Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 83


__ADS_3

“Kamu kan tau sendiri gimana Ibra … sewaktu masih jadi suami kamu aja dia begitu, Via.”


“Ma! Firasatku ga akan salah, kali ini berbeda! Mama lihat foto ini, apa mungkin mas Ibra akan semanis ini di tempat umum jika cuma hiburan semata?”


Salah seorang kaki tangan Indira yang memang ditugaskan mencari keberadaan Ibra sempat mengabadikan kebersamaan mereka di sana. Dan bodohnya, Olivia tidak menyadari jika dia sempat berada di tempat yang sama dengan Ibra tadi siang.


Kepalanya seakan mau pecah, Olivia mondar mandir dan memandangi foto itu satu persatu. Wajah Kanaya sangat asing di matanya, dan sama sekali dia belum pernah bertemu wanita itu. Dan Kanaya tidak terlihat seperti wanita murahan yang mungkin saja Ibra ajak sebagai teman kencannya.


“Dari dulu kamu selalu begitu kan? Hanya mengandalkan firasat dan menilai Ibra buruk .. pernikahan kalian gagal karena curigamu berlebihan.”


Merasa Indira kali ini seakan tak membelanya, Olivia menatap kesal Indira yang kini duduk diam di sofa sembari menikmati teh hangatnya. Semenjak keluar dari rumah sakit, wanita itu memang lebih banyak diam dan sesekali menghubungi Gavin demi meminta purtanya untuk kembali walau hingga saat ini hasilnya nihil.


“Diem, Mama!! Ibra tidak pernah menceraikan aku dan pernikahan kami tidak gagal.”


Fakta yang sampai kapanpun akan Olivia tolak, siapapun yang menganggap Ibra adalah mantan suaminya maka Olivia akan marah. Wanita itu masih berusaha, sejak dahulu berusaha namun semenjak Indira sakit dan tak banyak bicara, langkah Olivia memang sedikit terhambat.


“Kamu bentak Mama, Olivia?” tanya Indira dengan sorot tajam yang luar biasa membunuh, kedua wanita yang berwatak sama dan tidak suka mendapat perlakuan tak baik dari lawan bicaranya ini saling menatap sengit.


“Aaaaaarrrrrrggghhh … Mama kenapa jadi jahat sama aku?!!” tanya Olivia sedikit menuntut, perlahan namun pasti Indira tak begitu membantunya sepenuh hati untuk membuat Ibra kembali.


“Mama lelah, Olivia.”


Tepatnya kecewa, karena selama sakit Olivia sama sekali tidak pernah mengkhawatirkannya. Sekalipun Olivia tak pernah bertanya bagaimana perkembangannya, yang wanita itu pedulikan hanya tentang Ibra dan Ibra saja.


“Ma! Mama hanya diam setelah melihat semua ini? Alasan mas Ibra nggak pulang sudah pasti karena wanita ini!” sentak Olivia memang sedikitpun tak melihat kondisi, tubuh Indira tak lagi sebugar dahulu, perbuatan Ningsih nyatanya mengundang penyakit lain dalam tubuhnya hingga semua berubah total secepat itu.


Indira memijat pangkal hidungnya, wanita ini benar-benar tidak ingat umur. Ningsih yang kini tengah memijat lengan Indira hanya berusaha menutup telinga karena baginya suara Olivia benar-benar mengganggu. Sebagai orang dalam dari pihak Gavin, Ningsih sudah tahu apa yang harus dia katakan kepada tuannya terkait hal ini.


“Mama masih lemah, tolong kita bicarakan lain kali saja, Via.”

__ADS_1


Meminta bantuan Ningsih untuk mengantarnya ke kamar, Indira semakin enggan ketika Olivia justru memberinya perintah dengan cara memaksa dan kalimat kasar yang membuat batin Indira tergores.


“Lemah terus, kapan sembuhnya,” celetuk Olivia memalingkan wajahnya, di saat Indira bahkan berjalan saja sulit wanita itu justru menyalahkan keadaan dan membuat Indira sebagai manusia paling salah di dunia.


Indira mendengar dengan jelas apa yang Olivia ucapkan, tapi hendak marah dia merasa sudah terlalu lelah. Perihal wanita yang ada di foto itu memang masih dia pikirkan, tidak mungkin dia bisa menganggap itu semua sebagai angin lalu.


-


.


.


Akhir-akhir ini, dunia begitu kacau, berita kejahatan bahkan bertumpuk dan membuat Kanaya mengerutkan dahi. Ibra hanya menggeleng melihat istrinya yang sefokus itu menonton berita di kamarnya.


Setelah perjalanan yang cukup melelahkan itu, Kanaya tidak terlalu banyak bergerak dan kini sudah amat santai di tempat tidur.


“Suka, pembunuhan dan tindak kekerasan dimana-mana, Mas … aku jadi takut,” ungkapnya tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya.


“Jangan ditonton kalau takut, manusia memang jahat, Sayang … itu yang kamu perlu pahami di dunia.”


"Tapi aku suka, Mas."


Mereka memiliki perbedaan yang cukup bertentangan, Ibra tidak suka acara televisi apapun itu, sementara Kanaya sangat menyukainya bahkan iklan sekalipun tetap dia akan suka.


Dan saat ini salah-satunya harus mengalah, Ibra meredam ego dan kini turut ambil posisi nyaman di sisi istrinya. Malam yang cukup hangat bagi mereka, jika pasangan lainnya akan memilih menonton drama romantis ataupun tayangan menantang lainnya, mereka tampil berbeda.


Semakin diperhatikan, semakin betah pula mata Ibra. Perlahan menemukan titik nyaman, tepatnya guling bernyawa di sisinya membuat Ibra tenang. Tubuh mungil istrinya sangat pas untuk dipeluk, Ibra menyukai semua yang ada dalam diri Kanaya.


"Mas, aku boleh minta sesuatu nggak?"

__ADS_1


Kanaya memulai pembicaraan kala jeda iklan dimulai, hal ini benar-benar mengganggu pikirannya hingga rasa bersalah itu tak bisa Kanaya lupakan. Mengingat pesan teks yang Lorenza kirimkan tadi sore membuat hatinya terhenyak, sepertinya Ibra juga harus paham hal ini, pikirnya.


"Hm, boleh ... apa, Nay?" tanya Ibra menatap lekat sang istri, hatinya mulai resah dan entah kenapa ada perasaan was-was kala pembukaan andalan Kanaya itu terucap dari bibirnya.


"Soal Lorenza, aku mohon kamu jangan berlebihan, Mas."


Tiba-tiba saja Kanaya menjadi serius, dia bahkan berhenti mengunyah dan nada bicaranya terdengar sebagai ancaman yang harus dituruti secara mutlak.


"M-maksudnya apa, Sayang?"


Seakan tak mengerti, Ibra memang merasa tidak melakukan apapun pada Lorenza. Kalaupun marah, dia hanya ungkapkan pada Gavin dan itupun tanpa perintah untuk mengusik Lorenza.


"Tadi dia bilang, Gavin memintanya untuk tidak ikut campur rumah tangga kita ... dan Gavin bertindak seenaknya hanya karena dia berniat kasih tau status kamu ke aku kemarin."


Memang benar, seorang sahabat tidak akan pernah menutupi hal sekecil apapun dari sahabatnya yang lain. Ibra diam sejenak, dia tidak pernah memberikan perintah pada Gavin untuk menghukum Lorenza karena hal itu.


"Iya, besok Mas akan bicarakan ini pada Gavin, akan kupastikan dia meminta maaf pada Lorenza," ujar Ibra pelan-pelan, takut jika istrinya mendadak jadi reog karena mengetahui sahabatnya diamuk Gavin.


Sebagai seseorang yang tahu terima kasih, tentu saja Lorenza dan Siska memiliki nilai plus yang tidak bisa dia pungkiri. Mereka adalah pembela dan pendamping Kanaya, itu sebabnya Ibra tak meluapkan amarahnya meski dia melihat dengan nyata istrinya tersedu-sedu hari itu.


"Maaf, Kanaya ... semua ini karena Mas," keluh Ibra mendadak merasa bersalah.


Hendak marah pada Gavin, tidak mungkin. Namun, apa yang dia lakukan pada Lorenza menurut Ibra berlebihan. Dia paham bagaimana watak Gavin jika telah menunjukkan kemarahannya.


"Nggak, keadaan yang buat kita semua begini ... kamu tidak perlu menyesal, Mas."


Berusaha sebisa mungkin untuk bersikap dewasa, Kanaya tidak perlu menyalahkan salah-satu pihak. Siska, Lorenza dan kemarahan Gavin adalah imbas dari ketidakjujuran Ibra sebenarnya, tapi jika harus dia perpanjang maka itu tidak ada gunanya sama sekali.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2