Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 91


__ADS_3

"Langsung saja, jadi intinya apa, Batara?"


Sudah 30 menit, dan Batara terus saja menunda pembicaraannya. Ibra yang sejak tadi sudah resah dan kakinya terus saja bergoyang dapat Gavin lihat secara nyata. Nampaknya benar, Batara hanya meminta Ibra bertemu untuk menyampaikan hal yang tidak jelas.


"Hahah tunggu sebentar, kau ini kaku sekali."


Ibra memasang wajah masam tanpa dia tutup-tutupi. Pria itu memang cukup lumayan untuk dijadikan rekan bisnis, namun sepertinya jika dalam urusan begini Ibra agak jijik rasanya.


"Ck, apa yang sebenarnya ingin kau perlihatkan."


Bosan sekali, sejak tadi Batara mengatakan ada yang ingin dia tunjukkan untuk Ibra. Pria itu mengusap wajahnya kasar dan menghela napas pelan. Sungguh rasanya dia sudah ingin melemparkan gelas itu ke wajah Batara.


"Sebentar, kau tidak akan menyesal."


Senyum itu benar-benar mencurigakan, dan Gavin mulai merasa ini tidak baik-baik saja. Hingga perasaan itu semakin menjadi kala dua wanita dengan pakaian kurang bahan dan satu pria yang Gavin ketahui sebagai asisten Batara datang menghampiri.


"Kau pasti menyukainya," ungkap Batara kemudian, pria yant merupakan asisten pribadinya itu mengeluarkan sebuah kotak kecil yang kemudian dia berikan pada Batara.


Semakin tidak sehat, Gavin tahu dengan jelas apa itu. Ibra menolak ketika Batara hendak memperlihatkannya dengan jelas, benda haram yang menyebabkan candu dan pria itu tentu memiliki maksud tertentu.


"Cuma-cuma, spesial untukmu."


Ibra tidak memberikan respon berlebihan, dia hanya tersenyum miring dengan cara Batara merebut hatinya. Entah terlalu percaya atau itu hanya jebakan semata, Gavin mengambil tindakan tegas sebelum Ibra tergoda benda itu.


"Maaf, Pak ... sepertinya Anda melampaui batas, dan juga perlu saya pertegaskan Pak Ibra tidak pernah mengkonsumsi benda haram itu." Melihat Ibra yang justru terlihat menerima, Gavin luar biasa kesalnya.


"Karena itu aku berikan secara gratis, bukankah hidupmu terlalu hampa tanpa mencoba hal manis seperti ini, Tuan Ibrahim?" Sorot tajam Batara memberikan pertanyaan dengan nada tantangan, pria itu tengah menegaskan jika cara Ibra menikmati hidup masih salah.


"Tawaranmu cukup menarik, tapi sayang sekali aku tidak menyukainya, Tuan Batara."


Ibra menatapnya tak kalah tajam, sepertinya Batara salah mengira. Diamnya Ibra dia kira menerima, pria itu bahkan belum mengetahui kehidupan Ibra seluruhnya akan tetapi sudah bertindak seakan paham segalanya.


"Kenapa? Bukankah aku sudah begitu baik terhadapmu? Setidaknya hargai, bukankah harusnya begitu?" tanya Batara dengan nada datar dan suara dinginnya.


Tidak bisa dia biarkan, sepertinya pria ini benar-benar tidak waras. Gavin dapat melihat tatapan Batara berbeda pada Ibra, tatapan kecewa dan tidak suka karena Ibra dengan jelas menolaknya.


"Maaf sekali, untuk saat ini simpan saja kebaikanmu ... saya undur diri."

__ADS_1


Sudah Ibra katakan janji temu yang Batara berikan itu mencurigakan. Memintanya datang ke apartemen pribadi Batara dan menjanjikan hal manis sedemikian rupa adalah hal yang tidak seharusnya mereka lakukan.


-


.


.


.


Pria itu berlalu begitu saja dan tidak peduli bagaimana Batara terus saja memanggilnya. Lancangnya Batara membuat Ibra kecewa dan penilaiannya pada pria itu semakin buruk saja.


"Sudah kukatakan it's not funny, Gavin!! Kenapa juga kau iyakan?" Ibra memejamkan matanya, memukul angin karena tidak mungkin memukul Gavin.


"Maaf, Tuan ... saya pikir pak Batara akan membahas perihal kerja sama kita yang akan datang."


Gavin tak bisa membela diri, dan juga tidak mungkin membiarkan dia terjebak di posisi salah. Mengikuti langkah panjang Ibra keluar dari tempat itu, bisa dipastikan saat ini ubun-ubun Ibra rasanya sangat panas.


"Tapi Anda hebat, Tuan," ucap Gavin di tengah kemarahan Ibra yang tertahan, wajah yang sejak tadi memerah kini menatap Gavin penuh amarah.


"Hebat apanya? Hampir saja dia menodaiku dengan dua jalangg itu!!" tegas Ibra membuang napas kasar, dia sadar betul apa tujuan Batara sebenarnya.


"Sebelumnya saya khawatir Anda akan tertarik," tutur Gavin jujur, meski Ibra belum pernah menyentuh benda haram itu, akan tetapi tak bisa dipungkiri Ibra bisa saja tergoda, pikir Gavin.


"Kau menganggapku sesinting itu?" kesal Ibra menatap Gavin yang terlihat santai mengucapkan kecurigaannya.


"Hanya khawatir, Tuan, siapa tahu Anda juga ingin mencoba."


Hanya karena Ibra ketergantungan obat tidur, Gavin mengira otak Ibra menginginkan hal lain. Pikiran buruk itu muncul begitu saja lantaran kekhawatiran Gavin pada pria tampan itu.


"Terserah kau saja, cepat masuk."


Ibra memerintahkan Gavin masuk dan dia sudah duduk memegang kemudi. Tampaknya fokusnya benar-benar hilang hingga kesadarannya hilang.


"Tuan, biarkan saya yang mengemudi," tutur Gavin sopan, dan sudah jelas Ibra keluar dengan wajah yang dia tekuk itu.


45 menit benar-benar terbuang sia, Ibra menyia-nyiakan waktu demi memenuhi permintaan bodoh Batara. Gavin melaju dengan kecepatan sedang, Ibra membuka mengacak rambutnya kasar dan meminta Gavin mempercepat laju kendaraannya.

__ADS_1


Sementara di kantor, istrinya justru terjebak dalam cengkaram Gibran yang sejak tadi mengawasinya. Kedatangan Kanaya dia ketahui sejak awal wanita itu masuk bersama Ibra.


"Senang bertemu denganmu, semakin cantik saja ... kamu gendutan, sepertinya bayi dalam kandunganmu tumbuh dengan baik ya," tutur Gibran lembut, tidak ada kekasaran di sana, tapi Kanaya benar-benar merasa takut saat ini.


"Bicara tanpa perlu menggenggam tanganku, bisa, Gibran?" tanya Kanaya dengan sorot tajam yang kini ingin membunuhnya, demi apapun rasanya Kanaya emosi sekali.


"Hahaha masih sama, galak sekali ... baiklah, Mas lepas," ucapnya sembari mengangkat tangan, galaknya Kanaya membuat Gibran berdesir.


"Jaga sikap kamu di sini, jangan cemari jabatan yang susah payah kamu dapatkan dengan jerih payahmu sendiri itu, Mas," ucap Kanaya sarkas, pria itu terdiam sejenak kala mendengar ucapan Kanaya.


"Maksud kamu apa, Naya?"


"Pikir sendiri, menjauhlah selagi aku masih bicara baik-baik."


Kanaya berlalu dengan langkah panjangnya, meninggalkan Gibran yang sejak tadi masih mengekor di belakangnya.


"Naya tunggu, Nay ... Kanaya!!" sentak Gibran kembali menarik kasar pergelangan tangan Kanaya hingga membuat wanita itu berbalik menghadap ke arahnya.


"Kamu maunya apa?!! Hah?!!" Kanaya menghempaskan tangan Gibran kasar, sayangnya pria itu justru paham apa yang akan lakukan Kanaya hingga membuat tenaga wanita itu kalah.


"Dengarkan Mas dulu!!" Sekasar itu, Ibra saja tidak pernah membentaknya. Napas Gibran menggebu dan kepalanya seakan meledak, sejak Kanaya tidak bekerja lagi Gibran merasa sebagian hidupnya ada yang hilang.


"Kamu tu bener-bener nggak ada kapoknya ya? Kamu begini sama aku kurang ajar namanya!!" hardik Kanaya kesal luar biasa, matanya menatap tajam Gibran yang justru menatapnya sesendu itu.


"Hahaha, begitu ya? Istri Direktur ya, makanya jadi sombong begini? Kamu jangan lupa, dulu cuma Mas yang bisa buat kamu senyum, Nay." Gibran tersenyum smirk, sejak tadi dia mencoba mencari celah, dan ketika dia mendapatkannya jelas saja takkan dia lepaskan.


"Terserah!! Lepaskan aku sekarang!!"


"Nggak, Mas nggak akan lepas ... suami kamu dimana? Lihat, dia bahkan meninggalkan istrinya sendirian, kasihan sekali." Bukannya melepaskan, Gibran semakin mengeratkan genggamannya.


"Aaarrgghh!! Kamu mau benar-benar hancur? Kamu tidak malu kalau ada yang melihat tingkah murahan kamu ini?" tanya Kanaya sinis, menatap rendah wajah Gibran dan pria itu hanya tersenyum.


"Tidak perduli, sekalipun aku hancur ... asal bersama kamu, Mas nggak peduli."


Kanaya bergetar, jika sebelumnya dia biasa saja, namun kini perasaannya semakin tak biasa. Tatapan Gibran seperti hendak merencanakan sesuatu, jantungnya tak aman sekali sementara di lorong itu hanya ada mereka berdua.


"Kamu mau apa?" Gibran hanya menatapnya datar, pertanyaan Kanaya seakan angin lalu yang akan Gibran jawab dengan tindakannya

__ADS_1


To Be Continue.


Maaf lama, ga kekejer sore.


__ADS_2