
"Sakit? Tumben banget dia sakit."
"Dia juga manusia, Ma ... ya wajar aja."
Mereka berdebat, sakitnya Lorenza tak masuk akal bagi mereka. Biasanya wanita itu anti badai, tidak gampang sakit dan jangan pernah disepelekan masalah kekebalan tubuhnya.
Terutama sang mama yang justru menaruh curiga padahal tidak ada yang menggiring opini sama sekali. Baik Leon maupun sang suami, mereka biasa saja dan hanya dirinya sibuk sendiri.
"Harus kita eksekusi! Dia nggak pulang dan ketika pulang tiba-tiba begini, harusnya Papa curiga bukan diem aja."
Mau bagaimana lagi, namanya orang sakit ya wajar saja, pikir Wiradh tak mau ambil pusing. Sementara Leon hanya memasang wajah datar sembari menimbang keputusannya, apa dan bagaimana yang harus dia lakukan saat ini.
"Kakak kamu, kenapa sebenernya?"
Leon menggeleng cepat, padahal sejak tadi dia sungguh-sungguh ingin memberitahukan dugaannya pada sang mama. Akan terapi, melihat suasana begini tiba-tiba Leon ciut dan tidak berani bertindak sama sekali.
"Ngaku!! Kamu tau sesuatu kan?"
"Apasih, Ma? Tau apa?" tanya Loen dan dengan bodohnya memperlihatkan tampang mencurigakan.
"Yang dilakuin Kakak kamu ketika di luar itu, katakan, Leon ... kamu mau uang jajannya naik kan?"
Tawaran yang sangat manis, tapi rasanya tak tega jika harus membuat posisi kakaknya sesulit itu. Tapi uang jajan, dia sudah lama tidak senang-senang. Sepertinya seru juga, pikir pria tak berakhlak itu.
"Gimana ya ... tapi Mama jangan marah dulu ya," pinta Leon dengan wajah serius dan sengaja mendekat kepada mamanya demi bisikan itu bisa terdengar.
"Kenapa memangnya?" Penasaran sekali, rasanya sudah di ujung tanduk dan putranya masih menunda segala sesuatu.
"Jangan marah, janji dulu."
"Janji," bisik sang mama menurut begitu saja kala Leon menautkan kelingking sebagai pertanda ikrarnya.
"Kalau menurut Leon nih ya."
Sengaja menunda pembicaraan dan mamanya sudah mendelik tak sabar. Di saat-saat seperti ini Leon masih bisa bercanda dan membuat kesal dirinya.
"Kamu mau Mama sunat kedua kali?"
Menggeleng cepat dan sontak melindungi burung gagaknya. Leon menatap sekilas pintu yang terbuka seidkit itu, nampaknya Lorenza masih terlelap.
__ADS_1
"Mama tau kan anak muda zaman sekarang gimana? Dan Mama lihat bang Gio seganteng apa?"
Bukannya menjawab sang mama justru mengangguk seakan paham tujuan pembicaraan Leon. Pria itu memang pintar sekali meyakinkan seseorang untuk ikut keyakinannya.
"Iya, lalu?"
"Menurut Mama, kalau sampai seorang wanita sejenis Lorenza sampai nggak pulang dan ketika pulang dia membawa seorang laki-laki ... artinya, ada sesuatu dibalik kepulangan mereka, iya kan!" seru Leon hampir saja terdengar Lorenza karena terlalu bersemangat.
Matanya mengedip berkali-kali dan itu tak membuat sang mama mengerti, nyatanya anggukannya tak berarti apa-apa karena pada akhirnya wanita itu membuat Loen menghela napasnya.
"Jadi intinya apa?"
"Ya apalagi ... kalau bukan eungh."
Pok Pok pok pok
Leon mencinptakan suara dari kedua tangan yang dia satukan itu. Matanya meyakinkan lawan bicara jika memang ada sesuatu yang tidak beres dari Lorenza.
"Ih Mama lemot banget ... udah deh, mending paksa kawin aja, kasian nanti kalau sampai ketahuan tetangga," bisik Leon dan membuat darah wanita yang tak muda lagi namun tetap cantik itu naik seketika.
"Ah yang bener kamu? Masa iya begitu?"
"Nggak percaya? Buktiin aja satu bulan kemudian ... dijamin dia nggak nangis-nangis lagi sambil ngeluh sakit perut karena datang bulan."
"Uwih, berita bagus dong."
"Heeeih?! Berita bagus?" Mata Leon membulat sempurna, segila-gilanya dia ternyata lebih gila lagi mamanya.
"Iyalah bagus!! Selama ini dia dikenalin sama anak pak RT aja nolak, diamar Ihsan masih nggak mau. Kalau ada yang berani kekepin dia tanpa izin Mama harus tanggung jawab uhuy!!"
Ibu mana yang mengatakan itu berita bagus, jika diluar sana mungkin anaknya bisa dibantai dan kini yang Leon saksikan justru berbeda. Sang mama tersenyum dan masuk ke kamar Lorenza dengan langkah panjang.
"Woah? Aku tidak bermimpi kan?" Leon tercengang, menepuk wajahnya beberapa kali dan memastikan jika dia memang tengah menghadapi kenyataan.
"MAMA NGACO!!"
"LEON!! INI PASTI ULAH KAMU KAN!! AWAS AJA!!"
Mendengar teriakan Lorenza, Leon yang sejak tadi berdiri di dekat pintu kamar Lorenza berlari terbirit-birit ke kamarnya. Meski sang kakak adalah wanita yang sebenarnya lemah, tetap saja dia memiliki ketakutan tersendiri.
__ADS_1
"Uuh seram, bumil mode on ... takut." Leon mengunci pintu kamar dan menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur, tersenyum senang dan kini tenggelam dan tengah menikmati leganya bernapas mengingat transferan dari Lorenza siang tadi lumayan membuat rekeningnya bengkak.
-
.
.
Sementara di tempat lain, Kanaya juga sama paniknya. Berbagai cara dia lakukan demi membuat Lorenza tenang. Berita apa tadi yang dia dengar? Ah sungguh tidak dapat dipercaya.
Fitnah Leon memang luar biasa, entah bagaimana kini dia sama sekali tidak dipercayai. Kanaya menatap sekilas dua pria yang tengah berada di ruang tamu, mereka tampak berbincang hal penting dan tidak bisa diganggu.
"Aduh Naya!! Bantuin aku dong ... sama sekali aku nggak ngapa-ngapain sama Gavin!! Kamu percaya aku kan?"
Dari suaranya, jelas sekali jika Lorenza gusar luar biasa. Wanita itu tengah berada di fase bingungnya, Kanaya hanya bisa menggigit jari dan menunggu dengan sabar pembicaraan Gavin dan suaminya selesai.
"Iya tau, tapi kalau memang enggak kenapa bisa kamu mual segala, Lorenza."
"Masuk angin you know!! Itu juga gara-gara belain kamu, Naya ... makanya aku masuk angin!!"
Kanaya memejamkan matanya, dia mengelus perutnya berkali-kali lantaran takut calon bayinya akan seperti Lorenza juga.
"Ya terus gimana? Aku nggak bisa lawan Mama!!"
Berdebat dengan Lorenza dia masih bisa, tapi jika bersama mamanya Kanaya menyerah. Karena percuma jika berhadapan dengan mantan pengacara itu.
"Minta bantu suami kamu kek, Nay, atau bilangin Gavin buat bela diri ... aku takut dia beneran ngomong yang enggak-enggak, Kanaya."
"Nggak perlu dibilangin, Za, dia pasti bela diri jika memang gak salah."
"Masalahnya tu beda, Kanaya ... Gavin tu aduh aku nggak bisa jelasin, intinya dia aneh!!"
Rasa-rasanya yang aneh di sini bukan Gavin, melainkan dia. Kesal sekali Kanaya rasanya, kantuknya bahkan masih terasa dan kini gendang telinganya dibuat sakit karena suara merdu Lorenza yang luar biasa.
"Aneh gimana? Perasaan sama aja deh," tutur Kanaya yang kini mengerutkan dahi.
Tidak ada yang berbeda, semua sama saja seperti biasa. Gavin sopan dan selalu serius dalam bicara, memperhatikan Gavin cukup lama dari jarak beberapa meter, jika Ibra tahu mungkin Gavin tidak akan dia izinkan masuk kembali ke rumah itu.
To Be Continue
__ADS_1
Hai-hai semua🤗 Hari ini aku ujiannya 4 MK. Tapi karena aku ikut crazy up, maka harus tetap 3. Telat nggak papa ya, bestie. Doain setelah ini aku bisa fokus dan hadirkan karya-karya yang baik dan bisa dinikmati serta punya tempat di NT. Terima kasih atas dukungan kalian yang bener-bener sebaik itu mau baca tulisan aku, love you guys❤ Kemungkinan minggu ini Ibra tamat ya.