
“Kamu keterlaluan tau nggak!”
Sejak pertemuan itu, Lorenza dan Siska masih memperdebatkan hal yang sama. Ada rasa tak tega dan bahkan Lorenza berniat mengejarnya. Tapi, kehadiran Axel yang tiba-tiba membuatnya berhenti dan dia yakin pria itu ada di sana atas perintah Ibra.
“Bagian mananya aku keterlaluan? Aku hanya tidak bisa terima dia sebodoh itu, Lorenza.”
Siska meneguk habis minuman di gelasnya, pulang dengan keadaan yang sama-sama tersulut emosi dan kini tiba di apartemen Siska pun mereka masih saja mempermasalahkan hal yang sama.
“Dan kamu tau siapa yang tadi menghalangi aku waktu ngejer Kanaya?” tanya Lorenza dengan nada yang sedikit mengandung ancaman.
“Siapa?”
“Dia Axel … bodyguard Kanaya yang ditugaskan menjaga Kanaya, dan kamu pikir perkataan kamu tadi aman-aman saja? Kamu lupa cerita Kanaya bagaimana suaminya kalau marah?”
Siska terdiam, sungguh dia tak pernah menyangka jika hal ini akan terjadi. Sama sekali dia tidak berpikir Ibra akan melakukan hal sedetail itu terkait hidup Kanaya. Tidak bisa dipungkiri, dia panik meski kini berusaha terlihat biasa saja di hadapan Lorenza. Tapi percayalah, wanita itu tiba-tiba tenggorokannya kembali kering kerontang.
“Lalu kamu sendiri gimana?” tanya Siska balik menatap Lorenza, pembicaraan itu dimulai oleh Lorenza dan bukan tidak mungkin wanita itu juga akan kena imbasnya.
“Kalau tadi kamu nggak bentak-bentak Kanaya, kita nggak bakal begini … niatku cuma mau kasih tau Kanaya, bukan mau nyalahin dia.”
Lorenza kehabisan kata-kata, memang seharusnya hal itu tidak dia katakan. Pada nyatanya mengikuti perintah Gavin tak seburuk yang dia kira. Nasi sudah menjadi bubur, Lorenza tak bisa berbuat apa-apa. Saat ini, dia memikirkan bagaimana dengan pekerjaannya nanti.
“Kamu nyalahin aku?” Siska tak terima dengan pernyataan Lorenza yang sejak tadi selalu memojokkan dirinya, padahal menurutnya yang salah di sini adalah wanita itu sendiri.
Mereka kian memanas, Lorenza yang berharap dengan dia mengikuti langkah Siska pulang nyatanya tak menemukan titik terang. Wanita itu enggan minta maaf dan menganggap semua ucapan dia tidak ada yang salah.
Sudah menjelang malam, namun Lorenza belum juga bergerak untuk kembali ke tempat tinggalnya. Entah kenapa dia merasa tidak aman jika pulang, belum lagi Gavin yang sudah mengetahui alamatnya.
“Pulanglah, aku mau sendiri,” usir Siska secara terang-terangan, dan dalam keadaan begini tidak m mungkin Lorenza memaksakan diri untuk tetap tidur di tempat Siska sementara mereka tidak sedang baik-baik saja.
Tidak punya pilihan lain, meski dengan perasaan was-was akan pengawasan anak buah Ibra dan lainnya Lorenza nekat pulang sendiri. Sepertinya Siska kali ini tidak bisa diajak kompromi.
Di mobil, sebelum dia melaju Lorenza kembali mencoba untuk menghubungi Kanaya. Dan sesaat kemudian Lorenza menghela napas lega kala dia mendengar suara Kanaya dengan jelas.
"Ka-kamu ... dimana, Nay? Pulang ke rumah kan?" tanya Lorenza sedikit kikuk, tak bisa dipungkiri jika memang semua kesalahan berawal darinya.
"Hotel, sama mas Ibra."
__ADS_1
Jawaban Kanaya benar-benar seadanya, Lorenza dibuat bungkam seketika. Seorang Kanaya yang biasanya selembut itu meski dia kerap membuat ulah, kini yang Lorenza dengar sangat amat berbeda.
"Nay, kamu marah? Maafin aku ... aku nggak maksud_"
"Udah dulu ya, mas Ibra dah kelar mandinya."
Belum sempat dia lanjut bicara, Kanaya sudah mematikan sambungan teleponnya. Ada sedikit kelegaan meski rasa bersalahnya masih bersemayam lantaran kata maaf belum dia utarakan.
Untuk pertama kalinya, Lorenza menyesali keputusan dalam hidupnya. Dia membuang napas kasar dan memejamkan matanya karena dunia tiba-tiba membuatnya terdesak rasa bersalah.
-
.
.
.
Sementara di tempat lain, tempat dimana pasangan yang tengah menikmati manis-manisnya cinta dengan terpaan badai rumah tangga yang perlahan menghampiri ini terasa begitu dalam dengan rintik hujan yang hanya menyisakan rintik kecil di sana.
"Udah?"
Ibra tersenyum simpul menghampiri istrinya, dia memang tidak menyadari jika Kanaya usai menghubungi Lorenza. Tubuhnya masih begitu basah, dan seperti biasa Ibra akan meninggalkan tetesan air di sepanjang lantai yang dia lewati.
"Kamu gimana makek handuknya sih, Mas ... kebiasaan banget suka begini."
Sengaja mendahulukan istrinya, karena Ibra tahu Kanaya benar-benar tak suka dengan lantai yang begitu basah. Ibra tak bisa mebgubah kebiasaan itu, semua hal bisa dia lakukan tapi tidak dengan menghilangkan itu dari hidupnya.
"Maaf, Sayang ... nanti kering sendiri."
Mudah sekali dia bicara, entah mengapa kaum laki-laki selalu begitu. Mengingat kebiasaab Abygail yang juga sama, Kanaya berpikir nampaknya beberapa pria memiliki kebiiasaan buruk yang tidak jauh berbeda.
Mata Kanaya masih terus saja menatap Ibra yang mengenakan pakaiannya saat ini, seakan takut Ibra salah lagi dalam menggunakan piyamanya.
BRUGH
"Lega sekali."
__ADS_1
Ibra menghempaskan tubuhnya di tempat tidur, pria itu menoleh pada Kanaya yang kini menghampirinya. Hari ini dia memang cukup lelah, dan gerakan tangan Kanaya yang tiba-tiba memijat jemarinya membuat Ibra seakan terlena.
"Kamu capek banget kan?" tanya Kanaya tak tega, wajah lelah Ibra begitu jelas, jarak yang mereka cukup jauh dan itu benar-benar lama bagi Kanaya.
"Lumayan, kamu juga kan?"
Ibra menbiarkan istrinya melakukan apa dia mau. Memang ini benar-benar nyaman bagi Ibra, tak biasanya Ibra dipijat dan ternyata tidak buruk juga, pikirnya tersenyum lebar.
"Nggak, aku kan cuma tidur."
Jawaban cerdas, tapi Ibra tak percaya. Ibra kerap berbohong tapi dengan kebohongan istrinya yang begini dia tidak begitu suka.
"Bisa saja kamu, Nay."
"Mas, besok kita pulang ya?" tanya Kanaya dengan tatapan yang sedikit berbeda, dia seakan belum mau kembali besok pagi.
"Hm, kenapa? Kamu masih mau di sini?" Ibra bertanya serius, hotel yang Ibra pilih berada di pusat kota. Wajar saja jika Kanaya mulai tergoda kala memandangi keindahan kota kelahiran Ibra.
"Boleh?" tanya Kanaya ragu, perihal ini saja dia bahkan malu untuk meminta. Sungguh Ibra tak bisa lagi berkata-kata.
"Boleh ... as you want, Honey." Sempat ragu lantaran ketakutan itu pasti ada, namun rasanya terlalu pengecut jika Ibra takut sementara Kanaya adalah istri yang memang berhak ia cintai dengan bebas.
Mendengar itu jelas saja hatinya berbunga, Ibra tersenyum lega begitu Kanaya memeluknya. Setiap ada keinginan Kanaya kerap menahannya lebih dulu sebelum kemudian berani mengungkapkannya.
Apapun yang Kanaya minta, dan dia akan lakukan jika bisa. Kanaya tak semenyeramkan wanita hamil lainnya menurut Ibra, sempat takut ngidamnya Kanaya akan di luar nalar seperti cerita Gavin, nyatanya istrinya tidak sesinting itu.
"Aku tu pengen es kembang tahu, Mas."
"What? Kanaya, kamu ... aduh, jangan macem-macem dong, Sayang."
Baru saja dia memuji istrinya, nyatanya Kanaya tak sebaik yang dikira. Hari hampir gelap dan bisa-bisanya dia meminta hal itu saat ini juga.
"Maunya sekarang?"
"Enggak sih, cuma bilang doang," jawab Kanaya membuat Ibra bernapas selega mungkin.
Tbc
__ADS_1