
Siang menjelang, kediaman Wiradh masih sama seperti tadi malam. Sang mama belum kembali, begitupun dengan Ibra dan juga Kanaya. Beruntung rumah Lorenza memiliki banyak kamar tidur hingga memungkinkan mereka bisa beristirabat dengan nyaman.
Pagi-pagi tatapan mereka sudah tertuju pada Gavin yang baru saja keluar dari kamar dengan rambutnya lembab. Pria itu mandi pagi, jelas saja memancing pikiran positif beberapa orang di sana.
"Ehem, istrinya mana?" tanya Hilmira dengan senyum usilnya, ruang makan menjadi semakin hangat dengan keberadaan Gavin sebagai anggota keluarga baru.
Keduanya sama-sama diterima, baik Gavin maupun Lorenza, orangtua mereka benar-benar menginginkan sebuah pernikahan di antara mereka.
"Belum bangun, Ma," jawab Gavin jujur sekali, memang fakta wanita itu persis kerbau yang sebetah itu dalam tidurnya.
Gavin sudah berusaha agar Lorenza bangun pagi, namun yang ia dapatkan justru tendakan tidak sengaja dari Lorenza. Merasa gagal sekali, pria itu memilih enggan untuk mengulangnya.
"Belum bangun? Berapa ronde, Vin?"
Sialan, Ibra memang tidak punya otak. Gavin sudah semalu itu bisa-bisanya dia masih membahas ronde dan sejenisnya. Meski di meja makan belum ada Wiradh, tetap saja Gavin malu.
"Saya tidak mengerti maksud Anda," ucapnya tanpa menatap Ibra, berhadapan dengan pria itu memang dapat menyebabkan diri seseorang terpojok hingga tak bisa berkutik.
"Aduh mempelai pria kita polos sekali, bagaimana Leon ... kakak iparmu sepertinya butuh coach ber-skill Dewa," ungkap Ibra basa-basi, pembicaraan yang cukup menyenangkan dan lumrah jika bersama seseorang yang baru menikah.
"Ahaha, mas saja ... pengalamanku belum banyak," jawab Leon malu-malu, pembicaraannya dengan Ibra semalam memang benar-benar menyatu. Dua pria nakal yang bersatu, jelas saja pembahasan mereka akan berkesinambungan.
Gelak tawa mengiringi pembicaraan mereka, sementara Kanaya sudah wanti-wanti suaminya akan bicara terlalu dalam nantinya. Genggaman tangannya sejak tadi tak lepas, jika sampai Ibra ngelantur maka dengan mudah Kanaya mebenturkan punggung tangan suaminya ke sudut meja.
Hingga semakin menjadi kala Lorenza muncul dan penampilan yang sudah begitu segar. Kanaya menarik sudut bibir kali ini, nampaknya mereka memang menunaikan ibadah pertamanya dengan baik, pikir Kanaya.
"Selamat pagi, Lorenza," sapa Ibra sopan sekali, seakan mereka adalah sahabat karib yang lama terpisah.
"Pagi, Pak ... pagi Mama," sapa balik Lorenza kemudian duduk di kursi di sisi Gavin, tidak punya pilihan lain karena jika dia merebut tempat sang papa maka akan panjang urusannya.
"Bagaimana? Kamu sudah berkenalan dengan Robert?"
Pendengaran Gavin tidak salah, begitupun dengan Kanaya. Pria itu membeliak dan benar-benar khawatir Ibra akan mengatakan hal yang lebih gila.
"Mas," desis Kanaya menatap tajam suaminya, dia tidak bodoh dan semuanya masih dapat Kanaya ingat dengan jelas.
Mungkin di tempat ini yang mengerti perihal itu hanya mereka saja, mana mungkin Hilmira dan paham juga. Gavin pun demikian, pria itu berdehem mencoba menenggelamkan pembahasan Ibra.
"Robert? Robert siapa?"
__ADS_1
Gavin sudah berusaha agar tidak dibahas, dan Lorenza si manusia yang selalu ingin tahu itu penasaran dan bertanya dengan begitu serius kepada Ibra.
"Ah belum ternyata?"
Ada wajah yang ketar-ketir, sementara Kanaya memerah akibat ulah suaminya. Dan Leon yang sejak tadi mencoba memahami tak butuh waktu lama untuk bisa masuk dalam pembicaraan Ibra.
"Hahah namanya keren, bisa dipastikan Roberts bukan pribumi dong."
"Gavin blasteran, ya simpulkan sendiri bagaimana, Leon." Ibra menemukan lawan bicara yang sefrekunsi, pria itu terbahak usai membahas sesuatu yang disebut Robert itu.
"Amazing ... impian Lorenza."
"Kalian berdua bahas apasih? Di sini bukan cuma kalian aja, sibuk sendiri."
Ibu negara marah mode on, Ibra menarik sudut bibir mendengar istrinya yang berceloteh panjang lebar. Wanita itu tengah menyelamatkan Gavin, takutnya Ibra keterusan hingga nanti Wiradh bergabung.
"Nggak tau ni bedua, jelasin makanya Robert itu siapa?"
Kanaya menghela napas pelan, pada kenyataannya Lorenza lah yang memancing semua ini hingga tak berkesudahan. Gavin menatap Lorenza dengan mata tajamnya, berharap istrinya mengerti untuk berhenti mempertanyakan hal itu.
"Tanya suamimu sana," tutur Ibra masih dengan tertawa kecil dan usilnya. Membahas hal ini memang luar biasa menyenangkan, pikir pria tampan itu.
"Apa?" Sontak Gavin bersuara begitu lantangnya kala Lorenza mengedipkan matanya.
Gavin mengerutkan dahi, perkara itu saja tidak berkesudahan. Menyesal sekali dia mengenalkan diri Robert pada Ibra kala itu. Jika biasanya pengantin wanita yang kerap malu di awal-awal pernikahan, kali ini justru sebaliknya.
"Lupakan, aku sendiri lupa siapa Robert."
Mengelak adalah pilihan, wajah seriusnya memang tidak bisa dibantah dan membuat Lorenza memilih percaya. Tapi wajah Ibra dan Leon masih membuat wanita itu mati penasaran.
-
.
.
.
Hiruk pikuk jalanan kota terasa menyesakkan, bersamaan dengan panasnya terik matahari menusuk kulit. Ibra dan Kanaya memilih pulang setelah menghabiskan waktu di kediaman Lorenza.
__ADS_1
Berbagi kebahagiaan, yang menikah Lorenza yang bahagia dirinya. Ibra menatap sang istri dari ekor matanya, dagunya yang mulai ganda dan wajahnya justru semakin menggemaskan tak membuat perasaan itu berubah.
"Kamu kenapa? Dari tadi senyam-senyum terus." Ibra menatapnya sembari menarik sudut bibirnya tipis, takut saja ada alasan lain yang membuat istrinya tersenyum.
"Bahagia dong, Mas nggak ya?"
"Bahagia ... setiap detiknya," jawab Ibra seraya menyentuh dagu Kanaya, sedikit saja memanfaatkan kesempatan adalah hal yang harus bagi Ibra.
Semenjak menikah, memang tidak ada alasan Ibra tidak bahagia. Bagaimana Kanaya menenangkannya ketika marah, dan bagaimana cara Kanaya mengungkapkan amarahnya adalah hal yang membyat Ibra jatuh sejatuh-jatuhnya selain karena wajah.
"Mas, tentang gosip-gosip itu ... kamu baik-baik saja?" tanya Kanaya lembut, sejak awal mengetahui itu Kanaya sudah ingin bertanya, akan tetapi melihat bagaimana pusingnya Ibra, dia menahan itu semua.
"Kamu tau?" Ibra mengerutkan dahinya, dia sudah berusaha agar Kanaya tidak mengetahui hal itu. Akan tetapi, memang tak selamanya dunia bisa Ibra hentikan.
"Hm, kamu selalu larang aku nonton televisi ... tapi kamu lupa bahwa aku punya Lorenza dan juga Siska."
Memang benar-benar membuat frustasi, tampaknya mata-mata Kanaya lebih ahli dibandingkan mata-mata Ibra. Dia kalah dalam hal ini, namun lagi-lagi yang dia dapati bukan kemarahan Kanaya, melainkan kekhawatiran yang terpancar dari manik indahnya.
"Mas hanya berpikir kamu lebih baik tidak mengetahuinya, Nay ... jangan buang tenagamu untuk memikirkan hal-hal semacam itu."
Pria itu berucap lembut dan benar-benar meminta agar istrinya tidak sakit kepala sepertinya. Olivia yang hingga mati menyulitkan, bahkan sampai di kuburpun tetap Ibra yang diseret.
"Kanaya ...."
"Iyaa, kenapa?"
Pantang saling memandang, Ibra hanya memikirkan satu hal jika tatapan mereka sudah terkunci begini. Takut sekali rasanya, ini di jalan dan Ibra kian mengikis jarak.
"Love you," bisik Ibra hendak membenamkan bibirnya, tadi malam dia sangat ingin namun karena kamar yang Lorenza siapkan berdekatan dengan kamar Hilmira membuat Kanaya untuk pertama kali menolaknya.
Tiiit tiiit tiiit
"Ays!! Sialan, biasa saja kan bisa." Ibra kesal sendiri kala klakson bersahutan sementara dia belum sempat mengecup istrinya siang ini.
"Jalan, Mas ... udah hijau tuh." Di lihat dari wajahnya terlihat jelas Ibra frustasi, wanita itu hanya terkekeh dan mendaratkan telapak tangannya di wajah Ibra dengan lembut.
"Sakit Naya."
"Makanya tau tempat, nyosor aja kerjaannya." Kanaya tertawa sumbang, punya suami naf*suan memang cukup memusingkan.
__ADS_1
"Nyosor sama istri sendiri apa salahnya, kan memang hakku." Tidak mau kalah, bukan Ibra namanya jika harus mengalah.
Tbc