
Merasakan keluarga sempurna, ya pada akhirnya Kanaya bisa merasakan bagaimana hangatnya pelukan seorang mama. Air mata Widya yang mengalir tiada hentinya, bersamaan dengan kata maaf yang terus saja terlontar dari bibirnya.
Wanita itu tengah menyesali masa lalu, bagaimana dia menyiakan Kanaya dahulu dan seberapa kerasnya perlakuan pada putrinya sendiri. Terlalu banyak kesalahan yang rasanya tidak bisa Widya tebus dengan apapun.
Kelahiran yang dinantikan, cucu pertama laki-laki dari keluarga Chandrawyatama dan merupakan penerus utama keluarga Megantara itu dapat dikatakan sebagai tali pengikat batin mereka.
Abygail dan sang istri, begitupun Adrian dan Widya. Tersisa Khaira dan Gibran yang hingga akhir enggan berhubungan baik. Bahkan dalam aqiqah Mikhail mereka lebih memilih liburan keluar ke pulau dewata dengan alasan ingin mencari suasana baru.
"Mikhail Abercio, nama yang aku sematkan sebagai bentuk doa untuk dia ... Abercio artinya anak pertama dari bahasa Yunani sementara Mikhail dari bahasa Rusia yang artinya Raja," tutur Ibra begitu lembut, tidak ada sedikitpun terlihat jika pria itu bisa marah saat ini.
"Kirain Mikail temennya malaikat Jibril, Pak, maaf deh saya salah menduga." Lorenza berucap segan, malu sekali dia sudah menjelaskan panjang lebar kepada siapapun yang bertanya arti nama Mikhail Abercio itu sejak tadi.
"Hm, tidak masalah ... anggap saja doa agar rezekinya lancar ya, Sayang."
"Dari zaman dia jadi telor juga udah tumpah-tumpah rezekinya Pak Ibra, gimana sih?"
Lagi lagi Ibra terkekeh, kali ini dia bebaskan perkataan Lorenza. Walau terdengar cukup berisik akan tetapi dia maklumi dahulu.
******
Aqiqah putranya telah usai, Ibra tak melepaskan Mikhail sedetikpun. Hanya jika terdesak dan kala putranya butuh Kanaya untuk urusan ASI saja baru dia perbolehkan.
Menginginkan keturunan sejak lama, dan kini Tuhan mengabulkan keinginannya dari wanita yang tepat. Meski Ibra paham cara mereka bertemu salah, sangat-sangat salah. Putranya suci, tidak bernoda dan terkait yang pernah mereka lakukan dulu itu adalah dosanya.
__ADS_1
"Mas, nggak capek?" tanya Kanaya mencoba mendekati suaminya yang tengah duduk di tepian ranjang.
Sejak punya bayi jatah kecupan Kanaya berkurang, dan wanita itu merasakan perbedaannya. Kanaya ingin cemburu tapi jelas saja salah, pikirnya.
"Enggak, kamu kenapa baru masuk, Nay?"
"Nunggu Mama pulang dulu, Mas."
Sebelumnya memang Ibra pamit ke kamar agar putranya tenang dan tidak tertekan dengan teriakan manja Lorenza dan Siska lantaran tak kuasa menahan pesona Mikhail.
"Pulang semua?" tanya Ibra berharap sekali Kanaya akan menjawab iya. Bukan dia tidak suka tamu di rumah, akan tetapi keberadaan Lotenza membuatnya sakit kepala.
"Enggak, Lorenza sama Siska mau tidur di sini katanya."
What? Mata Ibra membeliak. Bagaimana bisa dia merasakan pagi yang tenang jika dua manusia itu justru berada di rumahnya. Tatapan pria itu jelas mengatakan jika dia khawatir akan esok hari, sungguh rasanya Ibra tidak ikhlas Mikhail jadi sasaran bibir Lorenza.
"Temen kamu buat Mas sakit kepala, Nay."
Tanpa dia tutupi sama sekali, Ibra mengatakan dengan jelas jika keberadaan Lorenza dan Siska sangat amat menganggunya. Sejak kepulangan Kanaya dari rumah sakit, Siska sudah menetap di kamar tamu dengan alasan khawatir Kanaya kenapa-kenapa.
"Maaf ya, mereka baik kok, Mas."
Kanaya duduk di samping Ibra, bersandar di bahu bidang Ibra dan mengelus pelan kepala putranya. Tak bisa Kanaya jelaskan perasaan apa ini, rasanya berdebar begitu hebat dan cintanya berjuta kali kian dalam pada dua pria ini.
__ADS_1
Cup
Kecupan berkali-kali Ibra berikan, bibir mungil itu seakan memberika nyawa lebih untuknya. Walau harus bergantian dengan banyak bibir dan Ibra selalu membersihkan wajah putranya setelah menjauh dari orang-orang yang seenak dengkul mengecupnya.
"Ya Tuhan, anakku menggemaskan sekali."
Aroma Mikhail benar-benar candu bagi Ibra, tangannya seakan tak merasakan pegal sedikitpun. Padahal sudah hampir satu jam putranya berada dalam pelukan Ibra.
"Kamu mau?" tanya Ibra kemudian, apa maksud pertanyaannya? Kanaya mengalihkan pandangannya, menghindari tatapan Ibra yang begitu lekat padanya.
"Mas kenapa liatin aku begitu?"
"Mas tanya, Sayang ... mau juga? Malem ini belum dicium kan?" Pria itu menarik sudut bibir, istrinya sudah memerah dan Ibra kembali berada di puncak kemenangan.
"Udah sana, Mas, malu ... tuh dia lihat."
Kanaya mendorong wajah Ibra agar tidak mencuri kesempatan dalam dirinya, dengan mengatasnamakan malu pada Mikhail dia menolak ciuman Ibra.
"Dih nolak, kenapa?" Ibra tertawa sumbang, memiliki dua mainan dalam satu waktu sangat-sangat menyenangkan.
"Kamu kenapa ketawa mulu sih!!"
"Kiss me!!" titah Ibra dengan sedikit memaksa kala Kanaya hendak beranjak.
__ADS_1
Tbc ✨
.