Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 122


__ADS_3

Bosan, hanya kata itu mungkin yang pas untuk menggambarkan bagaimana dirinya saat ini. Dia merindukan Lorenza, penasaran sekali bagaimana pengalamannya adu mulut dengan pria berseragam coklat muda yang sudah sejak lama menjadi musuh bebuyutan sahabatnya itu.


“Enaknya ngapain ya?” Kanaya mencari cara untuk membuat tubuhnya berkeringat, wanita itu memang bukan kaum rebahan (Seperti Authornya).


Kanaya mondar mandir di kamar tidur yang sudah selebar lapangan futsal itu baginya, menunggu Ibra yang tak pulang-pulang dan tidak ada yang bisa membuat bosannya hilang meski sudah mencoba melakukan ini dan itu. Mengayunkan tangan seraya melangkah pelan menyusuri sudut kamar, dia tengah mengukur berapa meter luar kamar tersebut sepertinya.


“Lama banget, Mas Ibra makin sibuk … kita sering ditinggal,” tutur Kanaya mengusap perutnya, beberapa hari terakhir dia mulai menyukai interaksi bersama calon buah hatinya seperti yang kerap Ibra lakukan.


Hingga dia justru lelah sendiri dan berhenti sembari menatap lemari pakaian Ibra yang paling tinggi di sana. Dia sempat merapikan tapi belum semuanya, rasanya menarik juga jika harus cari keringat dengan cara lama, pikirnya.


“Hiyaaaak!!”


Sulit sekali, kenapa yang sisi paling ujung butuh tenaga sebesar itu, pikir Kanaya sembari mencoba lagi dan lagi. Butuh tenaga ekstra sepertinya. Etah apa yang disimpan Ibra di dalam sana.


Butuh usaha yang lumayan, dan memang benar keringatnya sudah lebih dulu bercucuran sebelum bertempur dengan sesungguhnya. Kanaya bahkan terduduk dan sejenak sulit untuk bangun, andai Ibra melihat ulahnya sudah dipastikan pria itu akan heboh luar biasa.


Tidak ada yang spesial, hanya sebuah sprei putih yang dia lipat asal. Kanaya ragu menyentuhnya, pikiran negatif kini menghampiri, tapi rasanya tidak mungkin jika itu adalah benda yang berkaitan dengan mistis, Ibra tak seprimitif itu.


Dengan jemari lentiknya dia mengambil kain halus dan lembut itu hati-hati, takut saja jika di dalamnya justru terdapat hal-hal yang menjijikkan di sana. Bahkan karena curiganya, Kanaya menahan napas dan menggigit bibir bawahnya.


Membukanya dengan pelan-pelan, seakan yang ia sentuh memiliki perasaan. Tunggu, sepertinya dia ingat benda ini, Kanaya familiar dan berpikir pernah melihatnya sebelumnya.


“What? Oh My Gosh, Ibra!!”


Mata Kanaya membulat sempurna, seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat. Wanita itu berdesir sekaligus kala sprei putih itu terbuka dan memperlihatkan noda di sana. Dia sendiri tapi malunya luar biasa, wajahnya memerah dan cepat-cepat mengembalikan benda keramat itu ke tempatnya.


“Dia beneran nggak waras apa gimana?”


Demi apapun dia bergidik sendiri, bayangan kelam tentang malam panjang itu menghantui pikiran Kanaya. Berulang kali dia mengusap kasar wajahnya, sejak lama Ibra membawa sprei yang dia yakini seratus persen adalah saksi bisu percintaan panas mereka.


“Tunggu, apa jangan-jangan mas Ibra punya kelainan?”


Pikirannya kian menjalar kemana-mana, berpikir bahwa Ibra mengidap kelianan seksuall kini muncul begitu saja. Tapi jika memang itu adalah fetish, harusnya Ibra akan memperlihatkan tanda lainnya selama pernikahan, pikir Kanaya terkadang bisa berpikir jika dirinya memang waras.

__ADS_1


-


.


.


“Nggak mungkin, mas Ibra normal … tenang, Kanaya! Berhenti berpikir macam-macam,” tegasnya pada diri sendiri, saat ini diri Kanaya seakan terpisah, hati kecilnya menyeruak kecurigaan yang justru bertentangan dengan logikanya.


Dia gusar sendiri, seumur hidup baru kali ini dia menemukan orang sesinting Ibra. Bisa-bisanya kain halus persegi empat itu dia bawa pulang dan dengan sengaja menyimpannya dalam keadaan ternoda.


“Aku harus cari tau sendiri.”


Meski otaknya berusaha normal, namun Kanaya tidak bisa puas dengan kesimpulan dalam dirinya. Wanita itu meraih ponselnya dan mencari berbagai artikel terkait penyimpangan seksuall yang mungkin saja cocok dengan suaminya.


Macam-macam fetish


Obsesi terhadap selaput darah


Cinta satu malam secandu apa


Manfaat menyimpan bercak darah setelah bercinta


Ciri-ciri pria dengan kelainan seksuall


Contoh fetish paling gila di abab ini


Bagaimana menyadarkan suami yang memiliki kelainan seksuall


Jemarinya lincah sekali bukan, entah apa yang dia yakini saat ini, yang jelas dia sekhawatir itu jika Ibra tidak normal karena sesuatu. Wanita itu sudah lebih dari gila, siang yang bosan kini tergantikan dengan suasana penuh ketegangan, Kanaya seakan jadi detektif sehari dengan menyimpulkan sesuai keyakinannya semata.


“Ah sudahlah, selagi dia tidak macam-macam kenapa aku takut.”


Kanaya meleparkan ponselnya asal, terlalu lama semakin membuatnya menjadi. Wanita itu mengibas-ngibaskan tangan, wajahnya terasa panas dan anggap saja Kanaya tengah salah tingkah mode on.

__ADS_1


Hingga deru mobil terdengar dan dia berlari menuju balkon demi memastikan suaminya benar-benar pulang atau tidak. Jika biasanya Kanaya akan menyambut dengan senyum penuh kebahagiaan, kini dia berbeda.


Ibra sempurna, tubuhnya benar-benar idaman Kanaya sejak remaja. Sejenak wanita itu kembali mengagumi suaminya. Sepertinya dia diantar Gavin, terlihat jelas pria itu membicarakan sesuatu lebih dulu sembari berdiri di samping mobil.


Cepat-cepat Kanaya berlari, turun meniti anak tangga dengan langkah cepat dan sama sekali tidak hati-hati. Jika saja Ibra melihatnya, bisa dipastikan Kanaya akan dia amuk hingga esok hari. Membuka pintu yang cukup berat baginya dan berlari menghampiri Ibra hingga pria itu menatap heran kenapa istrinya datang dengan tatapan permusuhan.


“Hai, Sayang … kamu kenapa?”


Tidak menjawab sama sekali tapi Kanaya menarik tangannya kuat-kuat. Ibra yang menatapnya penuh tanya terpaksa mengikuti kemana langkah Kanaya dengan perasaan was-was dan dada bergemuruh karena khawatir akan sesuatu.


“Ada apa, Nay? Jangan buat Mas panik, Sayang.”


Demi apapun Kanaya siang ini membuat Ibra bingung, dia baru saja pulang dan mendapati istrinya sudah begini jelas saja bingung. Tak punya pilihan lain, Ibra tetap menuruti langkah istrinya dan kini mereka berdiri di depan lemari pakaiannya.


“Kenapa? Mau ganti?” tanya Ibra bingung, dia merasa tidak ada yang salah sama sekali.


“Kamu nyimpen apa di sini?” Bukannya menjawab Kanaya justru kembali bertanya, tatapan tajam istrinya membuat Ibra takut sebenarnya.


“Nyimpen apa? Maksud kamu apa, Nay?”


Masih bersikap lembut karena dia paham Kanaya anti dengan nada tinggi, Ibra terbiasa selembut itu pada Kanaya walau dirinya selalu membentak jika di luar sana.


Hingga Ibra menganga dan terpaku kala Kanaya dengan kasarnya mengeluarkan benda yang sejak dulu Ibra sembunyikan sebaik mungkin.


“Itu … maksudnya apa?”


“Oh, itu ... kenapa memangnya?” tanya Ibra santai saja, memungut sprei yang tadi Kanaya ambil sembarang sembari tersenyum tipis seperti biasa.


“Aku tanya tu dijawab, Mas … bukannya balik tanya.” Kanaya menghela napas pelan, Ibra yang senyam-senyum membuatnya semakin takut.


“Kamu inget kan ini apa? Bohong banget kalau nggak inget.” Ibra yakin serratus persen Kanaya sadar apa yang ditemukannya.


“Ehm, ya maksudnya buat apa disimpen … kamu punya fetish pasti, iya kan?” tanya Kanaya frontal, Ibra yang tadinya tersenyum mendadak menatap istrinya sekaku itu.

__ADS_1


“Astaga, Kanaya! Sini Mas buat sadar otakmu ini.” Ibra mengguncang pelan kepala Kanaya sembari tertawa sumbang, dia tidak marah dengan tuduhan istrinya terkait kelainan seksuall dalam dirinya. Wanita itu belum memahami saja betapa dalamnya Ibra menjatuhkan cinta sejak malam itu pada Kanaya.


To Be Continue


__ADS_2