Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 61


__ADS_3

Perang batin antara Gibran dan Ibra tampaknya akan berlangsung lama. Ibra takkan memecatnya lebih dulu, karena jika dia melakukan itu, maka dia akan kehilangan kesempatan untuk membuat Gibran tersiksa pelan-pelan dan mengundurkan diri dengan sendirinya.


Sama seperti sore ini, Ibra sengaja pulang menanti Kanaya sementara Gibran yang sengaja selalu mendahulukan Kanaya jelas melihat bagaimana interaksi mereka. Tidak ada yang Ibra tutupi, beberapa hari lalu beberapa teman Kanaya juga sudah mengenal dirinya sebagai pasangan wanita itu.


Jika sebelumnya Ibra hanya menggandeng Kanaya di depan mata Gibran, kali ini pria itu mengecup bibir istrinya tanpa aba-aba. Hati Gibran panas tentu saja, sementara Kanaya memerah setelah sempat memukul pelan lengan suaminya karena menyerang sepihak tanpa menunggu dia siap.


"Kamu ... ini tempat umum, bisa-bisanya main cium," desis Kanaya menatap tajam Ibra, pria itu lupa jika dirinya masih marah atau bagaimana, pikir Kanaya.


"Kenapa? Istriku sendiri apa salahnya?"


Ibra menarik sudut bibir, wajah panik Kanaya yang kini memastikan keadaan benar-benar menggemaskan di matanya. Kanaya tanpa terkesiap ketika menyadari dari jarak beberapa meter ada Gibran tengah menatap ke arahnya, ada rasa puas tiba-tiba dalam diri Kanaya.


"Pulang, Sayang ... sepertinya kamu lelah sekali, kurang tidur ya semalem?"


Sengaja dia menaikkan nada bicaranya, karena pria itu berharap Gibran akan mendengarnya dengan sangat jelas. Kanaya yang sadar jika ada pria tak tahu diri itu dibelakangnya, seakan mengerti maksud dan tujuan Ibra hingga kini dia menempel serta melingkarkan tangan di leher Ibra.


Agresif, dan ini di tempat terbuka. Walau memang hanya ada Gibran dan kedua bodyguardnya saja yang menyaksikan tingkah genit Kanaya, tetap saja itu sudah terlalu menyakitkan mata untuk dilihat kaum yang tak suka keduanya.


"Lakukan sekali lagi," bisik Kanaya pelan, Ibra sedikit mendunduk demi menyesuaikan tinggi Kanaya.


"Hanya sekali?"


Kanaya mengangguk pelan, Gibran seharusnya bisa pergi akan tetapi entah kenapa dia justru menikmati luka itu bahkan sekarang tubuhnya serasa terbakar hingga ke ubun-ubun. Tangannya mengepal dan giginya bergemelutuk ketika Ibra mengikis jarak dan mengulangi kecupannya lebih lama daripada yang pertama Gibran lihat.

__ADS_1


Sialan, seakan terkunci dan Gibran tak bisa berlari. Ibra terkekeh kemudian setelah menyudahi kecupannya, mengusap pelan bibir istrinya yang kini basah. Mereka berlalu meninggalkan Gibran yang masih terpaku tanpa aba-aba. Sungguh, hal itu sukses membuat Gibran merasa tidak Kanaya hargai sama sekali.


"Kau mengubahnya, Ibra ... bahkan membuatnya bersedia melakukan hal semacam itu di tempat terbuka."


Pasca mereka berlalu, Gibran masih mengumpat dan menempatkan Ibra di posisi salah. Pria itu benar-benar tak terima kala menyadari Kanaya berubah sejauh itu. Sayangnya, pria itu tak sadar jika seharusnya pikiran semacam itu tak berhak ia tujukan pada Ibra sama sekali.


Pulang dengan perasaan kacau dan tidak baik sama sekali. Bisa dipastikan sore ini dia akan mendapati amukan Khaira karena pada akhirnya telat dan tidak punya alasan apapun yang bisa ia gunakan. Semakin hari pria itu kian jengah, lantaran alasannya menikahi Khaira justru tak lagi satu atap dengannya.


-


.


.


Selesai di kantor, Kanaya masih tak bisa Ibra tebak. Bahkan kini Kanaya berlalu begitu saja sebelum Ibra membukakan pintu seperti biasa.


"Dia masih marah ternyata," ungkap Ibra bermonolog, menatap punggung Kanaya yang kian menjauh dengan langkah cepat luar biasa.


Dengan langkah lesunya, Ibra kini ikut masuk dan membawa perasaan was-was. Takut sekali jika istrinya akan bersikap dingin, rasanya lebih baik menghadapi Kanaya yang meluapkan amarah dengan sekali amukan daripada begini.


Pintu kamar tidak Kanaya tutup, mungkin menjaga umur pintu itu. Ibra masuk dan menatap sang istri tengah melepaskan jam tangan dan perhiasan lainnya. Wanita itu hendak mandi, namun Ibra berpikir terlalu jauh dan segera berlari ke arah istrinya.


"Kanaya mau apa?!" Ibra menahan gerakan tangannya, perasaannya semakin kacau ketika melihat Kanaya melakukan hal itu.

__ADS_1


"Kamu kenapa lagi?"


"Jangan lepas cincin itu, semarah apapun kamu ... jangan coba-coba, Naya."


Kanaya membuang napas kasar, Ibra terlalu berlebihan dan berpikir terlalu macam-macam. Sama sekali tidak ada niat untuk melepaskan cincin pernikahannya, wanita itu banya ingin mandi dan tentu saja beberapa di antara benda di tangannya harus di lepas.


"Kamu mikirnya apa sih, Mas? Kejauhan tau nggak."


Ada senyum di wajah Ibra kala mendengar jawaban Kanaya, namun rasanya dia tidak lega karena pembicaraan di restoran tadi siang belum selesai.


"Awas, aku mau mandi ... gerah," ucap Kanaya menyingkirkan tangan Ibra pelan-pelan. Tapi sepertinya tak semudah itu, karena Ibra kini menahannya lebih lama lagi.


"Maafin Mas dulu, baru boleh pergi."


"Maaf? Maaf buat yang mana?" Kanaya bertanya santai tapi membuat Ibra bungkam.


"Yaudah sana kalau nggak bisa jawabnya, anggap aja nggak salah," ketus Kanaya menatap suaminya tajam.


"Bukan begitu, Nay ... kamu begini buat aku makin kacau." Bagaimana nantinya jika Ibra jujur hal lain, sementara hal ini saja sulit Kanaya terima.


"Terus kamu maunya aku gimana? Butuh validasi permintaan maaf kamu diterima? Iya?!!" tanya Kanaya meninggi, memang marahnya Kanaya sudah tak seberapa. Tapi tetap saja, kecewanya walau sedikit tentu ada.


"IYA!! MAS BUTUH ITU, KANAYA!! VALIDASI, PENGAKUAN, MAS BUTUH ITU KELUAR DARI MULUT KAMU SEKARANG." Ibra menuntutnya, sepertinya pria itu tidak akan bisa tidur tenang jika Kanaya tak benar-benar mengungkapkan maafnya diterima.

__ADS_1


TBC


__ADS_2