Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 119


__ADS_3

“Aku tidak mau makan.”


Di tempat lain, saat ini Olivia masih tenggelam dalam kesedihannya. Semuanya menghilang, setelah Ibra mendatanginya tidak ada satu orang pun yang menjenguknya. Sekalipun itu sahabatnya, tidak sama sekali.


Hanya sendiri, benar-benar sendiri dan sejak pagi dia terpukul dengan kabar duka yang disampaikan salah satu pekerja di rumah Indira. Kematian sang mama, dan sama sekali Ibra tak mengatakan hal itu padanya.


“Bawa pergi makanan itu!!”


PRANK


Lagi dan lagi Olivia cari perhatian, perawat itu mulai jengah dengan sikap wanita ini yang kian menjadi. Sudah diperlakukan dengan baik namun tetap saja dia semena-mena, sesedih apapun tetap saja perawat itu manusia juga.


“Mama,” lirihnya mengurut dada, sakit sekali kala dia mengetahui fakta jika Indira sudah pergi selamanya.


Langit yang cerah di luar hanya mampu dia tatap, sejuta kesedihan menyelimuti Olivia saat ini. Beberapa kali menghubungi Pedro namun tidak ada jawaban, hendak kemana dia meminta pertolongan saat ini.


Ibra, pria itu benar-benar membuatnya tersiksa. Olivia meraung dalam diamnya, betapa dia dibuat gila dalam waktu yang begitu singkat oleh seseorang yang dia cinta.


Memar di pipinya masih terlihat, Ibra memang tidak main-main. Bahkan jika bisa mungkin pria itu hendak menghabisinya. Dalam keadaan begini yang ada dalam batin Olivia hanya rasa iri terhadap Kanaya.


“Bawa aku, Ma … aku sendiri sekarang.”


Sejak dahulu dia hidup dibalik pundak Indira, semua hanya tentang wanita itu dan jika sudah begini mana mungkin Olivia punya tempat untuk kembali. Rumah utama sudah tentu benar-benar Ibra kuasai bersama sang istri, lalu hendak bagaimana Olivia saat ini, sungguh dia mulai kehilangan akal sehat.


-


.


.


.


Kacaunya Olivia berbanding terbanding terbalik dengan situasi di kantor saat ini, semua terlihat baik-baik saja dan kondusif sekali. Ibra mampu bergerak professional meski kuburan Indira masih merah. Beberapa orang mungkin mempertanyakan bagaimana perasaannya, akan tetapi ada banyak hal yang membuat Ibra mampu bersikap biasa saja seakan tak punya masalah.


“Terima kasih, Lorenza … jika tidak ada kamu, mungkin istri saya sudah celaka.”


Lorenza tengah merasa di puji hingga ke atas awan, Ibra sesopan itu bahkan mengalahkan Gavin yang hanya seorang asisten pribadi sang direktur. Wanita itu mengulas senyum dan mengangguk sopan usai mendapat pujian dari Ibra secara langsung.

__ADS_1


“Sama-sama, Pak, saya hanya melakukan yang seharusnya sebagai teman.”


Gavin memutar bola matanya malas, sungguh wanita itu benar-benar mampu berubah. Dia tidak melihat Lorenza yang dia jumpai tadi malam. Dia sopan dan bahkan sangat-sangat serius terhadap lawan bicaranya, gesturnya pun berbeda.


“Kamu sudah masuk kerja, apa Gavin tidak menyampaikan padamu untuk istirahat lebih dulu?”


Lorenza melirik Gavin seketika, dan wajah menyebalkan itu membuatnya seketika tergelitik dan membuat Gavin terpojok di posisi salah.


“Ah tidak, Pak … tapi tidak masalah, toh saya juga baik-baik saja.”


Gavin menatap tajam wanita di depannya, bisa-bisanya dia kembali menyeret Gavin agar terkena imbasnya. Pria itu kesal bukan main, ingin rasanya dia melemparkan tubuh mungil Lorenza dari lantai 22.


“Gavin? Apa yang kau lakukan?”


“Saya sudah mengatakannya, Tuan … demi Tuhan,” ucap Gavin panik, hal yang paling dia hindari adalah omelan Ibra, jangan sampai pria itu kembali membuat mentalnya acak-acakan.


“Benarkah?”


“Hm, saya permisi sebentar,” pamit Gavin sembari menarik paksa pergelangan tangan Lorenza hingga membuat wanita itu tersoek-soek mengikuti langkahnya.


“Huft, terserah kalian saja.”


Terlalu pusing jika hal semacam itu harus Ibra pikirkan juga. Rasanya, Kanaya lebih penting baginya saat ini.


Lift kini sudah tertutup, sengaja Gavin membawa wanita itu ke sini demi bisa membuatnya jera. Entah apa alasannya hingga Lorenza justru berubah ketika di kantor dan menyatakan hal yang tidak-tidak.


“Apa maksudmu? Sudah jelas aku memintamu istirahat hari ini, Lorenza … salah sendiri kamu masuk kerja,” sentak Gavin naik satu oktaf, mengenal Lorenza membuat karakternya semakin berubah.


“Ups, santai … kenapa semarah itu, pak Ibra saja nggak marah loh.”


“Kau benar-benar mau mati ya sepertinya? Tadi malam aku begitu baik kenapa kau membuatku terlihat jahat hari ini?”


Kesal sekali, rasanya sia-sia Gavin bersikap lembut dan membuang waktunya demi Lorenza tadi malam. Baru kali ini dia dihadapkan dengan wanita aneh yang juga tidak tahu terima kasih.


Wanita itu terdiam, baru dia ingat jika Gavin tadi malam sebaik dan selembut itu memang. Hanya saja tatapan Gavin setelah bertemu dengannya hari ini Lorenza rasa berbeda dan dia kesal saja. Hanya itu alasannya, tidak lebih dan tidak kurang.


Ting

__ADS_1


“Cari lift lain, aku belum selesai,” sentak Gavin membuat wanita yang sudah sabar menunggu di depan lift sejak tadi ketar-ketir. Untuk pertama kalinya Gavin membentak orang yang tidak bersalah sama sekali, hanya karena wanita menyebalkan ini.


“Ehem-ehem.”


“Kita sampai kapan di sini?” tanya Lorenza mulai merasa semakin aneh, apa yang sebenarnya hendak Gavin katakan hingga kini keduanya justru kembali ke lantai 22 dan pembicaraan belum selesai.


“Sampai selesai … kau membuat harga diriku jatuh di hadapan Ibra.”


“Pendendam sekali,” gumam Lorenza dan secara nyata dapat Gavin dengar, sepertinya sudah menjadi kebiasaan Lorenza mengumpat padahal orangnya di depan mata.


“Iya … aku pendendam, jadi jangan harap kau bisa lepas dariku.”


Menakutkan sekali, entah kenapa dia mendadak merinding kala mendengar ucapan Gavin. Tatapannya yang mengintimidasi dan Gavin mengunci tubuh Lorenza agar tak bisa pergi, rasanya menyebalkan sekali.


“Udah deh, anggap yang tadi becanda.”


Tidak ada jawaban dari Gavin, pria itu masih menatapnya dan membuat Lorenza lama-lama risih.


“Permintaan orang tuamu, bagaimana kalau aku coba?”


DEG


Demi apapun dada Lorenza seakan mau perang saja, ucapan Gavin berhasil membuatnya tak karuan kini. Mata yang tadi berani menatap Gavin meski sedikit takut, mendadak ciut dan hanya terfokus pada dada bidang Gavin yang ada di hadapannya.


“Menikahimu, sepertinya menantang.”


“Ap-apa maksudmu? Jangan mengatakan hal yang tidak berguna, Gavin.”


Kelemahan Lorenza memang hanya ini, sebagaimana yang Gavin tangkap jika Lorenza benar-benar lemah tentang asmara. Jemarinya bahkan gemetar dan deru napas Lorenza yang terdengar tak teratur dapat Gavin sadari.


“Aku tidak bercanda … papamu berharap besar padaku, bagaimana kalau kita coba?”


“Apa perdulimu tentang papaku!” sentak Lorenza namun terdengar gugup luar biasa.


“Ingin saja, dan juga aku tertantang membuat wanita ini bertekuk lutut dalam kekuasaanku,” bisik Gavin begitu dekat, bahkan napasnya terasa hangat.


To Be Continue

__ADS_1


__ADS_2