Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 46


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Ibra sudah dibuat terkejut dengan hilangnya Kanaya dari sisinya. Dia panik, entah kenapa Ibra setakut ini jika Kanaya hilang tak ada ketika dia membuka mata.


"Kanaya?"


Sial, kemana istrinya? Masih jam 07 pagi dan dia benar-benar menghilang. Kanaya tidak di kamar lagi dan gemericik air pun sudah tidak terdengar, artinya bisa dipastikan wanita itu sudah mandi.


Segera berlalu hanya dengan mengenakan celana pendek dengan rambut aut-autan, keluar kamar dan mencari keberadaan Kanaya.


Matanya membeliak kala melihat Kanaya sudah luar biasa rapi sembari menyiapkan sarapan di meja makan. Dia benar-benar berniat pergi bekerja hari ini juga, Ibra pikir Kanaya akan menghabiskan beberapa hari lagi di rumah, ternyata tidak.


"Mas, baru bangun ya?"


Ibra masih terdiam, wajahnya datar dan tergambar jelas dia tidak setuju dengan kepergian Kanaya pagi ini. Pria itu menatap kesal Kanaya seraya membuang napas kasar. Ingin marah, tapi dia takkan tega.


"Kamu kenapa nggak bangunin?" tanya Ibra singkat, pria itu kemudian menegak air mineral di gelas depannya hingga tandas.


"Nggak tega, nyenyak banget sepertinya."


Memang pada faktanya begitu, Ibra tidur terlalu lelap bahkan Kanaya tak tega jika harus memaksa Ibra bangun pagi sepertinya. Pria itu tersenyum, menghirum aroma rambut Kanaya yang menjadi candu baginya. Kenapa bisa Kanaya sewangi ini padahal yang mereka gunakan sama saja.


"Kenapa harus hari ini? Besok pagi saja ya," pinta Ibra agar Kanaya menunda masuk kerjanya.


Bukan tak mau, Kanaya tidak bisa. Jika sampai dia melewati batas yang dijanjikan, maka bisa dipastikan dia tidak akan punya kesempatan untuk bisa masuk ke ruangannya lagi.


"Nggak bisa, nanti aku dipecat."


Pria itu tertawa sumbang, ketakutan istrinya terlalu berlebihan dan sedikit membuat Ibra tersentil. Bahu Kanaya terlalu nyaman untuk Ibra bersandar.


"Semakin cepat semakin baik, aku akan berterima kasih pada siapapun yang berani memecatmu," ucapnya tanpa dosa, Kanaya mencebik sembari berusaha melepaskan tangan Ibra.


Ibra tak sadar jika saat ini Sulis melewati ruang makan, wanita paruh baya itu bertatap mata dengan Kanaya tapi justru dia yang merasa malu.


"Ehem ... ad-ada apa, Bi?" tanya Kanaya sengaja sedikit besar agar Ibra sadar dan segera melepas pelukannya.


Pria itu terperanjat kaget dan segera melepas pelukannya, malu sekali rasanya dia kala yang menyadari Sulis melihat kelakuannya. Dan lebih menyebalkannya lagi, Kanaya seakan mengejeknya dengan sengaja menjulurkan lidah setelah terkekeh menatapnya.

__ADS_1


"Maaf, Nona ... saya cuma lewat kok," ucapnya pelan, takut jika yang di belakang Kanaya mengeluarkan taringnya.


Demi apapun, Ibra mengerikan di mata Sulis. Sorot mata tak bersabahat dan dia juga sedikit tertekan awalnya kala mengetahui jika majikannya bukan Gavin.


"Hm, silahkan lanjutkan pekerjaanmu."


Ibra yang menjawab, dan Kanaya rasanya sangat tak enak hati. Pria sinting ini kenapa justru marah padahal Sulis juga tak melakukan kesalahan apa-apa.


"Baik, Tuan." Tiada pilihan lain, Sulis memilih untuk berlalu usai meminta maaf pada majikan galaknya itu. Beruntung saja dia punya Kanaya yang memiliki sikap berbanding terbalik dengan suaminya.


-


.


.


.


Sebagaimana perintah Ibra, Kanaya tidak boleh pergi sendirian. Dan bahkan ketika bekerja kedua bodyguardnya itu ikut. Sungguh menyebalkan sebenarnya, tapi sayang Kanaya tak bisa menolak hal ini.


Sudah dia duga Lorenza akan menghina salah satu dari mereka. Walau memang fakta, akan tetapi alangkah tidak sopannya mulut Lorenza, pikir Kanaya.


Mereka bertemu di area parkir, kebetulan sekali sehingga keduanya bisa bersama untuk tiba di ruangannya. Sang bodyguard yang diperintahkan menjaga Kanaya itu akan setia menunggu Kanaya hingga nanti pulang.


Sempat berdebat karena salah satu dari mereka ingin menjaga Kanaya di samping meja kerja, menemani Kanaya di ruangan kerja dan mengikuti kemana pun langkah Kanaya. Jelas saja dia tidak mengizinkan, dengan alasan ruangan sempit dan hadirnya Jackson hanya makan tempat.


"Jangan gede-gede, nanti mereka denger, Za," desis Kanaya takut sendiri. Dia saja setakut itu dalam bicara karena memang mereka sangat-sangat jauh dari kata ramah dan terbuka pada segala ucapan.


"Ups, sorry kelepasan."


Dadanya berdebar, langkah panjang mereka mengikuti gerak Kanaya. Mau diantar sampai dimana, pikir Lorenza heran.


"Di sini saja, kalian bisa tunggu aku di tempat yang menurut kalian nyaman ... setelah pulang aku akan memberitahu kalian."


Tiba di lobby Kanaya memberikan peritnah, walau mereka sempat menjadi perhatian orang sekitar. Jelas saja akan mengundang kecurigaan, Seorang Kanaya Alexandra yang sejak beberapa hari lalu tak masuk kerja sekalinya masuk justru dijaga ketat seperti itu.

__ADS_1


"Baik, Nona."


Astaga, kenapa harus membungkuk di hadapannya, pikir Kanaya kesal bukan main. Pria itu membuat Kanaya semakin menjadi pusat perhatian publik, selain itu Lorenza yang merupakan temannya sendiri bahkan menganga melihat adegan ini.


"Woah, semakin yakin mas Ibra adalah orang penting, tapi dia siapa ya? Apa mungkin cucunya ratu Elizabeth?"


Lorenza memikirkan siapa Ibra, sementara Kanaya sudah berlari jauh ke ujung sana. Mungkin dia kesal mendengar dugaan Lorenza yang kian menjadi sejak awal bertemu Ibra.


"Eh naya!! Tunggu dong, kok gitu sih."


Pria itu berlari dengan langkah panjangnya. Kaki jenjang dan kulit putih serta rambut pendek itu membuat Lorenza semakin cantik saja. Tapi sayang, cantik wajah tapi otak dan mulut Lorenza luar biasa gilanya.


Belum selesai dengan Lorenza, ketika lift hendak terturup Gibran berlari dan kini berhasil masuk dan bergabung dengan kedua orang itu.


Aura permusuhan menjalar di sekujur tubuh Lorenza, sempat menganggap Gibran pria sempurja namun kini jangan harap karena bagi Lorenza tidak ada tempat bagi pengkhianat semacam Gibran.


"Naya, kamu masuk kerja?" tanya Gibran tanpa basa-basi, seakan lupa apa yang sempat ia lakukan sebelum Kanaya keluar dari rumah itu.


"Udah liat masih aja nanya, matanya fungsi gak? Lorenza yang kini menjawab, sengaja dia berdiri di sisi Kanaya dan siap menghadiahkan bogem mentah jika Gibran macam-macam.


"Saya tidak bicara denganmu, Lorenza."


Wah, Gibran menggertak Lorenza dan demi apapun Lorenza sama sekali tak takut dengan gertakan Gibran. Penjilat serta pria paling jahat sedunia yang pernah Lorenza ketahui.


"Oh iya? Tapi temen saya lagi nggak mau bicara sama Bapak, saya wakilin aja ya?" Sarkas sekali, dia mengerti maksud Gibran berkata demikian karena hendak menjelaskan jika jabatan mereka berada di bawah kekuasaan Gibran.


"Nay, ma_"


Ting


Belum selesai dia bicara lift terbuka dan Kanaya berlalu meninggalkan Gibran seakan tidak pernah bertemu.


"Kasian, email saja, Pak ... bu Kanaya tidak boleh bicara para orang asing." Kurang dengan serangan sebelumnya, Lorenza sempat mengutarakan sindiran yang kedua kali sebelum kemudian dia berlalu.


"Aaaarrrggggghhh!! Menyebalkan sekali."

__ADS_1


TBC


__ADS_2