Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 100


__ADS_3

BUGH


Lorenza terpaksa, menyakiti dada Olivia dengan sikunya hingga jambakan itu terlepas dan Kanaya menganga. Lorenza mengambil gelas di meja dan membuang isinya sebelum kemudian dia menghampiri Olivia yang berusaha menyesuaikan keseimbangan di sana.


"Lorenza Jangan!!"


PRANK


Terlampau emosi karena sakit pundaknya digigit salah satu teman Olivia, wanita itu murka dan berniat melakukan itu. Darah bercucuran dari kepalanya, pecahan gelas itu berceceran dan Kanaya terlambat melarangnya.


Siapapun yang melihat itu jelas bergidik ngeri, gelas itu tidaklah tipis dan kini hancur kala bertemu dengan kepala Olivia.


"Oliv!!!" teriak wanita berambut merah itu dan berusaha menyadarkan Olivia, melihat temannya yang tak berdaya dengan dengan luka di keningnya dia tak bisa berbuat apa-apa.


"Lorenza!! Apa yang kamu lakukan, sadar, Za!!"


Kanaya mengguncang pundak Lorenza, dia dirundung kebingungan dengan apa yang terjadi. Flash dari kamera ponsel yang mengelilingi membuat Kanaya panik. Wanita itu takut, penjara sudah pasti karena yang melihat Lorenza sebagai pelakunya bukan hanya satu orang.


"Olivia bangun!! Shena, telepon tante Indira sekarang!!"


Jeritan wanita yang kini berusaha menyadarkan Olivia memekakan telinga. Setelah kejadian sebrutal ini barulah mereka mau mengalah dan membiarkan para pekerja di restaurant itu turun tangan.


Menghubungi ambulance dan memaksa mereka semua bubar meski sesulit itu. Lorenza masih terpaku, dia bingung sendiri apa yang dia lakukan. Serpihan kaca yang dan tetesan darah itu Lorenza saksikan setiap detiknya.


Siska datang terengah-engah dan wajah pucat pasi membuat Kanaya semakin panik. Mereka sudah diam dan perasaan Siska semakin tak karuan lagi.


"Siska kenapa?" tanya Kanaya, dan wanita itu hanya menangis tiba-tiba.


"Siska katakan ada apa sebenarnya?"


Bagaimana Kanaya tidak bingung, semua membuatnya pucat pasi. Lorenza yang kini membuat Olivia tak berdaya di lantai, sementara Siska yang datang dengan tangan gemetar.


"Jakcson hanya diam ketika aku panggil, dan diperutnya mengeluarkan banyak darah, aku ta-takut Kanaya."


Mata Kanaya membulat sempurna, wanita itu menyadari jika kehadiran Olivia memang dengan niat tidak baik padanya. Jika Jackson sendiri, lalu bagaimana dengan Axel, pikir Kanaya.


"Axel bagaimana?"


"Dia nggak ada di sana, Nay ... di mobil hanya ada Jackson."


Kanaya membeku sejenak, kedua bodyguardnya memang selalu menunggu di mobil. Dan jika sudah begini, maka bisa dipastikan ini bukan main-main lagi.

__ADS_1


Kepala Kanaya terasa pusing tiba-tiba, tubuhnya lemas seketika. Sebelum menutup matanya, Kanaya masih dengan jelas mendengar suara ambulance tiba. Apa yang terjadi setelahnya dia tidak paham sama sekali.


-


.


.


.


"MAAASSS!!"


Kanaya terbangun, dia bernapas lega jika memang ini mimpi. Sayangnya, harapannya pupus sudah kala menyadari dimana dia berada saat ini. Kamar dengan nuansa dan bau yang khas, infus dan selimut yang menutup sebagian tubuhnya membuat Kanaya menatap bingung sekelilingnya.


"Rumah sakit?"


Kanaya terdiam seketika, mulutnya terkunci dan saat ini dia sendiri. Hanya ada tas kecil di atas meja yang tak bisa Kanaya raih. Hendak mencoba turun namun kepala Kanaya rasanya berat sekali.


Ceklek


Pintu itu terbuka, Kanaya menanti dengan sabar siapa yang datang. Dia merindukan Ibra, sangat-sangat merindukan suaminya. Dia takut, apa yang terjadi sebelumnya mengguncang jiwa Kanaya.


Beberapa waktu mereka berada di titik tenang, namun kini kembali Kanaya dirundung kegelisahan. Sepasang mata yang sama sekali tak Kanaya duga, Abygail mendekat dengan senyum hangat yang sejak dulu dia nantikan.


Tenang, ada kerinduan ketika dia melihat wajah itu tersenyum padanya seperti dulu. Kanaya menggosok matanya, takut jika dia tengah berhalusinasi.


"Kamu udah sadar, Kanaya?" tanya Abygail mengelus puncak kepalanya, hal biasa yand dahulu Abygail lakukan jika adiknya sakit.


"Aku kenapa, Mas?"


Yang dia ingat terakhir kali adalah suara ambulance dan keramaian di tempat itu. Kanaya masih begitu pucat, Abygail memintanya untuk jangan terlalu banyak berpikir lebih dulu.


"Lorenza mana?"


"Kamu lapar?"


Abygail mengalihkan pembicaraan, saat ini membicarakan Lorenza bukanlah hal yang baik. Dirinya berusaha agar Kanaya tidak mencari tahu perihal sahabatnya itu lebih dulu.


"Enggak, tapi haus."


Abygail tersenyum, Kanaya masih sama. Semudah itu kehilangan fokus dan hal inilah yang menjadi kelemahan Kanaya. Pria itu memberikan segelas air dan menggeleng pelan begitu Kanaya menegaknya hingga tandas.

__ADS_1


"Mas kok bisa ada di sini?"


"Kebetulan, adikku masih suka berantem setelah menikah ternyata."


"Mas lihat aku ya? Kenapa gak bantuin?" Kanaya mencebikkan bibirnya, jika memang dia melihat kenapa diam saja, pikir Kanaya.


Abygail menggeleng, mengingat bagaimana pertengkaran mereka diluar batas wajar. Rencana Tuhan memang sedemikian indah, berawal dari penasaran hingga pria itu memutuskan untuk masuk.


Dan di luar dugaaan, dia melihat Lorenza dan Kanaya di sana. Datang di saat yang tepat, Abygail hampir saja terlambat menahan tubuh mungil adiknya.


"Mantan istri? Ibra pernah menikah sebelumnya, Nay?"


Wanita itu terdiam, hal itu sampai juga ke telinga Abygail ternyata. Sejak di tempat kejadian, hal yang dia dengar dari saksi mata di sana membuat telinga Abygail sakit. Meski penjelasan Siska membuatnya sedikit tenang, tetap saja Abygail tak nyaman.


Hanya anggukan sebagai jawaban, Abygail menghela napas pelan namun hal ini tidak bisa jadikan alasan untuk marah. Pria itu harus menerima, karena memang hanya Ibra yang menerima Kanaya saat dunia bahkan tak menerimanya.


"Kamu sudah tau sejak lama?"


"I-iya, Mas ... aku udah tau."


BRAK


"Kanaya!!"


Kebiasaan sekali, buka pintu pakai tenaga dalam di saat terdesak dan Kanaya terperanjat kaget dengan kehadiran suaminya. Ibra melangkah panjang dan segera menariknya dalam pelukan, tak peduli ada Abygail yang ada di sana.


"Mas keluar dulu, suamimu sudah datang."


"Terima kasih banyak, Mas." Ibra berucap sopan sembari menundukkan kepala, Abygail menghubunginya di saat Ibra sibuk luar biasa dan pria itu bahkan meninggalkan rapat yang baru setengah jalan.


Interaksi mereka terlihat baik, Kanaya tersentuh karena Ibra mulai memberikan ruang untuk Abygail. Menyisakan mereka di tempat ini, Ibra minta maaf berkali-kali karena gagal menjaganya.


"Bukan salah kamu, kan nggak tau kalau dia bakal datang lagi," tutur Kanaya memberikan ketenangan pada suaminya, keadaan berbanding terbalik dan justru Ibra yang harut ditenangkan.


Masalahnya bukan hanya perihal Olivia, anak buah Gavin juga menjadi korban dan bisa dipastikan Olivia tidak sendirian. Laporan Axel beberapa waktu setelah Ibra menerima telepon dari Abygail membuatnya bahkan tak bisa bernapas dengan tenang sama sekali.


"Kamu baik-baik saja kan?"


"Iya, Mas ... tapi Lorenza sama Siska dimana?"


Sejak tadi Kanaya mempertanyakan dimana kedua sahabatnya. Kenapa menghilang dan Kanaya masih kalut memikirkan apa yang tadi sempat terjadi.

__ADS_1


"Nanti saja bahas mereka, yang terpenting sekarang kamu dan bayi kita baik-baik saja, Kanaya." Ibra menempelkan keningnya, hampir saja dia kehilangan Kanaya sekali lagi.


To Be Continue


__ADS_2