Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BONUS CHAPTER


__ADS_3

Dua puluh hari pernikahan, menjadi istri tak tersentuh meski Lorenza sudah berusaha memancingnya dengan segala cara. Nampaknya ucapan Gavin memang nyata, tiga bulan tanpa menyentuh.


Awalnya dia memang berontak dengan pernikahan paksa yang sang mama rencanakan. Akan tetapi, menjelang tiga minggu tidur di tempat yang sama dan kerap menyaksikan Gavin telanjang dada membuat jiwa Lorenza bergejolak.


Dia agresif? Katakanlah demikian, selama ini dia selalu menjadikan tokoh fiksi sebagai teman khayalnya. Dan kala Tuhan memberikan dengan nyata seorang suami untuknya, jelas saja Lorenza menggelora.


"Apa aku jelek ya?" Lorenza menatap dirinya di cermin, tubuh dan wajahnya cukup menarik.


Lorenza menatap sepasang jambu kristal di dadanya, sembari membayangkan telapak tangan Gavin yang kerap dia kagumi ketika mengemudi. Jemari yang bisa mendefinisikan pemiliknya akan setampan itu.


"Pas kok, kenapa dia nggak tertarik ya."


Jika Kanaya kerap mengungkapkan agresifnya Ibra, rasanya Lorenza bagai istri terbuang dan Gavin nikahi sebatas menutup malu mamanya. Wanita berdebar menatap dirinya, rasanya tidak ada yang kurang dari dirinya.


"Apa dia sukanya cowok juga ya?"


Sedikit banyak Lorenza paham sikap laki-laki. Haikal saja kerap memperlihatkan bagaimana manisnya kepada Siska di hadapannya. Cium bibir saja Gavin tidak inisiatif, apa mungkin bibirnya tidak menggoda, pikir Lorenza.


Ceklek


Kebetulan, pria yang dimaksud kini masuk. Lorenza menatap Gavin dari pantulan cermin tersebut, wajah tampan, rahang tegas dan tidak ada kurangnya bagi Lorenza.


Menatapnya Lorenza berdebar, mungkin karena dia tidak bisa menahan diri dari pesona pria tampan. Masih dia pantau apa yang Gavin lakukan, pria itu tengah membuka kemejanya, dan bagian ini yang paling membuat Lorenza tak kuasa menahan diri.


Perut Gavin membuat jiwa wanita dewasanya aktif seketika, di antara mereka memang Lorenza yang paling gila. Meski dia tidak menjalin hubungan dengan pria manapun, tapi percayalah khayalannya tentang pendamping luar biasa liarnya.


"Kau kenapa?"


"Ehem, ti-tidak."


Cepat-cepat Lorenza mengalihkan pandangan, membuang muka dan malu sekali rasanya ketahuan Gavin dia tengah memandangi suaminya diam-diam. Dengan tatapan penuh tanya Gavin tak melepaskan Lorenza, pria itu menggeleng sembari menghela napas perlahan.


"Bersihkan otakmu, Lorenza!" Gavin melempar kemejanya dan mendarat sempurna di kepala sang istri.


Beberapa kali tertangkap basah, dia menyadari bagaimana cara Lorenza menatapnya. Meski berulang kali Gavin mengabaikan, tapi sebagai pria dewasa dia paham maksud dari tatapan wanita itu.

__ADS_1


"Heh?!! Kamu apa sih, keranjang pakaian kotornya ada ngapain lempar ke kepalaku!!"


Pasangan yang awalnya dikira akan irit bicara nyatanya sebelum melakukan penyatuan di malam pertama seperti pasangan lain mereka sudah segila ini.


"Karena kepalamu isinya kotor semua," jawab Gavin santai, dingin dan datar seperti biasa.


"Berarti kamu kotor dong."


"Maksud kamu?" Gavin mengerutkan dahi, apa yang dimaksud Lorenza saat ini, ingin dia masukkan istrinya itu di mesin cuci.


"Aku mikirin kamu, Mas."


Gavin membeliak, apa tadi panggilannya? Mas? Oh sungguh dia geli luar biasa. Biasa dengan sebutan Gavin semata membuatnya lebih nyaman dipanggil nama.


-


.


.


.


"Maaaas."


"Cukup, Lorenza ... aku geli."


"What? Geli? Heh kamu nggak usah gaya-gayaan bilang geli ya, kemarin malem kamu tidurnya peluk aku sampai pagi," ungkap Lorenza mengikuti langkah Gavin ke kamar mandi, dia tengah cari jalan mati atau bagaimana.


"Itu karena kau yang minta peluk sebelumnya!!" balas Gavin tak mau kalah, petir menggelegar Lorenza jadikan alasan agar berada dalam pelukan Gavin.


"Iya kan karena aku takut, gunanya suami kan emang begitu."


"Jadi? Siapa yang sebenarnya mau? Kau kan, istriku?" tanya Gavin sembari menarik sudut bibirnya, wajah Lorenza masih menjelaskan jika dia enggan mengalah.


"Iiihhhh!! Nyebelin banget sih pulang-pulang ngajak ribut." Lorenza gemas ingin mencubit bibir Gavin yang ternyata tidak sekalem yang dia bayangkan.

__ADS_1


"Kau mau tetap di sini? Aku mau mandi," tutur Gavin enggan menjawab perkataan Lorenza yang sebelumnya, pria itu kini hanya mengenakan underware saja.


"Mandi aja sana, diliat istri ga masalah kan?"


Gavin menghela napas perlahan, istrinya memang pembangkang dan tanpa pikir panjang dia justru tertarik untuk balik menantang.


"Benarkan tidak masalah? Baik, temani aku mandi ... awas kau lari," ancam Gavin dan tanpa basa basi dia melepaskan ****** ******** hingga kini pria itu polos tanpa sehelai benang, terpampang jelas di hadapan Lorenza dan sontak membuat istrinya menjerit luar biasa.


"Aaarrrrgggghh!!! SETAN GAVIN GILA!! MAMA!!"


Lorenza memekik hingga suaranya terasa parau, wajahnya memerah dan memalingkan wajahnya seketika. Hendak kabur namun tidak bisa karena Gavin mencekal tangannya.


"Kenapa? Hm? Katanya mau temani aku mandi, lihat sini Lorenza ... sejak kemarin kau curi-curi pandang kan?" Gavin adalah pria yang pantang ditantang, dan kini Lorenza membuatnya gemas sekaligus ingin menerkamnya saat itu juga.


"Nggak!! Lepaskan aku, maaf!! Nggak lagi-lagi aku begini!!" teriak Lorenza meminta ampunan, namun bukannya tersentuh Gavin memaksa istrinya melihat ke arahnya.


"Buka matanya, kita suami istri kan? Halal, Lorenza."


Sejak kemarin Lorenza mencoba agar Gavin mau, dan ketika Gavin sudah bertindak dia merinding luar biasa. Sudah berusaha menghindar namun pada akhirnya mata itu ternoda juga, Lorenza sejenak terkesima ketika lengah dan Gavin berhasil membuat tatapan Lorenza fokus ke arah Robert, adik kecilnya.


"Ayss sialan!! Mama!!!" Wanita itu bahkan sampai terduduk di lantai karena mencoba melepaskan diri, namun Gavin masih enggan melepaskan tangan istrinya dan posisi ini semakin membuat Gavin merdeka.


"Kenapa panggil Mama? Lihat sini, kau yang menginginkan aku sejak lama kan?" Gavin tertawa serenyah itu, dia bukan pria jahil yang suka bercanda, namun sekalinya mau ya begini.


"Gavin stop, capek!! Lepasin aku," ucapnya mulai lemah, untuk kali pertama dia merasa takut pada suaminya sendiri.


"Oh ya? Belum aku apa-apakan sudah lemah begini? Kita belum perang yang sesungguhnya, Sayang." Gavin tidak sepolos dan sekaku yang Lorenza pikirkan, mungkin selama beberapa waktu dia bisa menahan dan tidak menunjukkan jika dia ingin juga. Akan tetapi lama kelamaan, pria itu tak kuasa jika lawannya seperti Lorenza.


"Haaaaa!! Ampun, Gavin!!"


"Kau kira semudah itu, robertku bangun kau tanggung jawab ya," ujar Gavin masih dengan tawa yang menggema dan membuatnya persis pelaku kejahatan seksssual.


Tbc


Lanjut? Setor hadiah/vote dulu biar yahut✨

__ADS_1


__ADS_2