
Sepanjang hari, Lorenza hanya terus memikirkan ucapan wanita yang tadi sempat tegang urat bersamanya. Entah kenapa, hati Lorenza justru berpikir wanita itu benar meski sebelumnya sempat dia anggap sebagai khayalan belaka.
Wanita itu menarik napas pelan, semenjak Kanaya menikah dia memang sedikit terbatas perihal interaksi. Terutama menjelang bulan kedua pernikahan sahabatnya, Kanaya berhenti kerja dan berkali-kali dia bertanya pada Ibra apa alasannya, pria itu hanya menjawab semua demi kebaikan Kanaya dan kandungannya.
Sebagai sahabat Kanaya yang mengenal Ibra di waktu yang sama, Lorenza menyimpan banyak tanya terkait kehidupan pribadi suami sahabatnya itu. Bukan karena maksud apa-apa, hanya saja yang Lorenza pikirkan saat ini semata-mata karena Kanaya.
"Huft, firasatku makin nggak nyaman ... nanya Gavin nggak ada bedanya sama nanyain bantal," keluh Lorenza bingung sekali, dia bertanya pada Gavin bahkan sedikit memaksa, sayangnya pria itu tetap diam membisu dan membuat Lorenza lelah dengan sendirinya.
Hendak menghubungi Kanaya, tapi memang sesulit itu. Dia kesal, bahkan rasanya ingin marah karena Kanaya tiba-tiba berubah jadi seleb yang hanya bisa dihubungi di jam-jam tertentu dan waktunya tidak lama.
Biasanya mereka akan menghabiskan waktu untuk membahas hal apapun di grup chat, dan saat Lorenza ingat hari ini Ibra tak masuk kerja, sudah pasti wanita sibuk dengan suaminya.
"Apa aku datengin ke rumahnya ya?"
Menimbang keputusan, dia bisa saja menghampiri Kanaya untuk saat ini. Tak ingin sahabatnya menjalani rumah tangga yang abu-abu, Lorenza berpikir dengan dia bergerak sendiri maka itu akan lebih.
Sengaja tidak memberitahu Siska dulu, sebagaimana yang Gavin katakan bahwa ucapan Olivia harus berhenti di dirinya. Selain itu, andai saja Siska yang mengetahui, Ibra sudah habis detik itu juga.
"Kalau Gavin nggak mau bilang, Mas Ibra sendiri yang harus jelaskan."
Lorenza, wanita pemberani dengan tekad luar biasa tinggi. Mana mungkin dia biarkan Kanaya merasakan duka dalam hidupnya. Jika memang Ibra sudah memiliki istri, alangkah merasa bersalahnya dia, karena ide untuk mencari pria bayaran itu adalah dirinya.
Ketika jam kerja usai, seperti biasa Lorenza akan berlalu dengan tatapan yang sengaja ia tajamkan agar terlihat menakutkan. Percayalah, dia mempelajari hal itu cukup lama bahkan Kanaya dan Siska sampai kesal jika dia menerapkan ilmu yang ia serap untuk menunjukkan bahwa dirinya wanita kelas atas.
Wanita itu melaju pelan, tentu saja dia takut mobilnya menabrak sesuatu. Sembari menghela napas perlahan, untuk pertama kalinya setelah kehidupan Kanaya tentram Lorenza pulang dengan arah berlawanan.
Tak peduli kalaupun dia harus pulang telat nanti, yang jelas Lorenza hanya ingin kepastian dari Ibra. Dan dia akan melakukan segalanya jika pria itu terbukti membohongi sahabatnya.
__ADS_1
Perjalanan menuju kediaman Kanaya tidaklah sedekat itu. Wanita itu menambah kecepatan kala jalanan terasa lenggang.
"Mobil itu? Kenapa mengikutiku?" tanya Lorenza dalam hati begitu menyadari ada seseorang yang bahkan menyesuaikan kecepatan sesuai dengan dirinya.
Tak ingin terlalu lama, Lorenza semakin menambah kecepatannya dan mobil yang mengikuti dia juga tak mau kalah. Kesal sekali rasanya, kenapa harus sore ini dia bertemu dengan pengemudi sinting macam itu, pikir Lorenza kesal luar biasa.
"Damn it!!" umpatnya semakin sebal, nampaknya ada seseorang yang mengalahkan kemampuannya.
Hingga, beberapa waktu mereka terus menerus begitu. Dan Lorenza menganga begitu mobil itu justru menghalangi jalannya dengan begitu mudah.
"What the ... apa maunya."
Dia tidak takut sama sekali, meski ini tempat sepi dan dia bahkan tidak mengetahui siapa yang ada di mobil itu. Entah itu penjahat atau siapapun, dia tidak peduli. Yang terpenting saat ini, pria itu berani menghalangi jalannya dan artinya dia harus menerima akibatnya.
-
.
.
.
Sudah mengambil ancang-ancang, tangannya sudah mengepal dan giginya bergemelutuk. Andai saja pria itu keluar, sudah dia pastikan serangan dadakan itu akan dia kerahkan.
"Kau ...."
Kanaya terdiam, pria yang sejak tadi menjadi misteri kini keluar dari mobilnya. Dengan tatapan mata yang tak terbaca, Gavin Andreatama melangkah lebih dekat padanya.
__ADS_1
"Kenapa? Kau terkejut, Lorenza?" Suara itu terdengar dingin, tampaknya dia marah karena Lorenza melakukan hal yang nyata-nyata dia larang.
"Kenapa kau mengikutiku?" tantang Lorenza membalas tatapan Gavin, pria itu cukup tinggi dan lehernya memang sedikit sakit jika memadang Gavin terlalu lama.
"Aku tidak mengikutimu, aku hanya memastikan karena sepertinya tujuan kita akan sama ... benar begitu, Lorenza?" selidik Gavin dengan wajah datar yang membuat pertahanan Lorenza untuk memukulnya tiba-tiba saja hilang.
"Lalu, kenapa kau menghalangiku?"
"Aku tidak suka wanita pembangkang, Lorenza ... sepertinya kau tidak paham ucapanku tadi siang ya," imbuhnya dengan sedikit senyum yang terbit di sana, percayalah itu bukan senyum keramahan, tapi kemarahan.
"Aku hanya ingin memastikan, karena yang Ibra nikahi adalah sahabatku ... kami sama-sama membenci pria pembohong seperti kalian berdua, sebelum terlanjur lama, Ibra harus jujur jika memang ucapan wanita itu benar."
Menatap tajam Gavin tanpa sedikitpun rasa takut, saat ini yang dia tuntut hanya kejelasan. Sementara Gavin sesulit itu menjelaskan dan memilih bungkam dengan alasan jangan mengacaukan hal yang sudah Ibra bangun dengan baik.
"Lorenza ... Olivia hanya mantan istrinya, bukan lagi istri. Dan mengenai hal ini, Ibra belum bisa jujur secepatnya karena keadaan yang membuat Ibra harus menahan hal ini," jelas Gavin pada akhirnya, sungguh dia tidak berpikir bahwa Lorenza akan senekat ini membantah ucapannya.
"Apapun itu, sekalipun mantan istri seharusnya Ibra jujur sebelum resmi menjadi suami Kanaya!!" sentak Lorenza tak terima, kekaguman pada Ibra rasanya runtuh seketika mengetahui fakta yang pria itu sembunyikan terlalu menyakitkan menurutnya.
"Saat ini, kau tau sebahagia apa mereka berdua bukan? Kau lebih dekat bersama Kanaya dan bagaimana dia setelah menikah, pasti kau pahami, Lorenza ... coba kau bayangkan jika Kanaya mengetahuinya sekarang, kau tidak khawatir tentang apa yang akan terjadi kedepannya?"
Membingungkan, memang benar apa yang dikatakan Gavin. Kanaya sebahagia itu setelah memiliki suami. Dia bahkan tak pernah mengadu seraya menangis lewat telepon seperti sebelumnya, yang ada hanya tawa Kanaya yang membanggakan Ibra sebagai prianya.
"Tidak perlu kau pikirkan, jangan gegabah. Aku akan bicarakan pada Ibra, tanpa perlu kau desak dia setiap malam memikirkan itu, Lorenza."
Gavin tidak berbohong, setiap hari Ibra bercerita bagaimana dia yang memandangi wajah istrinya kala terlelap dalam damai. Memikirkan bagaimana dia memulai untuk jujur, dan bagaimana nantinya jika dia benar-benar mengatakan fakta yang sebenarnya. Sederhana saja, Ibra takut Kanaya tidak menerima masa lalunya, itu saja.
Pertemuan keduanya berakhir dengan Lorenza yang mengalah, mencoba memahami bukan dari sisinya saja. Gavin tak melepaskan pandangan kala mobil Lorenza kian menjauh, tak ia duga akhirnya bisa membuat wanita itu luluh.
__ADS_1
"Huft, hampir saja." Gavin memejamkan mata, Ibra yang berumah tangga tapi dia yang dibuat pusing.
Tbc