Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 137


__ADS_3

"Mas kenapa?"


"Kepala Mas sakit ... nyut-nyutan," keluh Ibra sembari menghempaskan tubuhnya di sisi Kanaya.


Dia baru saja pulang kerja, mereka telah kembali ke rumah sebelumnya mengingat jarak kantor lumayan jika mereka tinggal di rumah utama.


Kandungannya kian membesar, dan tentu saja sedikit sulit untuk berdiri. Benar kata Lorenza beberapa waktu lalu, 7 bulan sama halnya seperti membawa beban keluarga, apalagi di usia kandungannya yang lebih dari itu.


"Kamu demam, Mas dari mana?" tanya Kanaya sembari menempelkan punggung tangannya di kening Ibra, pria itu hanya terpejam sembari bersandar di sofa.


Baru kali ini kepalanya terasa berat luar biasa, dia salah makan atau bagaimana. Sulit bergerak, Kanaya berdiri saja butuh beberapa waktu. Namun melihat suaminya yang begini, wanita itu juga tidak tega.


Baru saja hendak beranjak, Ibra menahan pergerakan istrinya. Pria itu merasakan yang sama juga pada nyatanya, untuk itu jika Kanaya ingin menyiapkan obat ataupun lainnya Ibra lebih memilih meminta bantuan Ningsih saja.


Memberikan perhatian sebisanya, karena hendak memaksakan diri Ibra lah yang akan melarangnya. Selagi dia masih mampu berdiri, sebisa mungkin Ibra tidak ingin membuar istrinya kesulitan.


"Mas ... tadi Mama dateng."


"Hm, terus?"


Semenjak pernikahan Abygail berlangsung hubungan ibu dan anak itu memang semakin baik. Ibra tidak ingin memberikan batasan apapun karena dia sadar bukan haknya memutus silahturahmi.


"Terus kasih ini, katanya biar lahirannya lancar."


Ibra mengerutkan dahi, sebuah gelang yang dia yakini terbuat dari batu itu suda melingkar di pergelangan tangan Kanaya.


"Mitos dari mana?"

__ADS_1


"Ih doain beneran aja kenapa sih, mitas-mitos."


Emosinya sama besarnya seperti perutnya, Ibra salah bicara maka jemarinya siap mendarat di bibir Ibra. Kanaya tidak terima protes saat ini, sejak beberapa waktu terakhir, yang ada dalam pikirannya hanya ketakutan ketika melahirkan.


"Astaga, Kanaya ...."


Ibra menganga, seenteng itu jemari sang istri mendarat di bibirnya. Padahal memang hal semacam itu menurut Ibra adalah mitos belaka. Beberapa hal mungkin dia percaya namun terkait hal itu dia tidak menerimanya.


"Apa? Pakek melotot, Mas pikir aku takut begitu?"


Salah lagi, padahal Ibra hanya kaget bukan melotot. Pria itu benar-benar terpojok, sakit kepalanya seakan hilang seketika.


"Melotot apanya? Mata Mas kan memang begini, Nay."


Memang tidak salah, dan juga mata Ibra memang begitu bentuknya. Kanaya saja yang terlalu cepat panas, emosi besar sebagaimana perutnya kini.


"Kamu beneran nggak dari mana-mana kan?" selidik Kanaya dengan mata tajamnya, selain pemarah dia juga mudah curiga. Hanya karena seorang wanita yang memaksa masuk beberapa hari lalu lantaran mengira Ibra adalah mantan suaminya yang hidup kembali, Kanaya semakin waspada.


"Enggak, Nay ... tanya sama Gavin kalau kurang yakin."


Bukan kurang yakin sesungguhnya, Kanaya hanya kesal saja. Mengingat bagaimana wanita itu berteriak histeris dan meminta Ibra pulang sementara suaminya sama sekali tidak mengenal wanita itu.


Minum obat dengan perasaan yang tak begitu baik, sakit di kepalanya bahkan seakan hilang. Kanaya tak melepaskan suaminya dari pandangan, biasanya pria itu kerap mencuri kesempatan dan membuang obat tersebut.


"Mas," panggil Kanaya dengan suara lembutnya, memang amarah istrinya tidak menentu dan tidak dapat ditebak.


"Iyaa, kenapa? Kamu nggak nyaman, Nay?"

__ADS_1


Jika dilihat bagaimana posisi istrinya, sama sekali tidak ada tanda-tanda dia tidak nyaman. Kanaya menaikkan kakinya di atas meja, dan sepertinya dia baik-baik saja.


"Nggak, aku takut nanti aku lahirannya gimana? tanya Kanaya menatap Ibra dengan mata yang mengembun, tak bisa dipungkiri sejak tadi rasa takutnya memang hanya itu.


"Lewat sini, kan kamu tau, Nay ... masa nanya, Mas."


"Ih apasih, nggak usah dipegang juga"


Ibra menarik sudut bibir kala Kanaya menepis tangannya, hanya karena Ibra menyentuh aset berharganya Kanaya kembali meradang.


"Hahah kamu pertanyaannya kenapa begitu? Hm?"


"Takut aja, kata Siska kalau lahiran itu_"


"Shhuttt!! Jangan dengar kata Siska, Mas udah bilang kan gak akan sesakit yang kamu bayangkan."


Ingin rasanya dia tendang wanita bernama Siska itu, sejak kemarin Kanaya mengatakan hal yang sama. Ketakutan karena opini Siska dan selalu saja tentang Siska.


"Kamu laki-laki, mana tau rasanya," ujar Kanaya menatap sendu Ibra yang kini hanya bisa menghela napas pelan.


"Lalu Siska bagaimana? Memang dia pernah melahirkan? Kan belum, Sayang."


Butiran kristal di pelupuk matanya kini tak tertahan, Ibra menyekanya lembut sebelum tangisnya menjadi. Hatinya selembut itu pada sang istri meski rasa ingin menjahit mulut Siska itu masih menggebu luar biasa.


"Trust me, semua akan baik-baik saja ketika kamu berpikir baik, Kanaya."


Tbc

__ADS_1


Siang ini begini dulu, nanti ya nyusul. Aku rada sibuk soalnya, cielah❣️


__ADS_2