Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 132


__ADS_3

Bingung, kaku dan sama sekali Gavin tidak terpikirkan hendak melakukan apa. Pria itu berlalu keluar kamar dan turut bergabung ke ruang keluarga.


Pengantin baru, sudah berapa kali telinga Gavin mendengarnya. Itu pujian atau ledekan sebenarnya, malam ini beberapa orang terdekat masih ada di sana.


Termasuklah Ibra dan juga Kanaya, entah apa yang menjadi alasan mereka tidak pulang-pulang sebenarnya. Namun yang jelas sejak tadi Maria terus saja duduk di sisi Kanaya dan bahkan menyuapkan buah untuk istri Ibra itu.


Matanya mengelilingi beberapa orang di sini, Hilmira tampaknya benar-benar menerima Lorenza. Sang mama rela pulang ke tanah air demi bisa membersamai putranya menikah.


Gavin duduk di sisi Ibra, dengan baju kaos dan celana pendek yang membuatnya semakin terlihat telah resmi menjadi penghuni rumah itu. Kakunya Gavin dapat terlihat jelas, pria itu sejak tadi bahkan belum bicara padahal Ibra dan Wiradh tentang berbincang hangat.


"Kamu kenapa bisa suka sama anak Mama?"


Pertanyaan sulit, mau bagaimana Lorenza menjawabnya. Bertemu dengan mertuanya baru hari ini, dan Lorenza sudah cukup ketar-ketir karena penampilannya bahkan terlihat sangat muda.


Gavin sudah 28 tahun, tapi sang mama masih begitu cantik hingga membuat wanita berambut pendek itu kikuk ketika bicara dengannya.


"Jangan gugup ... Mama kan cuma tanya."


"Ehm, suka karena ... karena apa ya? Gavin baik, Ma," jawab Lorenza tetap saja gugup, wanita itu tersenyum lebar dan memperlihatkan gigi rapihnya.


"Syukurlah, Mama pikir dia menyukai wanita sebelumnya." Sejak dulu, hal yang dikhawatirkan Hilmira hanya itu, sang putra selalu mengelak jika ditanya perihal wanita. Hanya Ibra dalam hidupnya, dan sebagai seorang mama jelas saja Hilmira takut.


Di luar dugaan, wanita itu tidak sama sekali membahas tuduhan terkait kesalahan Lorenza. Wanita itu mulai membicarakan hal yang lebih dalam lagi terkait Gavin, sejak dia kecil dan hingga pertumbuhannya yang sudah sedewasa ini.


Apa begini rasanya punya mertua? Sepertinya tidak seburuk yang dia bayangkan sebelumnya. Sejak remaja Lorenza selalu menganggap mertua sebagai momok yang akan membuat hidup tertekan di masa yang akan datang.


Cara bicara Hilmira benar-benar berkelas, Lorenza bahkan merasa sulit untuk mengimbanginya. Wawasan wanita itu tampaknya benar-benar luas, wajar saja jika Gavin juga demikian.


Beberapa kali Lorenza hanya memberikan senyum tipis, hal konyol yang Gavin alami sepertinya jadi hiburan sekali. Wanita itu tak menyadari jika dirinya tengah terpantau Gavin sejak tadi.


Sorot tajam Gavin tertuju padanya, cara Lorenza bicara dan menarik sudut bibir kemudian menampilkan gigi rapihnya terekam jelas di pikiran Gavin. Hanya menegaskan, jika itu adalah istrinya.


"Masuk kamar sana, susul istrimu."

__ADS_1


Dalam lamunan, Gavin tidak sadar jika Lorenza sudah pergi dari hadapannya. Pria itu menatap bingung pria paruh baya di hadapannya, titah itu dia berikan untuk Gavin secara mutlak.


"Nanti saja, Pa ... aku belum ngantuk," jawab Gavin mengulas senyum hangatnya, segan sebenarnya untuk bicara pada Wiradh. Pria itu memang tidak sebaik Ibra dalam berkomunikasi dengan orang baru, ya begitulah sosok Gavin.


-


.


.


.


Matanya masih terpejam, berat sekali. Hingga dalam alam bawah sadarnya, Lorenza merasakan bagaimana benda lunak itu menyapa bibirnya. Begitu pelan dan hati-hati, jujur saja dia meremang.


Lorenza membuka matanya pelan-pelan, dia benar-benar lupa mematikan lampu kamar sepertinya. Ingin berontak, tapi kenapa dirinya menuntut lebih. Meski tubuhnya sedikit terhimpit akibat seseorang yang berkuasa di atasnya, Lorenza bahkan bertahan dan justru mengalungkan tangan di leher pria itu.


"Belum tidur?"


"Kamu baru masuk?"


Hanya anggukan pelan Gavin berikan, bibirnya sudah membasah. Bibir pria tapi justru begitu ranum dan Lorenza mengaguminya, tak bisa dipungkiri fisik Gavin luar biasa sempurna bagi Lorenza.


"Aku mengganggu tidurmu, Za?" tanya Gavin menepikan anak rambutnya, aroma tubuh Gavin benar-benar membius indera penciuman Lorenza.


Tidak pernah merasakan bagaimana dipeluk laki-laki, dan kini dia justru merasakan hal yang lebih dari itu. Lorenza tak sedikitpun berusaha menyingkirkan tubuh Gavin darinya. Rasanya begitu betah memandangi pria yang sudah sah menjadi suaminya itu.


"Enggak, kenapa nggak bangunin?" tanya Lorenza tanpa sadar jemarinya menyentuh bibir ranum Gavin, pria itu menggigit pelan jemari sang istri hingga menciptakan rasa sakit yang Lorenza sukai.


"Aaakkhhh, sakit."


Itu bukan jeritan, melainkan desa han. Dia wanita dewasa yang pada nyatanya menginginkan belaian. Pria itu terkekeh, mengacak pelan rambut Lorenza dan lagi-lagi dia hanya pasrah.


"Kita suami istri sekarang."

__ADS_1


Lembut tapi cepat, Gavin mengungci kedua tangan Lorenza di atas kepala. Kembali mengikis jarak dan membenamkan bibir ranumnya di sana. Hal baru yang membuat Lorenza tertantang untuk membalasnya, dia belum pernah terjun ke lapangan sebelumnya. Akan tetapi, pengalaman dari sekian banyak drama yang sempat dia tonton lumayan untuk mengimbangi kemampuan Gavin.


Semakin dalam dan serius, yang tadinya hanya kecupan halus semakin dalam dan menghanyutkan diri Lorenza. Pagutan itu kian brutal, berpadu dengan napas menggebu penuh dengan naf*su.


Mereka sama-sama murni dari hal yang berbau sek*s sebelum menikah, tapi ketika berada di lapangan keduanya sama-sama ahli. Lorenza kagum akan skill yang suaminya miliki, hingga belum beberapa saat tubuhnya mulai meliuk menuntut hal lebih.


"Kamu jago ternyata," tutur Gavin kembali menarik sudut bibir, pria itu memberi kesempatan agar istrinya bisa bernapas.


Dan tunggu!! Kamu? Gavin memanggil istrinya dengan panggilan kamu, biasanya tidak begitu. Pria itu menatap lekat wajah istrinya, hingga kini dia kembali melakukan aksinya sedikit turun.


Leher Lorenza dia jelajahi hingga menciptakan sensasi luar biasa bagi seorang Lorenza. Lenguh*an itu tak dapat Lorenza tutupi, dia menginginkan ini sejak lama. Hingga, ada yang berbeda ketika Gavin turun ke bagian dadanya.


"Aarrrggghhh!!!" Dadanya berdegub, rasanya itu sakit sekali.


"Lorenza?!! Kenapa?!!"


Lorenza menatap sekeliling, dalam posisi terduduk dengan selimut yang tebal membalut tubuhnya. Sementara Gavin menghampirinya setelah sebelumnya duduk di sofa dengan jarak yang cukup jauh dari tempat tidurnya.


"Mimpi buruk?" tanya Gavin kemudian duduk di tepian ranjang, menatap khawatir istrinya yang kini berkeringat dan napas yang terlihat tidak teratur.


"Kamu di sana dari tadi?" tanya Lorenza tak percaya menunjuk sofa di sudut kamarnya.


"Iya, kenapa memangnya?"


"Nggak, tanya aja," jawab Lorenza gugup, dia bahkan tak berani menatap Gavin malam ini.


Menatap aneh istrinya yang kelihatan bingung dengan lingkungannya, Gavin berinisiatif keluar untuk mengambilkan air minum. Sepertinya Lorenza masih mengingau akibat sakitnya kemarin.


"Ya Tuhan, mimpi?!!"


Lorenza bermonolog usai Gavin keluar dari kamarnya, apa tadi? Wajar saja Gavin pro sekali. Nyatanya cuma bunga tidur Lorenza akibat terlalu banyak berkhayal di hari pernikahannya.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2