
Dugaan gila Kanaya menjadi alasan Ibra untuk curi-curi kesempataan dalam kesempitan. Sore itu keduanya justru bergemul dalam selimut pada akhirnya, Kanaya mengelus pelan rambut halus Ibra, tidak salah jika suaminya mandi begitu lama karena memang hasilnya terlihat nyata.
“Mas,” panggilnya memecah keheningan, pria itu tampaknya lelah hingga kini tak bersuara seperti sebelumnya.
“Iya … kenapa?” Ibra membalas tatapan sang istri yang kini begitu lekat, senyum itu membuat Ibra percaya ada hal yang ingin Kanaya sampaikan.
Kanaya ragu sebenarnya, apa yang Abygail sampaikan beberapa saat lalu takutnya justru membuat Ibra tak suka. Meski sebenarnya taka da lagi hal yang menjadi masalah, akan tetapi Ibra tetaplah pria yang tak bisa Kanaya tebak semudah itu.
“Pernikahan mas Aby nggak lama lagi ….”
“Lalu? Kamu kenapa ragu, Nay?” Kanaya tak bisa menutupinya, jujur saja dia masih takut jika Ibra belum berdamai secara nyata.
“Kita kesana ya? Papa yang minta.”
Hanya hal itu dan Kanaya benar-benar ragu, padahal sebelum memberitahukan hal baik itu pada Kanaya, sang kakak sudah mengatakan hal itu lebih dulu kepada Ibra. Anggukan Ibra dengan senyum hangat di wajahnya membuat Kanya lega luar biasa.
Meski hanya berdamai dengan Abygail, bagi Kanaya itu sudah lebih dari cukup. Ibra sudah menempatkan peran yang tepat baik sebagai menantu, ipar dan juga suami. Begitupun dengan Adrian, sesungguhnya Ibra tak lagi mempermasalahkan hal itu, hanya saja Adrian yang belum mencoba membangun komunikasi dengan baik seperti yang Abygail lakukan.
“Kamu merindukan papa?” tanya Ibra kemudian, sejak hari pernikahan mereka sama sekali belum pernah kembali ke rumah orang tua Kanaya. Bukan tanpa alasan, sekalipun mereka mau itu tidak mungkin Ibra lakukan.
“Tentu saja, sama Mama juga.”
Kanaya menatap langit sembari tersenyum getir, di tengah kehamilan dan badannya yang kian membesar sama sekali belum pernah merasakan pelukan Widya. Meski sejak dulu memang sudah begitu, namun saat ini Kanaya memang lebih butuh itu.
“Mama?”
Benar, memang bagi Ibra akan terdengar aneh karena menurut yang dia ketahui yang Kanaya dapatkan dari Widya hanya perihal rasa sakit semata. Akan tetapi, nalurinya sebagai anak yang menuntut kasih masih sama seperti sebelumnya. Tak peduli bagaimana Widya yang lebih memilih Khaira disbanding dia, rasa sayang itu tetap saja ada.
“Hem, Mama … kenapa, Mas?”
__ADS_1
“Enggak, hanya saja Mas heran hati kamu terbuat dari apa, Nay?”
Istrinya memang selembut ini, bahkan tidak sadar jika itu justru membuat dia di posisi yang tersakiti. Beberapa kali yang Ibra rasakan kala berada di sisi Kanaya hanya perihal rasa syukur, hati Kanaya bukan hanya lembut untuk sang mama, melainkan juga dirinya.
Kebohongan, sandiwara dan hal-hal yang Ibra lakukan selalu berakhir dengan kata maaf dan Kanaya luluh tanpa memperpanjang masalahnya. Istrinya tidak bodoh dan bukan juga seseorang tak berpendirian, hanya saja bagi Kanaya, dalam hidup tidak selamanya masalah harus diselesaikan dengan masalah.
-
.
.
.
Malam ini, di ruang kerja Ibra tengah berkutat dengan layar monitornya. Pria itu memang memiliki konsentrasi lebih tinggi jika sendiri dan di tempat sunyi, di tempat ini banyak hal yang dia selesaikan.
Namun sejak beberapa saat lalu, pikirannya justru terfokus pada Olivia. Wanita itu memilih mengakhiri hidup dengan lompat dari lantai paling atas rumah sakit. Sesingkat itu drama kehidupan Olivia, memilih mengakhiri hidup dan kematiannya jelas membuat geger bahkan saluran televisi dipenuhi dengan berita tentang Olivia.
“Bersihkan namaku, Gavin.”
“Tenang saja, Anda tidak perlu khawatir, Tuan … ini bersifat sementara, saat ini Axel dan teman-temannya tengah berusaha mencari keberadaan mereka.”
Mental patungan yang berani datang setelah Olivia sudah tak berdaya dan semakin memperkeruh suasana dengan melibatkan Ibra. Pria itu mengusap kasar wajahnya, hubungannya dengan Abygail baru baik-baik saja. Jika hal ini sampai kepada keluarga Kanaya, akan semakin sulit membuat Ibra diterima.
Sebenarnya dia tidak peduli sekalipun Olivia meninggal dengan cara apapun, sayangnya saat ini dia harus kembali terseret dan bukan main-main. Jika terbukti benar, maka bisa dipastikan Ibra akan mengalami masalah nantinya.
“Bahkan sampai mati kau masih membuatku sakit kepala, Olivia.”
Hidup Ibra memang sudah hancur semenjak sang papa meregang nyawa, tapi belum sehancur ketika kedatangan Olivia dalam hidupnya. Setiap hari yang Ibra dapat hanya masalah, hingga pria itu ketergantungan obat tidur pada akhirnya.
__ADS_1
Tok tok
Ibra menatap ke arah pintu kala mendengar ketukan dari luar, rasa-rasanya tidak mungkin Ningsih datang untuk membawakan minuman untuknya. Baru saja Ibra hendak beranjak untuk membukanya, pintu itu justru terbuka sendiri dengan kehadiran Kanaya yang menatapnya dengan wajah kusut.
“Mas, masih lama ya?” tanya Kanaya memelas, wanita itu sudah mengantuk tapi memang dia tidak bisa tidur tanpa dipeluk.
“Hm … dikit lagi, sabar ya.”
“Mas nggak capek? Dilanjut besok aja kan bisa,” ujar Kanaya yang merasa tak tega karena memang malam ini sudah cukup larut.
“Nggak, kamu ngantuk banget ya?” tanya Ibra kemudian, wajah istrinya memang sangat mengkhawtirkan.
“Hm, lumayan.” Kanaya menjawab malas sembari menguap lebar.
Mau bagaimana lagi, Ibra tidak biasa meninggalkan segala sesuatu yang belum usai. Hanya sedikit lagi dan dia memang menyesali waktu lantaran dihabiskan untuk memikirkan hal yang tidak perlu.
Dia terlalu malas untuk kembali ke kamar, Kanaya meghampiri Ibra dan melihat apa yang tengah suaminya kerjakan saat ini. Rumit sekali dan Kanaya enggan bertanya lebih dan justru membuat Ibra terganggu.
“Tunggu sebentar, jangan berdiri … duduk di sini.”
Karena memang yang dia cari adalah kehangatan Ibra, wanita itu tidak menolak ketika sang suami memintanya duduk di pangkuan. Rasa kantuknya memang sejak tadi sudah menghantui, dan kala menemukan kenyamananya, mata Kanaya sudah terlelap sempurna.
Ibra menarik sudut bibir kala mendengar deru napas Kanaya yang terdengar begitu halus. Semudah itu istrinya tidur padahal dalam posisi duduk di pangkuannya.
Ibra tidak berbohong, memang sebentar lagi selesai dan kini dia hendak beranjak masih dengan Kanaya dalam pelukannya. Tak sedikitpun Ibra berusaha membuat istrinya terjaga, pria itu tetap bertahan dengan posisi istrinya yang persis bayi koala.
“Berat juga ternyata,” ucap Ibra pelan, takut jika nanti pemilik tubuh yang kian sintal ini marah dan tidak terima dia katakan berat.
To Be Continue
__ADS_1
Aarrggh sekelas Mas Ibra aja mau diganggu kerja, buat kalian yang punya doi maen game aja gamau diganggu buang ke laut aja😗