
Kediaman Mahatma terasa kian berbeda, Khaira dan Gibran lebih banyak cekcok dan tidak mengumbar kemesraan seperti awal-awal menikah. Pria itu merasa Khaira semakin menyebalkan terutama kerap menuduhnya macam-macam selepas Gibran pulang kerja.
Hanya karena posisi Gibran sebagai atasan Kanaya membuat Khaira masih berpikir macam-macam padahal secara jelas status Kanaya juga telah sah menjadi istri orang.
"Berhenti curiga, Khaira ... lagipula Mas tidak akan Macam-macam! Kamu kenapa batu sekali?!!"
Kasar, yah akhir-akhir ini Gibran terkadang tak bisa menahan diri. Lelah lantaran banyaknya pekerjaan dan emosi Khaira yang jadi makanan tiap hari membuat kepalanya semakin sakit.
Dan sebagai pasangan yang hidup di atas yang sama dengan orangtua, jelas saja kelakuan mereka kerap kali terlihat tak sengaja. Abygail sebagai kakak paling kecil terutama, dan untuk masalah Gibra dan Khaira dia enggan turut campur.
"Baru juga sebulan, tahun depan mungkin bubar."
Abygail berucap kecil kala melewati kedua orang itu, pria itu mulai mengerti kenapa Kanaya tidak menerimanya. Jika mengingat adiknya, entah kenapa Abygail malu sekali rasanya.
Bukan menyesal perkara mengetahui fakta bahwa Ibrahim bukan orang biasa. Tapi, hal yang Abygail sesalkan adalah kegilaannya yang semudah itu terseret amarah sesaat dan justru mendukung keputusan Adrian dan sang mama untuk tak menghiraukan Kanaya akibat kesalahannya.
Pria itu meniti anak tangga perlahan, dan kebetulan sebelum kamarnya adalah kamar Kanaya. Seumur hidup Abygail tidak pernah kasar, bahkan dia rela bertengkar bersama Adrian jika adik Kanaya menjadi korban kemarahan kakak pertamanya.
Semua baik-baik saja sebenarnya, lingkungan kerjanya baik meski sempat mengira bahwa Ibra akan membalasnya lebih lama lagi melalui pekerjaannya. Namun, sepertinya Ibrahim tak sepicik itu walau kemarahannya luar biasa pada Abygail.
Ceklek
Entah kenapa hati Abygail justru terketuk untuk membuka kamar Kanaya. Rapi, dan sepertinya sengaja dirapikan setelah sebelumnya berantakan luar biasa. Beberapa pakaiannya masih tersusun di sana, karena pengusiran dadakan yang dipimpin oleh Khaira malam itu hanya memasukkan beberapa baju dan barang yang muat saja.
"Dia sedang apa," tutur Abygail tersenyum kelu kala melihat id card yang tertinggal di atas nakasnya.
-Kanaya Alexandra, S.E.-
Hanya S1, karena Kanaya sadar diri meski Mahatma memintanya meraih pendidikan lebih tinggi lagi. Kematian Chandrawyatama memang tak bisa lepas dari fakta Kanaya yang menurut Widya dan Adrian sebagai penyebabnya. Namun, Widya sangat lupa bahwa alasan Mahatma menikahinya adalah karena dia begitu menyayangi Kanaya.
__ADS_1
Dia tidak membenci Ibra, tapi bukan berarti melupakan bagaimana cara Ibra membuatnya malu. Walau memang pantas saja dia dapatkan, toh apa yang dia lakukan pada Ibra dan Kanaya malam itu memang wajar untuk dibenci.
"Aku hanya kecewa kau merelakan diri rusak di tangannya, Nay ... hanya itu."
Tak ada alasan lain kenapa Abygail kecewa luar biasa pada Kanaya. Dia menjaga Kanaya dengan caranya dan selalu menekankan adiknya untuk menjaga diri, terutama kehormatan.
Akan tetapi, begitu mendengar Ibra secara gamblang mengatakan Kanaya hamil, Abygail merasa terkhianati dan seakan apa yang dia lakukan pada Kanaya selama ini sia-sia.
Sejak Kanaya remaja, Abygail luar biasa posesif dan menjadi garda terdepan menjaga kala wanita itu mulai menjalin interaksi dengan lawan jenis. Meski dengan bentakan dan berkali-kali ia ingatkan demi menanamkan pada Kanaya bahwa kehormatan wanita di atas segalanya.
Adiknya seakan murah di mata Ibra, tak punya harga diri dan entah bagaimana sebenarnya Abygail tidak paham. Akan tetapi, perasaan gagal menjaga dan mendidik serta spontannya mulut Ibra adalah punca dari murkanya Abygail saat itu.
-
.
.
Pagar menjulang tinggi dan Kanaya sama sekali tidak bisa mengetahui apa yang tetangga sebelahnya lakukan. Sedikit asing lingkungan ini, tapi lebih nyaman karena seakan hidup sendiri. Tidak di tempat sepi tapi bisa dipastikan menenangkan.
Deru mobil yang datang setelah beberapa saat dia berkeliling membuat Kanaya sontak berlari dan menghampiri. Wajahnya tersenyum sumringah begitu mengetahui yang datang memang benar suaminya.
"Kanaya, kenapa harus lari?"
Entahlah, apa yang ia kejar hingga spontan mengejar Ibra dan melupakan bahwa dirinya tengah hamil muda. Dia malu sekali begitu Ibra bertanya demikian, rasanya ingin menghilang dari bumi begitu Ibra mengecupnya singkat padahal Gavin melihat aksinya.
"Kamu dari mana?" tanya Kanaya sok-sok amnesia dan mengalihkan pembicaraan.
"Hm, ada yang harus Mas selesaikan ... kenapa? Kamu nunggu lama ya?"
__ADS_1
Kanaya menggeleng, wajah polos dan menggemaskan itu ingin Ibra makan saat ini juga rasanya. Andai saja Kanaya menyambut kedatangan di kamar, mungkin akan beda cerita.
"Pergi terus, kakinya udah nggak sakit?" tanya Kanaya kemudian menyadari Ibra memang terlihat baik-baik saja.
"Enggak, sembuh sendiri." Jawaban singkat namun memang kenyataan. Tidak ada yang Ibra lakukan dan coba, kakinya memang sembuh dengan sendirinya.
Pertanyaan Kanaya tak berhenti di situ ketika dia mendengar mobil lain yang juga masuk. Mobil yang sejak kecil dia juluki mobil penculik dan demi apapun setelah melihat mobil itu mendekat, Kanaya segera bersembunyi di balik tubuh tinggi Ibra.
"Hahahahaha kamu kenapa?" Lucu tentu saja, Kanaya bukan anak kecil lagi, kenapa dia begitu, pikir Ibra.
"Nggak, mereka nakutin ... temen kamu ya, Mas? Sejak kapan punya temen om-om begitu." Mirip sekali preman pasar yang pernah bertengkar bersama Siska beberapa waktu lalu perkara uang parkir. Dan Kanaya hanya trauma, pria seperti itu biasanya tetap galak walau kepada wanita seksi dan cantik sepertinya.
"Bukan temen Mas, tapi mereka bakal jadi temen kamu kalau Mas lagi nggak ada," jelas Ibra dan sontak membuat Kanaya melongo, yang benar saja? Mana mungkin dia berteman dengan pria menakutkan seperti itu.
"Idih, nggak mau! Buat temen Mas aja, aku nggak mau," tolak Kanaya yang benar-benar mengira bahwa pria itu adalah calon temannya.
"Bukan, Sayang ... mereka berempat akan menjaga kamu, zaman sekarang banyak orang jahat, Mas harap kamu mengerti, Nay."
Penjelasan Ibra sudah cukup tegas, 2 orang memang dia kenalkan pada Kanaya untuk selalu berada di sisi Kanaya demi menjaga istrinya. Dan 2 orang lain lainnya, akan mengawasi Kanaya dari jauh, walau memang mereka menyeramkan akan tetapi orang pilihan Gavin tidak mungkin salah.
"Waw, memangnya aku siapa pakek dijaga, Mas? Aku bukan artis loh," ungkapnya merasa berlebihan jika Ibra melakukan hal ini, bisa-bisa olokan Lorenza akan membanjiri dirinya jika ketahuan hidup Kanaya berubah seketat ini.
"Kamu istriku, dan harus dijaga ... tidak perlu jadi artis atau pejabat." Terdiam, ucapan Ibra berhasil membuatnya kagum sekali lagi, hidupnya kenapa berubah jadi ibu peri, pikir Kanaya.
Sementara Ibra kini menatapnya lekat-lekat, semua akan baik-baik saja, dan apa yang memang menjadi hak Ibra akan menjadi milik mereka seutuhnya setelah anak itu lahir. Dan Ibra berharap pernikahan ini tidak akan pernah sampai ke telinga Olivia, mantan istri tak tersentuhnya itu.
Segala yang Ibra lakukan hanya demi hidup damai dan melepaskan diri dari wasiat bodoh yang justru menjebak Ibra dalam kekuasaan Indira. Jika sebelumnya dia tak terlalu peduli hidup dan matinya, namun tidak dengan Kanaya.
TBC
__ADS_1