
Meninggalkan Ibra yang kini tengah ketar-ketir diruangannya lantaran sikap Kanaya. Kini, di ruangan yang lain Gibran tengah berusaha mengatur napasnya. Dada pria itu terasa sesak, bahkan dia tak sempat makan siang lantaran pikirannya luar biasa keruh.
"Aarrgghh!!! Pria itu pasti sengaja, dia sengaja melakukan ini untuk menjauhkanku dari Kanaya."
Pria itu merasa Ibra seakan duri dalam kekuasaannya. Melonggarkan dasi dengan kini membuka kancing kemejanya lantaran gerah tiba-tiba. Gibran memukul mejanya untuk kesekian kali, meskipun dia seorang manajer, akan tetapi Ibra lebih tinggi dari itu.
Fakta yang tak bisa dia terima, sungguh niatnya menikahi Khaira hanya demi membuat Kanaya memohon dia kembali. Terlebih lagi saat itu jabatan Gibran naik dan dia jadi pusat perhatian beberapa petinggi lantaran caranya mencuri hati memang patut diacungi jempol.
Tok tok
"Pak, boleh saya masuk?"
Demi apapun saat ini Gibran tak ingin bertemu siapapun. Kecuali itu Kanaya, kepalanya terasa sakit dan setiap manusia yang ia temui rasanya membuat Gibran murka.
"Anda dipangil pak direktur, beliau menunggu di ruangannya sekarang."
Mau pecah rasanya kepala Gibran, ingin dia hancurkan ruangan itu sekarang. Sepertinya Ibra masih belum puas setelah melihatnya terdiam ketika penyambutannya pagi tadi.
Hendak menolak namun tidak mungkin karena Gibran tak punya kuasa untuk itu. Jika dulu dia bahagia dengan panggilan begini karena biasanya Wedirman akan senantiasa memuji, kini semua berbeda dan Gibran merasa dunianya seakan berputar tak tentu arah.
"Baik, saya akan kesana."
Terpaksa, namun ia harus lakukan. Sebesar apapun kekesalannya, Gibran tetap harus memenuhi panggilan Ibra. Pria itu berjalan dengan langkah panjang dan tetap mempertahankan wibawa yang dahulu kerap dibanggakan orang-orang yang mengenalnya.
__ADS_1
Walau sebenarnya hatinya luar biasa kacau, dan takut sekali Ibra justru membawa urusan pribadi dalam pekerjaan yang membuat jabatannya terancam. Andai saja Kanaya megadu pada Ibra atas apa yang sempat dia lakukan, jelas saja pria itu semakin tak punya cara untuk bertahan.
Di depan ruangan sang direktur, Gibran menghela napas perlahan. Wajahnya terasa panas dan kini pria itu entah kenapa gemuruh di benaknya kian menjadi, pertanda jika dia memang sempat berbuat salah.
"Selamat siang, Pak."
Memasuki ruangan Ibra tetap tenang, Ibra tidak menyambutnya dengan baik seperti biasa Wedirman menyambut Gibran. Pria itu duduk di kursi kebanggaan dengan kaki yang kini ia angkat di atas meja.
"Gibran Anggareksa, hm namamu bagus juga ... kita bertemu lagi rupanya."
Ini bukan seperti dipanggil atasan, melainkan perlakuan senior semasa kuliahnya dahulu. Gibran terdiam, pujian Ibra kenapa justru terasa menakutkan baginya.
"Apa yang perlu Anda sampaikan, Pak?"
Gibran gugup sejujurnya, akan tetapi jika dia diam saja maka akan semakin terasa Ibra tengah menindasnya. Entah kenapa Gibran yakin saat ini Ibra bukan memanggilnya karena pekerjaan, tapi hal lain dan ini yang ia takutkan.
Pria itu kini berjalan pelan menghampiri Gibran. Dengan langkah pelan dan tatapan penuh cemooh dan menganggap pria itu rendahan, dia tidak suka pada Gibran dari segi apapun itu.
"Aku ingatkan padamu, jangan megusik istriku dengan menggunakan jabatan yang bisa saja aku copot detik ini juga."
Ibra menekan setiap kalimatnya, pria itu bicara bahkan hampir berbisik dan terdengar seperti ancaman yang membuat hidup Gibran siap-siap hancur.
"Maksud Anda?"
__ADS_1
"Maksudku adalah, jangan pernah mengajaknya ke ruanganmu untuk sekadar bicara masalah pribadi dengannya."
Gibran terdiam, ketakutannya kian nyata kala Ibra berucap demikian. Apa mungkin kanaya mengadu, dan jika benar, lantas mengapa Kanaya berubah secepat itu, pikir Gibran memanas.
"Lalu? Anda mengizinkan saya bicara dengannya di tempat lain?"
Lancang, dan dia cari penyakit. Ibra tak bisa menahan emosinya lebih lama, tamparan itu mendarat begitu saja dan sukses membuat Gibran terhuyung.
"Berani juga kau ternyata, nyalimu terlalu nekat, Gibran ... kau lupa siapa yang kau ajak bicara," ucap Ibra begitu dinginnya. Dia terpancing, padahal jika Gibran tak menentangnya maka tamparan itu takkan ia lepaskan begitu saja.
"Woah, Direktur terlalu berkuasa ... ini diluar dari pekerjaan, seharusnya Anda tidak memperlakukan sy begini bukan?"
Ibra menarik sudut bibir, sepertinya menarik juga berurusan denhan pria semacam Gibran. Walau memang menurut Gavin, Ibra tak perlu terlalu memasukan urusan pribadi kecuali terdesak dan menyalahi aturan. Selagi Gibran tak macam-macam, maka hal itu tidak tidak mengapa.
"Kau lancang, sebelum kau bicara seperti ini ada baiknya kau berkaca lebih dulu, Gibran."
Memang nyata Gibran yang memulai, pria itu membawa masuk Kanaya ke ruangannya seolah dipangil atas urusan pekerjaan. Namun, nyatanya Gibran membicarakan hal lain pada Kanaya.
"Kanaya, dia masih milikku ... kau adalah orang baru dan tidak semudah itu menghapuskan kenangan kami selama bertahun-tahun," ucap Gibran mulai tak tahu tempat, pria itu terpancing dan seakan tak bisa memahami ucapannya sendiri.
"Oh iya? Bukankah dalam hidup bukan tentang siapa yang datang lebih awal, tapi siapa yang bertahan hingga akhir. Kau meninggalkan dia, lalu dari mananya kau menyimpulkan jika Kanaya masih milikmu?"
Pembicaraan ini sudah berbeda, antara sesama pria yang menginginkan satu wanita. Ibra takkan semudah itu memberikan apa yang telah menjadi miliknya. Dan begitu dia mendengar bahwa Gibran masih menginginkan Kanaya, jelas saja dia meradang.
__ADS_1
Tbc
Tangganku ketar-ketir.