
Matahari menyapa di ufuk timur, sepertinya hari ini akan cerah. Cahaya mulai menelisik dari sela-sela ventilasi udara. Pasangan muda itu masih terperangkap dalam kenyamanan yang enggan mereka lepaskan.
Ibra mengerjap pelan, pria itu kembali mengeratkan pelukan kala yang ia saksikan di depannya kini adalah wajah cantik Kanaya. Masih seperti mimpi, dia bahkan memastikannya nyata atau tidak dengan menghujani setiap inci wajah Kanaya dengan kecupan.
Sudah kesekian kali, namun betahnya Kanaya yang seakan tak terganggu membuat Ibra menjadi semakin berkuasa atas tindakannya. Bibir mungilnya diam saja kala Ibra memperdalam kecupannya, sungguh Istrinya kini menjadi mainan baru yang menjadi candu untuk Ibra.
"Eeeuunnggh," lenguh Kanaya pada akhirnya merasa terganggu dengan gangguan Ibra yang tiada henti-hentinya. Persis memperlakukan bayi yang sedang lucu-lucunya.
Ibra terkekeh, kantuk Kanaya masih sebegitu besar namun dia menginginkan istrinya itu membuka mata saat ini juga. Tak bertatap mata selama tertidur membuat Ibra rindu akan istrinya, istri cantiknya yang sejak menikah menjadi tempat pulang terindah untuk Ibra.
"Kanaya ... bangun, udah siang."
Pria itu menelusuri bibir cantik istrinya dengan jemarinya pelan-pelan. Entah cara membangunkan mode apa yang Ibra gunakan kali ini, yang jelas dia hanya ingin istrinya terjaga, itu saja.
"Nay ... Naya."
Nyatanya benar, Kanaya adalah jelmaan kerbau yang akan bangun jika sudah kehendaknya. Nampaknya sengaja memanfaatkan waktu cuti yang ia ajukan tiba-tiba dan cukup memaksa itu denhan sebaik-baiknya.
Tidur, hidup Kanaya selalu cukup dengan hal lain tapi tidak dengan tidur. Bukan karena ada yang aneh dengan kesehatannya, akan tetapi memang dia butuh waktu lebih banyak untuk menyelami lautan mimpi.
Tak puas dengan melakukan hal itu, Ibra mencubit hidung Kanaya hingga memerah. Hal ini terlalu lucu, Ibra lupa jika yang di sampingnya adalah wanita dewasa, bukan balita.
"Eemmhh!!"
Merasa terganggu? Iya, tentu saja. Tapi bukan berarti dia berniat untuk segera bangun dan membalaskan dendamnya. Hanya menepis tangan Ibra dan kemudian merubah posisinya hingga membelakangi Ibra.
Ibra tidak bisa jika begini, mana mau dia bangun sendiri. Sementara untuk tidur lagi pria itu tidak mengantuk sama sekali. Menenggelamkan wajahnya di tengkuk leher Kanaya, aroma tubuh Kanaya lebih menarik dari apapun.
"Mas."
"Hm," sahut Ibra lembut, suara Kanaya membuatnya berdebar tiba-tiba.
"Panas," ucapnya masih setiap memejamkan mata, Ibra menarik sudut bibir kemudian melempar selimut yang sejak tadi membalut tubuh istrinya.
__ADS_1
Pintar sekali bukan? Maksud Kanaya meminta Ibra melepaskan pelukannya, akan tetapi yang dia lakukan justru di luar kepala.
"Masih panas?" tanya Ibra kemudian memastikan, sementara Kanaya hanya menghela napas pelan.
ibra memeluknya terlalu erat, sesak dan belum lagi sejak tadi wajahnya menempel di tengkuk lehernya. Hingga wanita itu memilih untuk bangun juga pada akhirnya.
Berusaha melepaskan tangan Ibra yang melingkar di pinggangnnya. Pergerakan itu disadarinya dan pria itu mengerutkan dahi sebelum kemudian menuruti apa mau istrinya.
Kanaya menggeliat demi meregangkan Otot-ototnya yang luar biasa kaku. Wanita itu hendak beranjak dari tempat tidur yang kemudian Ibra tahan secepat mungkin.
"Mau kemana?" tanya pria itu penuh tuntutan, padahal sejak tadi dirinya sibuk membangunkan istrinya dan anehnya setelah Kanaya bangun dia justru takut Kanaya tinggalkan.
"Mandi, Mas nggak bilang udah jam segini."
Kanaya menggosok matanya yang terasa masih begitu berat, segera membuka tirai jendela kamar dan matanya sempat terkejut dengan cahaya matahari yang tiba-tiba menyerangnya.
"Silau, Nay," keluh Ibra yang kemudian menyipitkan matanya, masih duduk di tempat tidur yang kini kosong dan memerhatikan gerak gerik istrinya.
Selimut yang Ibra lemparkan lumayan jauh, Kanaya memungutnya kemudian merapikan tempat tidur itu meski Ibra tetap berada di atas sana.
"Enggak, cuti."
Bisa saja dia menjawab, menciptakan istilah sendiri padahal sama sekali pria itu tidak konfirmasi pada Gavin yang mungkin saat ini tengah menuju ke rumahnya.
-
.
.
.
Di tempat lain, kedua wanita beda usia itu tengah bersitegang mempertahankan kewarasan. Indira bahkan melemparkan ponselnya kala tak berhasil juga menghubungi Ibra dan juga Gavin.
__ADS_1
"Ma, terus aku harus bagaimana?" tanya Olivia putus asa, sungguh kehilangan Ibra adalah bencana terbesar dalam hidupnya.
"Jangan tanya Mama!! Mama sudah lakukan yang paling baik kemarin tapi kamu gagal menggunakan kesempatan itu."
Indira marah besar, membawa Ibra pulang tanpa rasa curiga adalah hal yang sulit. Dan kemarin, Olivia justru membuang kesempatan itu dan membuat rencana Indira sia-sia.
"Mama jangan salahkan aku, aku bahkan hampir melepas semuanya ... tapi dia menatapku saja tidak mau!!" teriak Olivia yang kini kian histeris, sebenarnya siapa yang salah di sini.
"Kamu bisa menggoda banyak pria tapi kenapa Ibra tidak bisa, Olivia?!!"
"Aaarrgghhh!!! Menyebalkan sekali, Ibra benar-benar membuatku gila!!" Sungguh, kali ini Olivia kehilangan akal sehatnya.
"Hentikan teriakanmu, kamu yang begitu tidak akan membuat Ibra kembali."
Ya, mereka tengah mengutarakan kekesalan masing-masing akibat kehilangan jejak Ibra walau orang suruhan Indira telah bergerak sebisanya.
Sibuk memikirkan cara lain, Indira kini memejamkan mata sembari menarik napas dalam-dalam. Ada hal yang tidak dia ketahui dari perubahan sikap putranya. Tiba-tiba, Ibra semakin menentangnya dan ini bukan seorang Ibra yang biasa.
"Mama harus cari tahu apa yang terjadi sebenarnya, kemana anak itu sampai tidak pulang berhari-hari begini."
Indira sudah memastikan bahwa Ibra memang berbeda. Sejak beberapa bulan terakhir, Ibra tak kunjung pulang dan tidak mau pulang jika tidak dia paksa.
Kemana tempatnya pulang juga Indira tidak tahu, sempat mengira jika putranya akan pulang ke apartemen atau mungkin ke kediaman Gavin. Nyatanya, dugaan Indira salah besar dan hingga saat ini dia merasa kehilangan berita besar tentang Ibra.
"Gavin, anak itu pasti kunci dari semuanya."
Olivia berseru dengan nada yang mendadak serius, dia paham Gavin adalah pria kepercayaan Ibra dan tidak mungkin ada hal yang tidak Gavin ketahui terkait Ibra.
"Benar, sepertinya anak ingusan itu masih saja bertingkah ... andai saja dia bukan anak Dewata, sudah sejak dulu aku lenyapkan."
Indira menatap nanar penuh dendam, ingin berbuat nekat namun mengingat Gavin adalah anak dari orang kepercayaan Megantara semasa hidup dan berjasa banyak pada Indira sewaktu masih muda membuat wanita paruh baya ini tak bisa berbuat apa-apa.
"Oliv nggak mau tau, Ma ... sampai kapanpun, Ibra tetap harus jadi suami Oliv." Saat ini, bahkan sejak dahulu Olivia selalu mendesak Indira agar dia bisa kembali pada Ibra apapun caranya.
__ADS_1
"Mandiri, Olivia ... jangan hanya andalkan Mama."
TBC