Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 142


__ADS_3

Mikhail Abercio, nama yang menjadi pilihan Ibra pada akhirnya, Kanaya tak henti-hentinya memandangi malaikat kecilnya itu. Setelah sempat Ibra tenangkan usai menangis kini bayi mungilnya sudah kembali terlelap.


Sebagaimana kepercayaan Kanaya bahwa Tuhan akan selalu berada di sisinya, menyatu dalam nadi yang patut ia syukuri. Bisa memeluk meski sedikit sulit karena memang rasa sakit itu tetap ada.


"Masa Mikail sih, Pak?"


Sejak mengetahui nama putra Kanaya, yang justru gusar sendiri adalah Lorenza. Wanita itu serius ingin sekali nama Irza diterima Ibra, nyatanya pria itu enggan kala mengetahui artinya.


"Kenapa memangnya?" tanya Ibra menatap Lorenza dengan tatapan luar biasa tajamnya, sejak dua hari lalu perkara nama tidak berhenti Lorenza bahas.


"Penjaga neraka kan? Nggak banget deh." Lorenza menatap sendu bayi mungil itu, rasanya tak tega Kanaya memiliki anak dengan nama itu.


"Itu MALIK OON!!"


Siska yang memang mudah terpancing emosi, tanpa berpikir mendorong kepala Lorenza hingga wanita itu terperanjat kaget dibuatnya.


"Ssshhuutt!! Berisiknya ya Allah."


Kanaya memejamkan matanya, putranya baru saja tenang setelah membuat Ibra kewalahan. Dan kini suara Siska lebih besar dari toa masjid, rasanya ingin sekali dia lempar Siska ke hutan amazon.


"M-maaf, Nay ... dia nih, oonnya ga ketulungan! Makanya kalau ngaji jangan kabur!!" sentak Siska kemudian, mengingat bagaimana dahulu Lorenza paling takut dengan guru ngaji hingga wanita itu hanya selesai iqra 3.


"Mas," panggil Lorenza meminta Gavin turun tangan, akan tetapi jika dilihat dari kondisinya memang istrinya yang kurang di sini.


"Kalian umur berapa sebenarnya? Sudah tahu ini rumah sakit, bukan pos ronda ... suaramu Siska ya Tuhan."


Untuk kesekian kalinya Ibra melontarkan kata-kata mutiara pada Siska. Akhirnya wanita itu terkena juga imbasnya, pikir Lorenza tersenyum bahagia.


"Gatau nih, Pak, emang dia yang apa-apa teriak ... cuma salah dikit juga."

__ADS_1


Bagi Lorenza mungkin itu salah sedikit, tapi bagi Siska itu tidak bisa dimaafkan karena pelajaran SD harusnya dia paham. Saat ini Lorenza bukan bercanda atau pura-pura tidak tahu tapi memang dia keliru.


"Salah dikit ndasmu, lagian gamungkin juga Ibra kasih nama anaknya penjaga neraka ... yang ada panas rumah tangga mereka nanti."


Sampai kapan mereka akan berdebat, sejak Mikhail belum dilahirkan sudah dilakukan. Dan kini, keduanya semakin menjadi hanya karena perkara nama.


"Ck, kau bawa istrimu sana ... telingaku sakit mendengar mereka."


Alasan saja sebenarnya, dia hanya ingin menghabiskan waktu bersama istri dan anaknya. Adanya mereka hanya membatasi ruang gerak Ibra, dia tidak bisa mengecup Kanaya sesukanya jika sekarang.


"Za, pulang ya? Kamu belum mandi, Sayang."


"Iwwwh-iwwh-iwwh!!"


Spontan saja sebenarnya, Siska menatap aneh Lorenza yang secantik itu tapi belum mandi sama sekali. Sungguh ini berbeda sekali dengan prinsip hidup mereka dahulu.


"Biasa aja deh, lebay banget ... aku terlalu bahagia sampe nggak sempet mandi terus cepet-cepet ke rumah sakit lagi."


"Yaudah aku pulang dulu, tuan muda." Pulang katanya, tapi dia justru menghampiri tempat tidur Kanaya dan mengecup pelan makhluk menggemaskan itu.


"Hati-hati aunty ...." Kanaya berucap demikian mewakilkan putranya, selemah-lemahnya dia kala kembali melihat Ibra versi kecil itu, semua seakan baik-baik saja.


"Kok Aunty ... Mommy dong, iya kan calon menantu?"


Baru lahir ke dunia, dan Mikhail sudah diperlihatkan bagaimana kerasnya kehidupan. Belum apa-apa Lorenza sudah mengharapkan anak mereka berjodoh, sungguh sulit dipercaya.


"Dih, semoga anaknya laki-laki ... Mikhail jadi menantunya Mamski aja ya, Sayang."


Kanaya hanya terkekeh mendengar ucapan kedua sahabatnya, lucu sekali.

__ADS_1


"Enak aja, menantu Mommy aja, Sayang ... Mommy lebih kaya, lagian kalau kamu mau jadi menantunya dia pasti masih lama, nanti kamu tua di umur, Mikhail." Lorenza berbisik tapi satu ruangan bisa mendengar, Gavin menghela napas pasrah, padahal jenis kelamin bayi dalam kandungannya saja belum dipastikan dengan jelas dan Lorenza sudah mengutarakan hal semacam itu.


"Maksud kamu apa, Za?"


"Kan bener, kamu dibuahi aja belum ... masih lama dong, hilal akad aja belum ada sama sekali." Tajam sekali, tapi Siska tak bisa menolak karena bagaimanapun memang semuanya terjadi serumit itu.


"Kamu pikir gampang, Za?" Raut wajah Siska berubah seketika, sedih tapi mau bagaimana lagi. Haikal belum berani mengambil langkah untuk menikah secepat itu.


"Ck, sudah ya bu-ibu ... jangan bertengkar di sini, istriku harus istirahat."


Sebelum semakin rumit dan sesi curhat belum dimulai, Ibra menghentikan pembicaraan mereka dan meminta Gavin membawa Lorenza pulang segera.


"Siska mau diantar Axel?" tawar Ibra kemudian, pria itu sejak tadi selalu setia di rumah sakit.


"Nggak, Haikal yang jemput."


"Yakin? Ntar naik ojek lagi, sama Axel aja ... ganteng tau, beda sama Jackson yang nyeremin itu."


"Lorenza ...." Menjadi Ibra sulit, tapi sepertinya lebih sulit jadi Gavin.


"Iya-iya maaf, Mas, ayo pulang."


Lagi dan lagi, hal-hal sederhana itu bisa membuat rasa lelah Kanaya benar-benar dibayar tuntas. Yang ada kini hanya kebahagiaan tiada henti, tak terkira dan tak terungkap.


Beberapa saat dia memastikan mereka sudah pergi, Ibra kini kembali menghampiri istrinya. Dia ingin kembali memeluknya, tanpa henti sebagai ungkapan terima kasih karena sudah berusaha baik-baik saja.


"Kamu kenapa senyumnya begitu?"


"Nggak, memangnya Mas kenapa? Hm?" tanya Ibra yang kini sudah mendaratkan kecupan hangat di keningnya.

__ADS_1


"Terima kasih sudah baik-baik saja, kamu hampir buat Mas gila, Kanaya." Sorot tajam yang mengutarakan betapa bersyukurnya dia dengan kemungkinan yang sekecil itu Kanaya kini baik-baik saja.


Tbc


__ADS_2