
"Kamu benar-benar melakukannya, Ning?"
Ningsih mengangguk pasti, dia tidak peduli mau bagaiamana nantinya. Yang jelas, perintah Gavin adalah hal yang mutlak dia turuti. Wanita itu tak merasa bersalah walau kini Nyonya besarnya tengah menderita bahkan lemas tak berdaya.
"Baguslah, banyak?" tanya tukang kebun yang sejak dahulu mengabdikan diri pada keluarga Megantara.
"Dikit kok, tapi sepertinya pengaruh umur jadinya Nyonya begitu."
Mereka tengah berbahagia di atas penderitaan seseorang, ini adalah hiburan dan kesempatan emas yang tak setiap kali mereka dapatkan.
"Hahaha pengaruh umur, dah tua ya maksudnya?"
"Ho-oh, penasaran kapan wafatnya ... aku kangen Den Ibra, dimana ya sekarang?"
Sebagai saksi pertumbuhan Ibra, jelas saja ada rasa rindu dalam benak suami istri itu. Mereka bahkan telah menjadi bagian dari rumah ini sejak Ibra masih kecil, dan bahkan keduanya terjerat cinta lokasi karena sama-sama mengabdi untuk keluarga Megantara.
"Entahlah, yang jelas kita doakan saja den Ibra selalu dalam lindungan Tuhan, Ning."
Wanita itu mengangguk pelan, hanya itu yang bisa mereka harapkan. Pasca kepergian Megantara memang banyak yang terjadi di rumah itu. Mulai dari kepergian Ibra ke luar negeri hingga kemunculan Olivia yang tiba-tiba Indira kenalkan sebagai calon istri Ibra kepada semua orang di rumah.
Mereka tak bisa melakukan apa-apa, kala itu Ibra masih belum dewasa begitupun dengan Gavin. Hanya ada Dewata, sosok papa bagi Gavin yang juga menempatkan diri sebagai orangtua untuk Ibra. Akan tetapi, keputusan Indira tak bisa diganggu gugat karena wanita itu memiliki kekuasaan lebih atas Ibra dengan mengatasnamakan wasiat Megantara.
Hingga semua semakin berubah dengan pemberontakan Ibra yang kerap tak pulang dan tidur di tempat selain di rumah. Hidupnya semakin tak bisa ditebak, bahkan Ningsih merasa kehilangan sosok Ibra yang dulunya begitu hangat.
__ADS_1
"NINGSIH!!!'
Belum selesai mereka bicara, teriakan wanita itu kini menggema. Dan keduanya kini saling menatap, sepertinya yang akan Ningsih hadapi cukup menyeramkan. Wanita itu harus kebal untuk setiap makian yang nantinya ia dengar.
"Iya, Nyonya ... sebentar," sahut Ningsih yang sebenarnya takkan mungkin Indira dengar, dia hanya menyahut formalitas dan tidak membuat pernyataannya nanti jadi bohong saja.
Dengan langkah yang sedikit terburu, Ningsih kini mengetuk pintu kamar nyonya besar itu lebih dulu sebelum kemudian memperlihatkan wajah pura-pura khawatirnya.
"Lama!! Kamu tuli atau bagaimana?!!" teriaknya luar biasa memekakan telinga, dia terlihat lemas tapi kenapa bisa memiliki tenaga sekuat itu untuk marah, pikir Ningsih.
"Maaf, Nyonya ... saya di luar jadi perlu waktu untuk tiba di sini," ujarnya tampak menyesal, padahal jika bisa Ningsih ingin menundanya lebih lama lagi.
"Alasan!! Lakukan sesuatu, obat yang kamu berikan tidak mempan!!"
Sudah meminta bantuan, dan dia seenak jidat membentak. Sungguh Ningsih ingin sekali mengutuknya. Sedikitpun dia sama sekali tidak kasihan menatap wajah pucat Indira, entah sudah berapa kali dia keluar masuk toilet hingga keadaannya selemah itu.
Di tengah jeritan Indira, Olivia kini masuk dengan langkah terburu-buru dan tatapan aneh pada Indira.
"Mama kenapa?"
"Entahlah, Mama sakit perut sejak tadi, Olivia." Indira menarik napasnya susah payah, wanita itu kesulitan bahkan kini memejamkan matanya menahan sakit.
"Terus? Mama nggak jadi ketemu mas Ibra hari ini?" Dalam keadaan begini, Olivia masih saja memikirkan hal lain. Ningsih tak habis pikir, wanita yang Indira pilihkan sebagai istri untuk Ibra tak lebih dari wanita sinting tak beretika.
__ADS_1
"Kamu masih memikirkan itu? Kamu nggak liat Mama gimana!" sentak Indira kesal luar biasa, wajahnya bahkan semakin memerah dan amarah kian membuncah dalam benaknya. Seharusnya anak ini memang tidak dia beritahu dulu, pikir Indira penuh sesal.
Tidak ada sedikitpun kecurigaan Indira pada Ningsih, dia mengira memang ini datang dengan sendirinya. Dia bahkan berpikir ini akibat salah makan, tapi ini lebih menyiksa dari apapun.
"Olivia, bantu Mama ke kamar mandi ... Mama tidak kuat berjalan," pinta Indira berusaha meraih tangan Olivia, namun mirisnya wanita itu malah menjauh dan berteriak ketakutan.
"Nggak mau!! Bibi aja yang bantuin, aku siapin obatnya aja ya, Ma." Dengan cepat Olivia bergerak keluar dan meminta Ningsih berganti peran. Wanita itu geli dan tak sanggup jika harus membantu Ningsih ke kamar mandi.
"Heh!! Kamu jagain Mama, aku yang siapin obatnya! Sana!" titah Olivia luar biasa kasarnya, sungguh Ningsih heran dimana letak baiknya wanita itu.
Ningsih kembali masuk, dan melihat keadaan Indira dia jadi berpikir apa mungkin benar terlalu banyak. Tapi semua itu sudah dia lakukan berdasarkan perintah Gavin, jikapun ada hal-hal yang terjadi pada Indira setelahnya, itu adalah urusan Gavin pada Ibra, pikir Ningsih tidak mau ambil pusing.
"Ibra," panggil Indira mengiba, dan Ningsih tidak akan sama sekali merasa tersentuh dengan rengekan wanita itu.
"Ning, tolong telepon Ibra ... katakan saya sakit," pinta Indira dengan nada lesu namun tetap sedikit memaksa, wajahnya terlihat benar-benar tidak kuat. Namun, hingga saat ini Ningsih tak sedikitpun berpikir akan membawa Indira ke rumah sakit.
"Sebentar ya, Nyonya, saya coba."
Dia merogoh ponselnya di saku celana, dan dengan sengaja menghubungi nomor Ibra yang lama, jelas saja tidak akan bisa tersambung sampai kapanpun.
"Aduh, maaf, Nyonya ... sepertinya den Ibra sibuk sekali, mungkin nanti malam bisa dihubungi." Ningsih berkata sopan sekali, tak mengira jika dia tengah mengelabui majikannya saat ini.
"Baru sakit perut, den Ibra sakit semuanya karena kau, Indira," batin Ningsih menatap nanar wajah penuh peluh di hadapannya.
__ADS_1
"Aku tidak mau tau, bawa putraku kesini sekarang juga!!" desak Indira, namun jangankan menuruti kehendaknya, setelah kepulangan Ibra yang terakhir Ningsih takkan pernah membuat tuan mudanya itu kembali jatuh di lubang yang sama.
To Be Continue