
"Sebelum pernikahan kita, Mas pernah menikahi wanita pilihan Mama, dan .... maafkan aku, Kanaya." Ibra menghentikan ucapannya, kenapa sesulit ini menjelaskannya.
"Mas, bercanda kan ya?" Tiada kalimat paling sakit yang pernah Kanaya dengar selain ini. Bagai bongkahan batu besar mendarat di dadanya, Kanaya benar-benar sesakit itu.
Ibra menggeleng, dia bukan bercanda. Pengakuannya nyata dan dalam waktu yang sama Kanaya tak kuasa menahan butiran kristal beningnya. Dia menangis bahkan tanpa suara, beberapa kali dia memukul dadanya demi memastikan ini semua tidaklah nyata.
PLAK
Untuk pertama kalinya, tangan Kanaya lepas kendali dan mendaratkan tamparan cukup keras di wajah Ibra. Pedas dan panas berpadu menjadi satu, pukulan pertama yang Ibra dapatkan dari seorang wanita.
"Ka-kamu bo-hong lagi, Mas? Haah?!" tanya Kanaya dengan suara yang bahkan terputus-putus, Ibra menahan tangannya, dia belum selesai bicara tapi Kanaya sudah sehisteris ini.
"Naya, dengarkan Mas dulu ... itu hanya masa lalu, dan Mas sudah bercerai sejak tiga tahun lalu." Ibra berusaha untuk tidak ikut menangis, meski saat ini batinnya luar biasa teriris.
"Kenapa kamu tidak bilang dari awal?!! Apa sesulit itu untuk bicara dan buka jati diri untuk aku? Aku siapa bagi kamu sebenarnya? Semurah itu aku di matamu sampai benar-benar berpikir aku sebodoh itu?"
"Naya!! Mas tidak pernah berniat membodohi kamu dengan sengaja!! Dia hanya masa lalu dan Mas anggap tidak penting dan tidak perlu kamu tau, tolonglah, Sayang ... pahami Mas kali ini saja," pinta Ibra dengan napas menggebu, jika sudah begini salah paham yang benar-benar dia takuti nyatanya terjadi. Kanaya marah, dan bahkan disentuh Ibra saja dia sudah enggan.
Kanaya kehilangan kata-kata, sekalipun itu mantan istri entah kenapa batinnya sakit sekali. Yang membuat Kanaya sakit bukan status Ibra, tapi kebohongan Ibra. Ibra yang menutup diri, Ibra yang tidak terbuka dan Ibra pengekang adalah hal tersakit jika dia ingat.
"Jangan tinggalkan Mas, Kanaya!!"
__ADS_1
Dia belum melangkah, Kanaya hanya hendak beranjak dan Ibra setakut itu istrinya pergi meninggalkannya. Ibra mencengkram pergelangan tangan Kanaya, pria itu kembali menarik Kanaya dalam pelukannya.
"Hal yang Mas takutkan ketika jujur, kamu akan begini ... kamu hanya milikku, Nay, langkahmu hanya atas izinku."
Suara Ibra terdengar serak, pelukan itu sungguh erat. Dengan posisi duduk, Kanaya bahkan merasakan tubuhnya terjepit padahal Ibra tidak menimpanya.
Tangis Kanaya belum berhenti, dia masih tersedu dalam pelukan Ibra yang sekuat itu. Mungkin jika bayinya dalam kandungannya bisa berteriak, sepertinya sudah sejak tadi dia minta lepaskan.
"Lepas, Mas," pinta Kanaya mencoba merenggangkan pelukan Ibra, namun sialnya pria itu enggan melakukannya.
"Kalau Mas lepas, kamu akan lari kan?" tanya Ibra dengan suara lemahnya, persis anak balita yang takut ditinggal ibunya bekerja, begitulah Ibra saat ini.
Ibra menyambunyikan wajahnya di dada Kanaya, sedikitpun dia tidak merestui kepergian istrinya. Pria itu terdiam beberapa saat, bersamaan dengan Kanaya yang mengatur napasnya kala air mata itu tangis itu mulai mereda.
"Maafkan Mas, Kanaya ... kamu ingat janji kamu kan?"
Sudah terlanjur Kanaya berjanji, tapi kenapa dia justru menyesal setelah mengucapkan janji itu pada Ibra. Dia terdiam, tidak menjawab hanya menatap.
"Karena ini, alasan kamu tidak mempertemukan aku bersama mama?" tanya Kanaya kini membuang pandangan dari Ibra, perlahan dia mengerti kenapa Ibra begitu sigap mencari tempat yang begitu asing bahkan tidak ada tetangga yang mengenal Ibra sebelumnya.
Pria itu mengangguk, matanya masih berkaca-kaca dan usai mengutarakan pengakuan ini, Ibra merasa rasa bersalahnya berkurang meski ia tahu kedepannya tak pernah bisa dia tebak.
__ADS_1
"Mama tidak akan terima kamu, Sayang ... karena obsesi Mama adalah menjadikan Olivia sebagai istriku," ungkap Ibra mulai sedikit tenang, terutama kala Kanaya menyeka air matanya dengan lembut.
Hal membingungkan, Kanaya sebenarnya marah atau tidak, Ibra membatin namun tak dapat dipungkiri dia bahagia detik ini.
"Olivia, namanya cantik." Kanaya berucap asal, dan Ibra tak suka ketika Kanaya justru memujinya.
"Mas terpaksa menerima permintaan Mama empat tahun, meski dengan syarat aku menikahinya secara sirri dan menjatuhkan talak di tahun pertama pernikahan ... dia bukan istriku lagi, Nay, itu yang perlu kamu garis bawahi."
Kanaya tak melepaskan tatapan lekatnya pada manik Ibra yang kini membasah, tidak ada celah kebohongan di sana. Itu memang masa lalu Ibra, sebagaimana dia yang juga punya masa lalu, tapi Ibra yang menyembunyikan hal itu dari Ibra membuat Kanaya kecewa.
Ibra mengatakan semuanya dengan jelas, tanpa ditutupi dan memang itu yang terjadi. Olivia dia talak sejak pernikahan mereka memasuki tahun pertama, Olivia saja yang menganggap pernikahannya selama 4 tahun itu masih terjaga. Ibra pernah mencoba mencintai Olivia, sayangnya terlalu munafik jika dia bisa. Menyentuhnya saja dia enggan, apalagi cinta.
"Mas ... punya anak dari pernikahan itu?" tanya Kanaya kemudian, tiba-tiba saja pertanyaan itu terlontar dari spontan.
"Demi Tuhan tidak, Kanaya ... Mas menyentuhnya saja tidak pernah, hal semacam itu tidak akan pernah terjadi. Anakku hanya dia, anak kita yang kini ada di dalam rahim kamu," jelas Ibra seraya menyentuh perut Kanaya, sengaja dia menyingkap sedikit baju Kanaya demi bisa menyentuh perut sang istri secara langsung.
Tbc
Liat komentar pada gemes dia nggak jujur dari awal. Terkhusus yang minta konfliknya jangan berat-berat karena hidupnya udah berat, aku minta maaf ya. Ini dia udah jujur terus gimana menurut bunda-bunda konflik yang buat jantung rada aman. Aduh, ini Kanaya kudu ottoke😠Dia jelasin ke Kanaya tapi akunya yang luluh.
Kasih pelajaran nggak nih si Ibrahim, nggak tega tapi di jahara. Wkwkwk🤣 Seketika mau jadi Kanaya.
__ADS_1