Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 96


__ADS_3

Kecewa, marah dan duka akan selalu ada. Namun, bukan berarti kehidupan hanya tentang luka. Hidup akan selalu berputar, begitupun yang Kanaya rasakan saat ini.


Detik ini, wanita itu merasa bagai wanita paling istimewa di muka bumi. Tangan Ibra mennggenggam erat jemarinya, mereka ingin menenangkan batinnya sesaat.


Liburan dadakan yang Ibra harus berikan karena fajar Kanaya tiba-tiba terbangun dan merengek ingin melihat matahari terbenam di pinggir pantai.


Entah karena mereka menikah dadakan, dan berawal dari hubungan cinta yang juga mendadak hingga Kanaya selalu mengutarakan keinginannya dadakan juga.


"Ikhlas nggak sih, Mas? Nggak ikhlas kita pulang nih," gerutunya tiba-tiba saja, padahal sejak tadi Ibra hanya diam.


Mereka sudah di bandara saat ini, Kanaya yang sudah tidak sabar mendesak suaminya harus pergi hari itu juga karena dia berpendapat jika terlalu lama ditunda maka warna senja dan matahari yang dia inginkan akan berbeda.


"Ikhlas, Kanaya ... lihat Mas senyum, hm."


Hanya karena Ibra memasang wajah datar sebentar usai membaca pesan yang dikirim Gavin, istrinya justru salah paham. Mood Kanaya memang serandom itu.


Demi istrinya Ibra rela harus memantau semuanya dari jauh, ini bukan waktunya liburan tapi Ibra tetap memberikan waktu agar keinginan istrinya bisa terpenuhi.


Sebagaimana dia yang marah semudah membalikkan telapak tangan, begitu juga dengan senyumnya. Kanaya memasang senyum lebar dengan menampilkan gigi rapihnya.


"Kamu nggak dingin baju begitu?" tanya Ibra memastikan, blous tipis warna mocha itu membuatnya ragu.


"Enggak, memangnya Mas kedinginan?" Kanaya balik bertanya, karena memang Ibra menggunakan hodie tebal dengan topi hitam yang membuat penampilannya semakin menarik mata.


Ibra menggeleng, senyumnya begitu hangat meski sempat Kanaya semprot beberapa saat lalu. 29 tahun dia hidup baru kali ini Ibra benar-benar berada di posisi mengalah demi seorang wanita.


"Bibir kamu pucat banget, sakit ya?"


Baru dia sadari bibir Ibra tampak pucat dan dia mengeluarkan lip balm dari tas kecilnya. Ibra yang melihat gelagat istrinya panik tentu saja, dia tidak pernah menggunakan benda itu.


Ibra takut Kanaya akan membuatnya terlihat lucu di mata orang-orang yang melihat mereka. "Kamu mau apa?" Ibra mengerutkan dahi, dia sedikit menjauh ketika jemari Kanaya hendak menyentuh bibirnya.


"Bibir kamu pucat banget, Mas, mana kering lagi."


Tetap saja Ibra enggan, dia yang biasanya hanya melembabkan bibir dengan hanya menjilatt bibirnya sendiri mana mau mengikuti cara cantik Kanaya.


Cup

__ADS_1


"Masih pucat?"


Mata Kanaya membulat sempurna, wanita itu terkejut dengan ulah Ibra yang tiba-tiba meriah tengkuk lehernya dan mencuri kesempatan di saat-saat begini.


Dengan melakukan itu dia berpikir bibir pucat yang Kanaya maksudkan dapat teratasi. Pria itu tersenyum senang usai berhasil mencuri kesempatan. Memang benar-benar sinting, pikir Kanaya kesal.


"Kamu tu ya, ini rame, Mas," desis Kanaya mendelik, Ibra yang begini terkadang membuatnya pusing sendiri.


"Terserah, hak asasi."


Jawaban yang memang tidak salah tapi tidak juga dapat dibenarkan. Kanaya menggeleng tapi hendak marah juga percuma. Wanita itu tetap mengoleskan lip balm yang sudah dia oleskan di ujung jarinya.


Hanya melembabkan dan tidak berwarna sebenarnya, Ibra saja yang lebay dan menganggap itu sebagai hal yang membuatnya menyerupai wanita.


"Enggak, udah nggak kering, Nay," tolak Ibra lembut, menggeleng pelan dan benar-benar memberikan penolakan.


"Masih, Mas ... ih diem apa susahnya sih."


Perkara hal itu saja mereka berdebat bahkan adu kekuatan, Ibra yang anti dengan hal begituan harus terpaksa menerima ketika Kanaya memaksanya dan menuntut dia harus diam.


-


.


.


"Kenapa aku yang harus ikut pusing? Aku sibuk!" cetus Lorenza enggan menenani Gavin memastikan tempat baru untuk pabrik baru mereka di kota lain.


"Tolong Lorenza, kau tidak tertarik dengan tawaranku?"


Memang menarik, gajinya 2 kali lipat dan bahkan Gavin tak tanggung-tanggung menjanjikan Lorenza naik jabatan.


"Tidak, aku sibuk dan maaf sekali kau pergi saja sendiri sana."


Berlalu pergi dan untuk pertama kalinya ada wanita yang berani mengabaikannya. Gavin tak terima, pria itu menarik pergelangan tangan Lorenza dan membuat wanita itu hampir saja terbentur ke dadanya.


"Aaarrrgghh!! Sakit!! Bisakah kau biasa saja? Aku manusia loh."

__ADS_1


Yang mengatakan dia kuda siapa, semua orang juga mengerti bahwa Lorenza adalah manusia. Gavin melepaskan wanita itu segera, senyumnya terlihat kaku dan kali ini memang Gavin harus berusaha mengambil hati Lorenza dengan baik-baik.


"Maaf, aku tidak menyangka akan sekuat itu," ucap Gavin terlihat menyesal, sulit sekali merayunya, entah karena tragedi marah-marah Gavin atau memang suasana hati Lorenza yang kini marah besar pada Gavin.


"Aku sibuk sekali, jangan membuatku semakin pusing."


"Ck, ini perintah Ibra ... kau mampu menolaknya?" tanya Gavin menggunakan cara terakhir, sebenarnya tidak ada perintah begitu, hanya dia saja yang cari alasan dan membuat Lorenza tak mampu menolak.


Lorenza menghentikan langkahnya, dia terpejam dan kini menatap kesal pada Gavin. Pria itu sepertinya tidak tahu diri dan tidak sadar kesalahan, setelah dua kali pria itu marah besar pada Lorenza lantaran membuat Kanaya terjebak masalah, kini dia datang dan memohon ditemani dengan alasan tidak biasa pergi sendiri.


"Jam berapa?" Pada akhirnya Lorenza menyerah, pria ini sepertinya tahu cara membuat Lorenza bertekuk lutut.


Untuk pertama kalinya Gavin tersenyum seikhlas itu pada Lorenza. Wanita itu bahkan hampir saja kembali terpesona dengan senyuman itu, namun secepat mungkin dia tepis mengingat Gavin berkali-kali marah padahal Ibra saja santai.


"Sekarang, ayo cepat, kau tidak suka panas kan?"


"Hah?" Lorenza membeliak, dia pikir masih beberapa hari lagi. Nyatanya detik ini juga, karena terlanjur menerima dia tidak bisa menolak lagi.


"Ck, cepat Lorenza! Hah hoh hah hoh, bagaimana mau naik jabatan kalau cara kerjamu begini."


Benar-benar menyebalkan, baru saja Lorenza rela dirinya untuk menemani Gavin. Dan sekarang kembali Gavin mengucapkan kalimat yang membuat Lorenza tampak bodoh di matanya.


"Tidak jadi saja," ucap Lorenza tiba-tiba dan membuat Gavin panik, dia lupa harusnya jangan sekarang jika hendak membuat Lorenza terpojok.


"Aku bercanda, jangan dibawa serius ... mengerti?"


Tidak, senyum itu kenapa seakan mengalihkan dunianya. Jangan sekarang, kenapa harus Gavin menarik sudut bibir saat ini. Mau gila rasanya Lorenza.


"Ah iya, rokmu sepertinya sempit sekali ... ganti celana tidak keberatan kan?"


Apalagi ini, kenapa juga Gavin tiba-tiba mengaturnya. Sebagai wanita yang selalu mempedulikan penampilan jelas saja dia keberatan.


"No! Pakaian hari ini sudah aku siapkan sejak kemarin, jadi jangan memintaku menggantinya, paham pak Gavin!" tegas Lorenza sembari memberikan senyum yang tak kalah mempesona.


"Itu terlalu seksi, kau mau pahamu dua warna?" Frontal sekali bukan, memang rok Lorenza di atas lutut dan itu membuat pandangan Gavin sedikit terganggu.


To Be Continue

__ADS_1


Unch yang baca pada kemana nih hmm😗


__ADS_2