
Pertama kali setelah banyak hari dia lewati sebagai wanita yang penuh dengan kesibukan, Kanaya tentu saja merasa sedikit berbeda. Wanita itu mencari cara untuk menghilangkan rasa bosannya, cara ini cukup berpengaruh untuknya.
Main catur, kesal karena Jacskon dan Axel tak memberinya izin keluar rumah sedikitpun. Terpaksa salah satu bodyguardnya harus mau mengorbankan diri untuk menjadi lawan main Kanaya.
Berusaha menolak, tapi tak bisa. Jelas saja mereka memiliki ketakutan tersendiri para Ibra. Mengingat bagaimana peraturan tegas Ibra perihal menjaga Kanaya membuat keduanya sedikit bergidik, yang mana mereka berdua harus memastikan wanita itu tidak berinteraksi dengan laki-laki lain.
"Nona, ada baiknya kita sudahi saja ... hari sudah mulai sore, mungkin tuan sebentar lagi akan pulang." Jackson meminta pengertian, badannya besar tapi nyalinya tak sebesar itu untuk menghadapi kemarahan Ibra.
"Yaah, masa begitu? Sebentar lagi ya," tawar Kanaya, ini terlalu seru untuk dilewatkan, dan juga Kanaya sudah sangat lama tidak mengulang hal ini.
"Axel saja, saya sakit perut tiba-tiba, Nona."
Axel menggeleng, pria itu mendelik kesal pada Jackson yang membuat posisinya terancam. Kanaya menatap Axel dengan menampilkan senyum permohonan.
Tidak! Axel boleh tergoda dan luluh terhadap wanita lain tapi bukan Kanaya saat ini. Sama saja dia merangkai jebakan untuk dirinya sendiri jika sampai menuruti kemauan Kanaya.
"Maaf, Nona ... saya tidak bisa dan tidak paham bagaimana main catur."
Berbohong demi kebaikan tidaklah dosa, lebih baik begitu daripada dia diamuk Ibra. Sementara Jackson sudah berlari, pamit sakit perut tapi larinya ke pos satpam. Memang dia sedikit sinting, pikir Kanaya.
"Kamu berbohong?" selidik Kanaya dengan tatapan mautnya, Axel menggeleng berkali-kali kemudian mengeluarkan poselnya yang berdering tiba-tiba.
"Huft, selamat."
Axel membatin, dia sebahagia itu kala mendapat pesan dari Gavin. Meski pesannya sedikit menyeramkan, tapi ini lebih baik daripada ketahuan Ibra tengah main catur bersama Kanaya.
"Nona, saya pergi dulu, tuan Gavin menghubungi saya."
"Ya sudahlah, bawa papan caturnya," titah Kanaya dengan suara lesunya, andai saja ada Siska atau Lorenza, setidaknya hidup Kanaya takkan sehampa ini.
Axel berseru yes dalam hatinya, batinnya merdeka dan pria itu berlari dengan langkah panjangnya menyusul Jackson. Dia heran, kenapa Jackson bisa semudah itu berbohong sementara dirinya segemetar itu.
Kanaya menghela napas kasarnya, dia menatap jarum jam yang masih di situ-situ saja. Wanita itu menunggu janji Ibra akan pulang cepat, jika begini sama halnya seperti hari biasa.
Hingga, deru mobil itu terdengar kian dekat. Wajah yang tadinya lesu, berubah 180 derajat. Senyum sumringah itu terbit, Kanaya berlari keluar menyambut kedatangan sang suami.
__ADS_1
Jika ditanya kenapa dia melakukan itu, Kanaya juga bingung. Yang jelas, kala Ibra mendatanginya Kanaya merasa dunianya hidup begitu saja. Dia membutuhkan Ibra, dan selama jauh maka dirinya takkan baik-baik saja.
"Hai," sapa Kanaya dengan senyum sedikit tertahan, pasalnya Ibra hanya menatapnya dan tidak segera menghampiri dirinya seperti biasa.
"Kenapa? Ada yang salah ya?" tanya Kanaya menatap dirinya, memastikan jika tidak ada yang aneh dengan tubuhnya.
Ibra menggeleng, setelah puas memandangi barulah dia menghampiri Kanaya dan memeluknya seerat itu. Sesak, tapi tak sempat menolak. Ibra lupa jika istrinya hamil atau bagaimana, sungguh Kanaya heran kenapa pria itu harus memeluk segila itu.
"Sesak, Mas," keluhnya mencoba mendorong tubuh Ibra, mereka hanya tidak bertemu beberapa jam saja, tapi suaminya seakan kehilangan Kanaya bertahun-tahun.
"Miss you."
Ungkapan tiba-tiba yang sebenarnya biasa Kanaya dapatkan dari Ibra, pria itu selalu melontarkan kata-kata sejenis sebagai ungkapan perasaan cintanya. Entah itu nyata atau hanya sebatas kata, rindu setiap hari, Kanaya hanya tersenyum mendengarnya.
"Miss you, Kanaya." Ibra mengulangnya, mereka belum masuk dan pasti pemandangan itu mereka saksikan dengan nyata.
"Jawab, Naya."
Istrinya benar-benar tidak peka, Ibra mencebik lantaran Kanaya hanya terpaku diam membisu dan tak membalas ungkapan manisnya.
Ini memang hal kecil, tapi Ibra bahkan menuntut jawaban dari Kanaya. Dia tidak akan berhenti sebelum balasan Kanaya dia dengar sendiri. Walau terkadang istrinya sedikit kesal lantaran Ibra mengungkapkan hal itu tak mengenal waktu.
.
.
.
Malam menjelang, tenggelamnya rona senja bersama hembusan alam yang menyejukkan. Akhir-akhir ini dia mencintai dinginnya alam, dan Ibra sudah berkali-kali melarang.
"Dingin, Kanaya ... jangan dibuka."
Di kamarnya sudah cukup sejuk, entah kenapa jendelanya harus dibuka selebar itu. Ibra yang baru selesai mandi, dengan lilitan handuk yang menutupi bagian pusarnya ke bawah jelas saja tak nyaman.
"Panas, Mas," tutur Kanaya tak kalah lembut dari cara Ibra bicara, pria itu menghela napas pelan sembari menatap wajah Kanaya pasrah.
__ADS_1
"Kamu yang panas kah?"
Kanaya terperanjat kaget kala Ibra berlutut dan wajahnya tepat di depan perutnya. Nampaknya sesayang itu Ibra pada calon bayinya, mengajaknya bicara dan kadang kala menjanjikan hal tak masuk akal yang membuat Kanaya tak habis pikir.
"Sayang, kenapa lama sekali? Aku tidak sabar membawanya keliling dunia."
Senyum Ibra begitu jelas, matanya tak melepaskan perut Kanaya yang belum terlalu besar. Pernikahan mereka belum lama, tapi Ibra merasa dirinya dan Kanaya sudah hidup bersama sejak bertahun-tahun lalu.
Menempelkan wajahnya di sana, Ibra mengutarakan semua isi hati. Kerinduan sebelum pertemuan, dan harapan akan titik temu itu akan segera hadir selalu menjadi yang utama.
Kedepannya akan banyak hal yang mereka hadapi, Ibra tengah berusaha mempertahankan segalanya meski ketakutan sebesar itu dalam dirinya. Perihal Kanaya, dia memang akan selalu egois.
Memaksakan anak itu dipertahankan, dan mengikat Kanaya dalam pertalian suci adalah keegoisan paling nyata yang Ibra sebenarnya pahami sendiri. Akan tetapi, dia memang tak peduli, baginya Kanaya adalah dunia yang Tuhan kirim tanpa perantara.
"Nay, boleh Mas tanya?" Ibra mendongak, menatap lekat istrinya sembari tangannya tetap di pinggang Kanaya.
"Apa?"
"Dalam hidup, hal apa yang kamu tidak bisa maafkan dari seorang laki-laki?" tanya Ibra tiba-tiba, dia begitu serius dan Kanaya mengerutkan dahi dibuatnya.
"Hm apa ya, perselingkuhan mungkin," jawab Kanaya seadanya, dia tidak berpikir kenapa suaminya bertanya demikian.
"Lalu?" pancing Ibra lagi, jika perihal perselingkuhan Ibra memang bisa dipastikan takkan melakukannya.
"Kebohongan," jawabnya lagi, mendengar jawaban kedua Ibra terdiam sesaat dan batinnya tiba-tiba terhenyak.
"Setelah itu?"
"Nggak ada lagi, cuma itu ... Mas kenapa tanya begitu?" tanya Kanaya kemudian, pria itu menggeleng pelan seraya menghela napas pelan.
"Cuma tanya, pengen tau aja."
"Oh iya ... Mas mau tanya, Lorenza memang seberani itu?" Ibra kemudian membahas sahabat Kanaya yang tadi siang sempat adu mulut bersama Gavin lantaran tidak diberikan izin untuk bertemu dirinya.
"Iya, kenapa memangnya?"
__ADS_1
"Temanmu mengerikan, Mas harus somasi sesekali." Ibra memang suka wanita pemberani, tapi tidak seaktif Lorenza juga. Gavin yang biasanya pengalah, bahkan meradang kala menghadapi Lorenza.
Tbc