
Hal yang tidak bisa Ibra ubah, mandi dengan waktu yang begitu lama layaknya perempuan. Entah bagaimanapun usahanya, tetap saja demikian.
Kanaya menunggu suaminya dengan sabar di meja makan, semua sudah tersedia dan sebagai istri yang bijaksana dia memahami kebiasaan Ibra itu.
Untuk naik dia terlalu lelah, Kanaya yang memang belum terbiasa harus bolak balik naik tangga memilih untuk duduk sembari Ibra datang.
Dalam kesendiriannya, Kanaya masih memperhatikan rumah semewah ini yang hanya dihuni beberapa kepala. Tidak ada kedamaian di sana dan hanya ada kermurkaan antar sesama.
Beberapa foto yang ada di rumah ini sudah Kanaya jelajahi, dapat dilihat jika orang tuanya memang menjadikan Ibra sebagai peran utama.
Semua terpampang jelas, foto Ibra begitu banyak bahkan Kanaya merasakan perkembangan suaminya sejak kecil. Hatinya tergelitik, manik polos yang lembut itu nampaknya tak Kanaya temukan lagi.
Ibra berprestasi, memang berbanding terbalik dengannya ketika remaja. Kanaya yang memegang prinsip yang penting lulus saja, nampaknya dipertemukan dengan pria yang dituntut sempurna dalam segala hal.
"Nay."
Suara itu membuyarkan lamunan Kanaya, suaminya kini menghampiri dengan rambut yang masib lembab dan tidak dia sisir sama sekali. Cari perhatian, semenjak menikah memang dia kerap membuat dirinya sedikit berbeda dari sebelumnya.
Sebagaimana kewajiban seharusnya, Kanaya mengambilkan makan malamnya. Untung saja tidak minta disuapi, Ibra tidak bisa dikategorikan sebagai suami manja. Akan tetapi, dia juga bukan pria yang mandiri jika tengah bersama isrinya.
"Kamu udah?" tanya Ibra kala menyadari istrinya hanya bertopang dagu menunggu dia menyantap makan malamnya.
Dia hanya mengangguk dengan senyum manis di pipinya. Kanaya sudah makan, walau tak begitu banyak yang jelas Kanaya makan malam.
"Minum susu?" Ibra belum melanjutkan makannya, hal-hal sekecil itu memang menjadi fokus Ibra sebagai suami.
"Udah juga," jawab Kanaya singkat, dihadiahkan seorang Ibra sebagai suami seakan membuat hidupnya benar-benar sempurna.
"Jam berapa makannya?"
Banyak sekali pertanyaan Ibra, memang begitu dan akan selalu begitu. Kanaya bahkan hapal pertanyaan yang akan Ibra lontarkan jika dia meninggalkan Kanaya beberapa waktu.
__ADS_1
Pertanyaan yang terdengar klise, tapi itu seakan menjadi kebutuhan baginya. Ibra tak melepaskan tatapan dari istrinya sembari menunggu istrinya menjawab.
"Kamu makannya kapan kalau nanya terus? Dingin nanti nasinya."
Dia yang menemani Ibra makan malam, namun entah kenapa justru berubah jadi interview, pikir Kanaya tak habis pikir.
Pria itu tertawa sumbang, mendengar gertakan Kanaya yang disertai cubitan kecil di lengannya membuat Ibra merasa geli sekaligus gemas seketika.
Jika biasanya yang terdengar hanya dentingan sendok, semenjak menikah semuanya jadi berbeda. Ada saja hal yang dia utarakan meski itu di meja makan, berusaha menghindari jika pikirannya tengah kacau.
Sebagai suami, Ibra selalu berhasil menyembunyikan apa yang dia rasakan. Kemarahan dan kecewa mampu dia sembunyikan karena tak mau Kanaya ikut-ikutan sakit kepala.
"Mas," panggil Kanaya kemudian setelah beberapa saat terdiam, dan biasanya jika Kanaya sudah memanggil-manggil begini artinya akan ada permintaan yang dia mau.
"Hm, kenapa?"
"Aku boleh, ngomong sesuatu nggak?" Suaranya terdengar amat lembut, Kanaya berhati-hati dalam mengucapkan itu.
"Tadi, aku baca cerita."
"Lalu?"
"Istrinya lagi hamil," tambah Kanaya sengaja terpotong-potong, dia terlihat ragu tapi ingin mengutarakan hal ini.
"Hm, terus kenapa?" tanya Ibra penasaran, dia bahkan mengerutkan dahi dan mempertajam pendengarannya.
"Dia ngidam cerai," tutur Kanaya dengan mata yang tak dapat Ibra defenisikan. Pria itu susah payah menelan salivanya, jangan sampai Kanaya ikut-ikutan.
"Lalu bagaimana?"
"Aku ...."
__ADS_1
"Kanaya stop!! Nggak semua boleh kamu minta dengan mengatasnamakan ngidam, paham? Jangan macam-macam, Nay ... kamu mau Mas gila karena permintaan aneh kamu itu?" Ibra ketar-ketir, memang wanita hamil meresahkan. Mengatasnamakan bayi dalam kandungan dan meminta segala hal bahkan jika bisa mereka menginginkan anak naga.
"Ih!! Aku nggak akan minta cerai juga, Mas!! Cuma bilang doang," ucapnya dengan mata yang mengembun tiba-tiba, perubahan nada bicara Ibra membuat Kanaya merasa suaminya itu marah.
"Maaf ... Mas cuma takut kamu juga ikut-ikutan, Nay." Demi apapun lega sekali rasanya, meski dia harus melihat mata Kanaya yang tampak membasah dan hidungnya kini memerah. Mudah sekali istrinya memperlihatkan kesedihan.
"Aku belum selesai bicara, kamu main bentak-bentak aja," gerutunya dengan bibir yang bisa ditarik, tak pernah dibentak sama sekali membuat Kanaya terkejut. Padahal Ibra tak sekasar itu, hanya saja nada bicaranya naik sedikit dan berbeda dari biasanya.
"Mas nggak bentak, Nay ... kamu salah paham, maaf ya." Dia meminta maaf, tapi hatinya kini tersenyum senang dengan kelakukan istrinya.
Terlalu mudah menyimpulkan segala sesuatu hingga membuat Ibra salah sangka. Sifat buruk Ibra salah satunya adalah ini, spontanitas dan membuat dampak tak baik pada akhirnya.
"Kalau nggak bentak apa namanya? KANAYA STOP!! Apa coba kalau bukan?"
Lagi dan lagi Ibra dibuat terkekeh oleh istrinya yang menirukan gaya bicaranya. Ibra mengacak rambut istrinya hingga tak berbentuk, terlalu gemas hingga rasanya ingin dia menggigit wajah Kanaya karena gemas luar biasa.
"Rawr! Mas makan mau ya?"
Kanaya menepis jemari Ibra yang sengaja menutupi keseluruhan wajahnya tiba-tiba. Tangis yang tadinya hampir tumpah hilang begitu saja, yang ada hanya kekesalan karena Ibra justru menjadikannya mainan.
"Ck, kebiasaan ... kamu kenapa sih, kerasukan mulu."
"Kerasukan siapa, iman Mas tu tebal, Nay, nggak mungkin kerasukan." Percaya siri sekali makhluk ciptaan Tuhan ini, padahal dari semua yang dia alami dalam hidup, bisa dipastikan iman Ibra setipis kulit bawang.
Nama Ibrahim, sang papa memberikan nama itu sebagaimana permintaan Sofia sebelum melahirkan dia. Berharap nama itu akan menjadi doa dan sifat Ibra akan semulia itu.
Tapi, memang terkadang tidak semua hal sesuai dengan harapan. Ibra yang kini tumbuh dewasa, justru berbanding terbalik dari sosok nabi yang Sofia jadikan sebagai doa.
Ibra tak pernah suka jika ada yang memanggilnya sebagai Ibrahim. Beberapa kali mengenalkan diri, dia akan meminta cukup memanggilnya sebagai Ibra, karena adanya Him di akhir membuat punggungnya terasa berat saja.
To Be Continue.
__ADS_1
Sepenggal kisah manis Ibra😘