Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 64


__ADS_3

"Kau yakin?"


Gibran mengangguk pasti, dia baru berani mengatakan fakta ini pada Adrian. Selebihnya dia tidak punya nyali karena takut rasa bangga mertua dan kakak iparnya akan semakin menghilang. Posisinya sebagai menantu kebanggaan bisa saja luntur tatkala mereka mengetahui siapa Ibra sebenarnya.


“Sialan, wajar saja dia berani bertingkah.”


Adrian mengepalkan tangannya, fakta ini cukup sulit dia terima dan demi apapun rasanya menyebalkan sekali. Memang sebelumnya dia mengira Ibra bukan orang sembarangan, tapi dia tidak pernah berpikir jika pria itu akan lebih luar biasa dari perkiraannya.


“Lalu, aku harus bagaimana, Mas?” tanya Gibran tampak frustasi, saat ini mungkin Adrian tetap akan memihaknya karena memang Adrian menyayangi Khaira lebih dari Kanaya.


Sayangnya, hal ini tidak berlaku untuk Abygail dan juga Mahatma. Kedua orang itu jelas akan memilih Ibra, belum lagi beberapa hari lalu Gibran mendengar dengan jelas jika dia ingin bicara baik-baik pada Ibra terkait Kanaya.


“Kau hanya perlu diam, Gibran … kau tau kan bagaimana sifat Papa bagaimana? Jika sampai dia tau siapa Ibra, bukan hanya posisimu yang tersingkir tapi aku juga sebagai anak tirinya.” Kecurigaan Adrian terlalu jauh, padahal


Mahatma tidak pernah membedakan mereka sama sekali berdasarkan pencapaian mereka.


“Bagaimana dengan mas Aby? Sepertinya, dia memiliki niat untuk baik-baik bersama Ibra … jika dia tau, maka bisa dipastikan papa juga tau.” Sungguh, Gibran kini bingung luar biasa. Kekuasaan Ibra terlalu besar untuk dia kalahkan, belum lagi semenjak dia dan Khaira sering tertangkap basah cekcok, Abygail kerap malas bicara bersamanya.


“Soal Aby, serahkan saja padaku … aku pastikan mereka tidak akan pernah berdamai setelah ini.” Percaya diri sekali dia, fakta tentang siapa Ibra semakin membuat Adrian membencinya, beberapa waktu lalu dia kehilangan


pekerjaan dan kemungkinan besar itu adalah turut campur Ibra di dalamnya.


Sedikit tenang, setidaknya ada satu orang yang memihaknya. Dan jikadia lihat, nampaknya Adrian tak terpesona sama sekali begitu dia mengatakan siapa Ibra sebenarnya. Berbeda dengan Khaira yang justru ketar-ketir begitu


menyadari dirinya benar-benar kalah sampai di titik akhir.

__ADS_1


Suram di sana, namun di tempat ini malam bagi Kanaya terasa sangat berbeda. Duduk di hadapan Ibra yang dengan setia menantinya makan untuk kedua kalinya, wanita itu fokus sekali dengan makannya.


“Kamu mau?’ Kanaya kurang baik apalagi, bahkan Ibra hanya perlu membuka mulut tanpa mengotori tangannya, akan tetapi pria itu tetap menggeleng lantaran dia kenyang duluan melihat Kanaya makan.


“Kamu aja, Mas nggak suka bebek.” Dia menolak dengan alasan yang tak bohong sepenuhnya, Ibra tidak menyukainya, bentuknya saja membuat dia takut.


“Itik mau?” tawarnya lagi, sedikit bercanda tapi memang Kanaya berusaha agar Ibra mau makan juga.


“Nggak suka juga, Nay … mereka adalah makhluk-makhluk menyebalkan, bentuk dan suara mereka menyeramkan, kamu kenapa bisa suka?” Ibra bergidik, sedikit aneh memang tapi memang ini adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri.


Jika boleh memilih, Ibra lebih bersedia berdiri di kandang srigala daripada harus bersama bebek dan sejenisnya. Hewan berbulu yang justru terlihat lucu namun bagi Ibra tidak sama sekali.


“Ya suka aja, Mas yang aneh … bebek dibilang seram, gimana sih.”


Ibra tertawa sumbang, mungkin sulit untuk Kanaya memahami hal ini. Sebuah rahasia yang tak banyak orang ketahui, Ibrahim Megantara juga memiliki ketakutan terhadap hewan tersebut.


“Ah masa sih dingin? Enggak berasa tuh.”


Ibra lupa, setebal apa jaket yang dia pilihkan untuk istrinya. Bagaimana bisa Kanaya merasakan dingin sementara yang dia pakai bahkan cocok dikenakan di pedalaman sekalipun.


******** - ********


Sembari menanti istrinya terus makan, Ibra merogoh ponselnya yang sejak tadi berdering. Sudah pasti Gavin yang menghubunginya, mengganggu kecan saja, pikir Ibra kesal luar biasa.


“Hm, kenapa?”

__ADS_1


“Anda dimana? Saya perlu menyampaikan kabar penting, Tuan,” ungkap Gavin dari balik telepon dengan suara yang terdengar sedikit panik, pria itu mendadak menajamkan telinganya takut jika dia salah dengar.


“Kenapa memangnya?” tanya Ibra dengan sedikit mendesak, dia sedang tidak ingin panik mala mini, sudah cukup dia merasa tenang pasca tegang urat bersama Kanaya tadi sore.


“Nyonya, saya rasa dia mulai curiga … Ningsih yang mengatakan padaku jika kematian Wedirman sudah dia ketahui, tidak menutup kemungkinan Nyonya akan mencari Anda di perusahaan dalam waktu dekat.” Menjadi Gavin bukan hal mudah, pria itu juga harus memantau perkembangan Indira dengan beberapa kaki tangannya yang bekerja sebagai pelayan di sana.


DEG


Ibra sontak menatap sang istri yang masih menikmati makanannya dengan tenang, bukan masalah Indira menemukannya yang Ibra takutkan, melainkan Kanaya yang ia khawatirkan.


“Kenapa bisa? Sudah aku tekankan kematian pria itu jangan sampai tercium media maupun orang luar, Gavin … kenapa bisa terjadi?” desak Ibra kesal bukan main, dia marah dan benar-benar ingin menghancurkan isi dunia saat ini juga.


“Tuan, untuk menutup seluruh mulut karyawan tidaklah mudah, lagipula jika sampai kita lakukan yang akan terkena imbas dan dicurigai adalah Anda sendiri.” Memang benar apa yang Gavin katakan, memang dia sudah berusaha untuk membuat kematian Wedirman hanya sebagai rahasia perusahaan, selebihnya dia tidak mungkin bisa


memastikan mulut karyawannya akan bungkam. Tentu ada yang bercerita secara tidak langsung, entah itu pada keluarga atau dari pihak manapun dan sangat mungkin sampai ke telinga Indira walau mereka berbeda kota.


“Tetap awasi, lalukan apapun untuk membuatnya tidak bisa menemuiku, Gavin."


“Baik, Tuan … semua sudah saya persiapkan, Jackson dan Axel akan selalu berada di dekat Nona, dan menurut saya Nona sebaiknya jangan bekerja lagi, Larang dia apapun alasannya, saya tidak mau tau, Tuan.” Terlalu mendalami karakter hingga Gavin lupa tak seharusnya dia bicara demikian pada Ibra.


“Kenapa kau yang jadi memerintahku, sialan!!” Hendak marah, tapi Gavin sudah lebih dulu cari aman dan mematikan ponselnya sepihak.


“Mas? Siapa yang sialan?”


"Ah? Tidak, ini telepon salah sambung ... tukang kredit, Nay." Ibra menjawab setenang itu, meski sempat kalang kabut Ibra percaya Gavin bisa diandalkan untuk menghambat pergerakan Indira kedepannya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2