Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 38


__ADS_3

BRUGH


Ibra tak peduli bagaimana resikonya, mau kakinya patah juga terserah. Beruntung pia itu mendarat dengan posisi yang tidak membahayakan, hanya rumput tebal dan memang sakit itu pasti ia rasakan.


Dengan kaki yang sedikit pincang lantaran kakinya mungkin sedikit tertekan dengan berat tubuhnya yang lumayan. Ilmu bela diri Ibra memang cukup matang, tapi bukan berarti dia bisa baik-baik saja meski melompat dari kamar tidurnya.


"Aaarrrggghhh, sialan!! Jallang itu benar-benar menyiksaku!!" sentak Ibra kesal luar biasa, pria itu meringis dan tetap mencoba berjalan meski kakinya sedikit sakit.


"Di sana!!" teriak salah seorang penjaga yang bisa dipastikan atas perintah Indira.


"Bangshaat, masih saja pakai cara kuno."


Ibra mempercepat langkahnya, jaraknya untuk tiba ke mobil cukup jauh dan dengan penjagaan yang Indira kerahkan nampaknya Ibrahim akan sedikit kesulitan.


"Anda mau kemana, Tuan muda?"


Mereka orang-orang baru yang bisa dipastikan bayaran Indira dari pihak luar. Tubuh besar dan tinggi yang cukup menakutkan sebenarnya bisa saja Ibra kalahkan, akan tetapi mengingat kondisi kakinya yang terasa amat sakit dia berpikir ini sedikit sulit.


"Menjauh dariku, aku tuan rumah di sini ... kalian harusnya tau siapa yang patut kalian patuhi."


Ibra mengepalkan tangannya, tatapan mereka cukup tajam dan memang terlihat jika menentang Ibra walau mereka tahu siapa posisi Ibra di rumah.


"Ringkus," titah satu orang yang dia yakin adalah pemimpin mereka, siap-siap menerima serangan meski dia tidak yakin bisa melawan sebaik dahulu.


Pria berkumis tebal itu maju dan mulai mengambil ancang-ancang untuk meringkus Ibra, sebelumnya Indira sempat memerintahkan untuk menjerat Ibra tanpa melukainya, akan tetapi jika dia melawan maka tidak apa hal itu dilakukan.


"Cuih, menyerahlah tuan muda ... lompat dari lantai dua, aku rasa tulang kakimu ada yang retak."


Senyum itu tertarik tipis, Ibra mengeraskan rahang bersamaan dengan gigi yang kian bergemelutuk. Dia pikir akan takut hanya dengan ancaman seperti itu, Ibra tak tinggal diam, pukulan sekuat tenaga dia berikan kala pria itu hendak menyerangnya.


BUGH


Sekali hantaman, sudut bibir pria itu mengalirkan darah segar. Merasa tak suka, dia membalas dan memberikan pukulan yang sama pada Ibra. Tak kalah kuat dan pergulatan mereka kian memanas kala Ibra kembali membalasnya dan membuat pria itu terjatuh setelahnya.

__ADS_1


"Maju kalian," perintah pria yang menjadi pemimpin itu kembali, pantang baginya kalah jika musuh sudah melakukan perlawanan.


"Pengecut!! Dibayar berapa kalian haaah?!" Ibra menatap remeh pria itu, bahkan sembari meludah dan yang keluar adalah darah akibat lukanya.


"Yang jelas mahal sekali, Tuan muda ... anda tidak akan mampu membayar kami," ungkap pria itu menarik sudut bibir sembari menatap Indira yang kini berdiri di balkon lantai dua menyaksikan peringkusan putra tirinya.


Belum sempat menghina untuk kali kedua, serangan dari kedua pria lainnya datang bersamaan dan Ibra sempat lengah bingga membuat dia terjatuh kala tangan gempal itu menghantam perut dan dadanya.


Rasanya sakit sekali, sejenak Ibra butuh waktu untuk kembali mengambil napas dengan baik. Pria itu terpejam sembari menggigit bibir bawahnya, didikan papanya membiasakan Ibra untuk menerima serangan dan rasa sakit, tapi untuk sakit yang kali ini rasanya benar-benar sakit.


"Aaarrgghh."


Ibra baru hendak berdiri namun pria yang satu kembali menghadiahkan tendangan di perutnya. Kenapa Indira tega, bukankah wanita menyayanginya. Pertanyaan itu terkadang muncul kala Ibra menerima perlakuan yang seperti ini dari Indira.


Sementara di atas sana, Olivia sudah panik melihat Ibra yang terlihat tersiska. "Mama, cukup ... apa tidak berlebihan? Dia bisa mati, Ma," desak Olivia meminta agar mereka berhenti.


"Biarkan saja, Olivia ... Mama sudah lama tidak menghukum Ibra, mungkin dia juga merindukan cara Mama yang begini," tutur Indira sangat-sangat santai, bibirnya tersenyum tipis dan sama sekali tidak ada perasaan bersalah dan takut putranya akan celaka.


.


.


.


"Lagi, Bos?"


"Jangan banyak tanya, ringkus sekarang!!" desak sang pemimpin dan keduanya kembali berusaha untuk meringkus Ibra.


"Lep-lepaskan aku sialaan!! Aakhh, Naya." Ibra memejamkan mata kala tangannya kini terkunci dan dua orang itu memegangi sembari berseru senang karena lawannya berhasil tunduk.


"Hahah jangan melawan lagi, Tuan muda ... Anda suda terluka," ucap pria itu mengejek Ibra dengan tawa menggelegarnya.


"Kalian pikir semudah itu bisa melumpukan aku? Hm? Tidak, Badjingan!!" teriaknya marah.

__ADS_1


Dengan sisa tenaganya Ibra mengeluarkan kemampuannya hingga saat terakhir, saat ini yang ia ingat hanya Kanaya dan calon bayinya. Dia harus kembali secepatnya, jika Ibra berhasil diringkus dan terjebak dalam kuasa Indira maka akan sulit baginya keluar walau Ibra sebenarnya bukan pria lemah.


"Ma*ti kalian!!"


Kemarahan sudah tak tertahan, sakit di tubuhnya harus tergantikan. Ibra membabi buta dan tak peduli walau pria yang ada dalam kuasanya terkulai lemas. Meggunakan salah satu dari mereka sebagai umpan dan Ibra sejenak bertahan di puncak kemenangan.


"Mundur atau teman kalian mati ditanganku!" ancam Ibra kini mengeluarkan pisau lipat di sakunya, pisau lipat yang sudah merasakan berbagai jenis darah dan Ibra lakukan ketika marahnya kian memabara.


"Mundur!!!" teriak Ibra berhasil membuat mereka angkat tangan, ujung pisau itu sudah melukai kulit leher pria yang kini dalam kuasanya.


Ibra Megantara tak main-main, jika dia berniat membunuh, dalam satu gerakan bisa saja nyawa lawannya akan melayang.


Ibra memanfaatkan kesempatan, pria itu melangkah ke mobil dan tidak melepaskan sanderanya.


BRUGH


Pada akhirnya Ibra berhasil menuju di mobilnya, pria itu mendorong jauh pria yang tadi menjadi sanderanya sebelum kemudian masuk dan memaju laju kendaraannya keluar dari rumah itu.


"Boddoh kalian!! Kejar!!" titah Indira dengan suara berapi-api, dia marah besar kala mobil Ibra melaju begitu cepatnya.


Ibra hanya berharap penjaga gerbang tidak akan pro Indira dan tidak menghalangi kepergiaannya. Pria itu yakin, mereka yang bekerja dengan baik dan menempatkan posisi secara baik akan mengerti siapa yang patut dipatuhi.


"Buka!!!" teriak Ibra memohon pengertian, beruntung saja pria paruh baya itu tak ikut campur urusan Indira, walau mungkin bisa jadi dia terancam berada di posisi tak aman.


Dengan tubuh yang kini gemetar, dan dada yang kian cepat berdebar Ibra mencoba fokus walau tubuhnya serasa patah semua. Dia sangat lelah, namun harus lari dari tempat itu sekarang juga.


Tak peduli kecepatannya kini membahayakan siapa, yang jelas Ibra hanya mencoba mencari titik aman dan pulang di hadapan Kanaya dalam keadaan baik-baik saja.


Ibra mengusap kasar wajah yang terasa lebam semua, sudut bibir yang bisa dipastikan robek, lantaran perihnya seakan menggigit tak membuat Ibra menyerah.


"Tunggu aku, Kanaya ... aku pasti pulang untukmu."


TBC

__ADS_1


__ADS_2