Lorenza santai luar biasa. Kandungan yang juga hampir 7 bulan itu tak membuatnya berkurang semangat, semangat untuk bertengkar lebih tepatnya.
"Santai, dia mana berani marahin istrinya yang gemoy ini." Percaya diri sekali, jika orang lain tertekan dengan berat badannya yang bertambah, Lorenza santai saja.
"Gemoy apanya gemoy? Ini mah gembrot, Za." Lorenza yang menerima kalimat itu tapi Kanaya yang takut sahabatnya akan mengamuk.
"Julit banget sih, ini adalah salah satu bukti nyata ketika seorang wanita berada di tangan yang tepat, iya kan Pak Ibra?"
Ibra mengalihkan pandangan, sungguh istri Gavin memang luar biasa beraninya. Kanaya sudah mendelik dan Ibra was-was jangan sampai salah bicara, istrinya tidak suka dibahas masalah berat badan.
Meski tidak sengembang Lorenza, tetap saja Kanaya termasuk kategori berisi. Dan dia pantang digoda, jika ingin perut aman dan tidak ingin tersakiti dengan cubitan mautnya, maka Ibra harus berhati-hati perihal bicara.
"Gada malunya ni manusia sumpah, aku pergi dulu ya, Nay ... mas Haikal nggak bisa lama katanya." Memilih pamit dan pergi secepatnya, bukan karena dia marah pada Lorenza atau hal lain. Akan tetapi, wanita itu tidak ingin membuat Haikal lama menunggu.
"Nggak jadi gendong Mikhail, Mamsky?" tanya Kanaya dengan sedikit menggoda.
Siska sejenak menatap Mikhail, mata bulat dan wajah menggemaskan yang selalu menciptakan rindu itu sangat sayang jika dia tinggalkan. Siska hanya mengelus pelan pipinya saja, mana berani dia mengecup sementara Mikhail berada dalam pelukan Ibra.
__ADS_1
"Kapan-kapan aja, dah aku pamit semuanya."
"Jodohnya Mikhail nggak dielus juga, Sis?" tanya Lorenza dengan memperlihatkan wajah cemburunya.
"Ogah!! Geli kalau masih didalem, buruan keluarin kalau mau dielus juga."
Lorenza menganga mendengar jawaban Siska, sebuah kalimat yang cukup membuatnya berpikir panjang.
Setelah Siska pergi, Gavin kini menghampiri. Sontak Ibra menghela napasnya pelan, bersyukur sekali asistennya itu datang dan menarik Lorenza ke sisinya.
"Za, pulang ya ... nanti keburu hujan."
Memang sudah mendung, dan Gavin tidak mau jika harus berakhir tidur di kediaman Abygail lagi. Jika Ibra dan Kanaya tak masalah karena memang keluarganya, akan tetapi jika dirinya keadaannya sudah berbeda.
-
.
.
.
Kanaya sama sekali tak memendam dendam pada Khaira, bahkan ketika putra Gibran itu menangis, Kanaya secepat itu menenangkannya kala Gibran kehabisan cara.
"Kalau anak nangis, ditenangin ... bukan dibentak, dia masih bayi, Gibran."
Menepis fakta masa lalunya, mau bagaimana dulu bersama Gibran dia tidak peduli. Dan Ibra tidak pernah marah dengan alasan cemburu buta, apalagi jika itu adalah Gibran, sama sekali tidak.
"Hm, aku tidak pernah urus bayi, Nay."
Jawaban paling tidak masuk akal, padahal jika mau dikatakan demikian Ibra juga sama. Sejak kapan Ibra memiliki panti asuhan, dari mana dia memiliki bakat mengurus bayi, namun pada nyatanya suaminya mampu melakukan semua itu kala menjadi suami dan sosok papa untuk Mikhail.
Membawa Zico dalam gendongannya, Kanaya memilih duduk di sisi sang suami. Ibra hanya tersenyum dan dengan sengaja mengecup kening Kanaya, menunjukkan betapa manisnya dia sudah jadi kebiasaan Ibra.
"Dia lapar, Nay ... kasih susu gih," tutur Ibra serius, matanya melihat sekilas saja sudah bisa menjelaskan jika bayi mungil itu kelaparan.
__ADS_1
"Susu aku?"
"Ya jangan, Kanaya!! Kamu gila atau bagaimana?" Ibra mendelik, sampai matipun yang berhak hanya anak-anaknya saja, Ibra tak ingin masalah itu dianggap sepele. Belajar dari masa lalunya, cukup dia yang merasakan susu dari orang yang bukan ibunya.
"Haha bercanda, Mas ... mudah banget marahnya," ungkap Kanaya seraya terkekeh geli, wajahnya memerah dan merasa merdeka karena berhasil mendapat bentakan Ibra.
"Ya kamu macem-macem, itu kan punya Mikhail ... iya kan, Sayang?" Ibra memeluk tubuh Mikhail yang mulai berisi, menginjak usia 5 bulan memang tengah lucu-lucunya.
"Mas, jangan begitu ... kejepit!!"
"Dia aja nggak marah, julit."
"Dih, sombong! Mentang punya temen, Mikhail juga belain Mama kek sekali-kali." Putranya bahkan belum mengerti perdebatan duniawi, namun kedua orang tuanya sudah membuat kepala Mikhail dipaksa berpikir.
"Kamu mau punya temen juga? Mas siap malam ini kalau mau launching yang perempuan, Nay," ungkap Ibra dengan kedipan mautnya.
"Modus Mas aja itu mah," sergahnya sembari mendaratkan telapak tangan ke wajah tampan suaminya.
Dalam pelukan Daddy
Bobo deket Daddy❣️
🌚 : Lima bulan kok segede itu thor? Ya namanya ngarang, anggap aja ASI Kanaya bergiji!!
Dah Babay semua, see you on July.
Benar-Benar Tamat.
Untuk karya selanjutnya Juli Insya Allah, tepatin di tanggal 01 biar enak ngitungnya. Ikutin kisah Mikhail Abercio nantinya, apakah akan menjadi menantu Lorenza atau Siska? Atau justru sama Kalila, entahlah kita lihat saja nanti. Follow akun author ya bestie, dan untuk karya baru Insya Allah Give Away khusus pembaca setia❣️
FYI : Saat Kanaya melahirkan, kandungan Lorenza baru 2 bulan, begitupun dengan istrinya Abygail❣️
__ADS_1