
Berada di ruangan Gibran dengan perasaan luar biasa tak nyaman. Kanaya sejak tadi hanya menatap kesal Gibran. Sungguh pria ini kenapa semakin berulah menjadi pasca pernikahan yang ia jalani.
"Kanaya."
Gibran menghela napas panjangnya, nemejamkan mata sembari menyandarkan tubuh lesunya. Dia sempat marah, terutama pada staff yang merupakan teman Kanaya.
"Apa ada yang Bapak butuhkan?" tanya Kanaya sopan seperti biasa, layaknya pada atasan yang memang harus dia hormati walau mendapat jabatan itu adalah hasil Gibran menjadi seorang penjilat.
"Lihat aku sebagai Gibran, sebentar saja."
Berbelit-belit, sejak tadi Kanaya sudah mengatakan bahwa dia menunggu hal penting yang ingin Gibran katakan. Pria itu tampak terdiam kaku dan mulutnya seakan terkunci saat ini.
"Aku tidak punya waktu untuk membahas hal lain, bukankah Anda yang pernah mengatakan bahwa jam kerja tidak memandang siapapun dengan perasaan?"
Ya, kalimat andalan yang melekat dalam diri Gibran sehingga banyak yang mengaguminya sebelum naik jabatan. Walau memang pria itu cukup disiplin, akan tetapi cara dia yang juga menjadikan Kanaya sebagai batu loncatan adalah hal paling hina yang pria itu lakukan.
"Hanya ini caraku bisa mengajakmu bicara, kamu sesulit itu meresponku bahkan melihatku saja tidak mau," keluh Gibran lirih, teringat jelas bagaimana dia tidak Kanaya hiraukan ketika di lift pagi tadi.
"Apa yang perlu dibicarakan? Kita sudah selesai dan jangan membuatku semakin berada di posisi sulit." Kanaya wanti-wanti masalah baru akan muncul, jika dia di cap pelakor oleh Khaira, alangkah hinanya dia, pikir Kanaya.
"Maaf ... Kanaya, aku tidak seharusnya melakukan hal itu padamu."
Hal apa? Menikahi Khaira setelah usai dengannya? Atau niat gilanya yang mencoba menjamah Kanaya ketika di rumah? Tidak ada yang bisa Kanaya anggap baik-baik saja hanya karena kata maaf.
"Jika Anda hanya akan membahas hal pribadi, sebaiknya saya pergi."
__ADS_1
Kanaya berdiri dan hendak berlalu dari ruangan Gibran cepat-cepat. Namun, pria itu justru menahan pergelangan tangannya cukup kuat hingga menimbulkan rasa sakit.
Menarik Kanaya kembali dengan kasar hingga wanita itu terhempas di sofa. Tidak menyakitkan tapi cukup mengejutkan. Mata Kanaya membulat sempurna dan demi apapun dia benci sekali perlakuan Gibran yang masih saja suka memaksa.
"Aku belum selesai, Naya ... kamu tidak pernah meninggalkanku ketika aku masih bicara."
Gibran kecewa, jika perkara cinta memang masih ada dan itu takkan hilang walau di sisinya ada Khaira. Wanita itu menghempaskan tangan Gibran kasar dan menarik napasnya dalam-dalam.
"Aku tidak peduli, tolong bedakan waktu dan posisiku ... sebelumnya memang aku pernah sebaik itu, tapi tidak untuk sekarang."
"Karena apa? Suamimu itu? Kamu cinta dia, Kanaya?" tanya Gibran pada poinnya, pria itu yakin betul jika pikirannya benar.
Pria itu datang terlalu cepat dalam hidup Kanaya, rasanya sangat tidak mungkin jika Kanaya sudah mencintai Ibra secepat itu.
"Iya ... jelas aku mencintainya, dan seperti yang kau tau aku bahkan mengandung anaknya. Menurutmu, apa mungkin aku tidak mencintai seseorang yang sudah menciptakan kehidupan lain dalam diriku?" Kanaya berucap lugas tanpa gugup sedikitpun, walau sebenarnya perihal mencintai Ibra dia belum seyakin itu.
"Jaga mulutmu," geram Kanaya mulai kehilangan kesabaran.
"Nay-nay ... Mas tidak paham apa yang kamu pikirkan sebenarnya, tapi saat ini kamu sedang berbohong pada hatimu, kamu tidak mencintainya kan," sambung Gibran kemudian, pria itu terkekeh dan menganggap ini adalah hal lucu.
π€π€π€π€
Kanaya mengepalkan tangannya, matanya menatap tajam Gibran dengan emosi yang luar biasa menggebu. Gibran menyebut bahwa kehamilannya adalah kesalahan, dan demi apapun dia membenci kalimat itu.
"Sudahlah, jujur saja padaku ... tidak mungkin wanita sebaik Kanaya rela melakukan itu diluar nikah, mirisnya kamu sampai benar-benar hamil. Apa salah jika Mas menyebut itu kesalahan?" tanya Gibran menatap lekat Kanaya, sadar jika wanita itu sudah. berada di puncak emosi, dan bisa jadi sebentar lagi Kanaya yang ia rindukan akan terlihat.
__ADS_1
"Salah! Semua orang bisa berubah dan tidak perlu berekspetasi bahwa aku akan sebaik itu," tegas Kanaya tak sedetikpun melepaskan Gibran dari tatapan mautnya.
Gibran menggeleng pelan, sejak malam dimana Ibra meminang Kanaya dan bahkan secara nyata mengatakan alasannya, pria itu merasa hancur dan kehilangan hal penting dalam hidupnya.
"Kembalilah padaku, kita bisa mengulang semuanya baik-baik dan kamu tidak perlu khawatir karena aku akan menerima anak itu seperti anak kandungku sendiri," ujar Gibran entah kenapa terdengar menjijikkan di telinga Kanaya.
"What? Kamu salah obat? Atau belum minum obat?" Sungguh Kanaya bingung kenapa bisa ada bentuk laki-laki yang seakan tak punya malu sama sekali.
"Tidak, Kanaya ... Mas serius, kasih kesempatan sekali lagi untuk Mas, Kanaya." Pria itu mengharapkan bunga yang telah dia buang kembali dalam keadaan segar, salahnya dia tidak sadar bagaimana dulu Kanaya menjadi layu tak bertuan setelah dia tinggalkan.
"Dasar gila, kamu pikir akan semudah itu? Dan kalaupun kamu serius, aku tidak akan mau. Aku punya suami yang menerimaku sebaik itu, lalu untuk apa aku kembali padamu?" Menatap Gibran sembari memutar bola matanya malas, hal ini kerap ia dengar beberapa tahun lalu.
"Naya tolonglah!!" Gibran berlari kala Kanaya kini berlalu pergi, sempat terdiam ketika mendengar ucapan Kanaya dan kini pria itu hampir menggila.
"Lepaskan aku!! Kamu sudah punya Khaira yang kamu pilih untuk dimuliakan dalam hidup kamu, jangan menciptakan luka di banyak hati, Mas, sadar itu." Tak lagi peduli meski genggaman Gibran cukup kuat, wanita itu menghempasnya kuat dan kemudian berlalu usai membanting pintu seenak jidat.
"Kanaya tunggu!!" teriakan Gibran cukup kuat, dan sialnya ada orang lain melihat mereka dan Gibran memilih untuk kembali masuk dengan perasaan kesalnya.
Melangkah panjang dengan perasaan yang luar biasa menggebu. Wanita itu tidak melihat ke depannya dengan baik. Bibirnya tak henti mengomel dan demi apapun rasanya ingin mengubur Gibran ke dasar laut.
Peduli setan dengan banyaknya kenangan, wajah Gibran sama sekali tak layak di kenang. Kanaya merasakan kegilaan yang kian hari kian bertambah, setelah beberapa hari hidupnya aman lantaran yang dia temui hanya Ibra, kini pikirannya kembali dikacaukan pria itu.
BRUGH
"Awww, jalan pakek mata!! Kenapa orang di sini tidak ada yang war ...."
__ADS_1
Haah? Mata Kanaya membulat sempurna, mendadak mulutnya segera ia tutup secepatnya kala menyadari pria yang kini dia tabrak. Seakan tak percaya tapi memang itu kenyataannya, sesempit itukah dunia? Pikirnya memperhatikan pria tinggi yang kini berada di depannya.
TBC