
Seharian, yang ada dalam pikiran Lorenza hanya itu-itu saja. Jangankan makan, minumpun dia salah. Sandora hanya menatap khawatir Lorenza saat ini.
“Za, kalau sakit mending pulang aja … kamu pucat loh.”
“Hah?”
Benar-benar tidak dapat diselamatkan, Lorenza lebih terlihat sebagai wanita kurang gizi saat ini. Sandora sudah mencoba namun sejak satu jam terakhir Lorenza memang seperti kehilangan kesadarannya.
“Masa?”
Respon lambat, tatapan kosong dan lingkar mata yang hitam bisa dipastikan Lorenza sakit parah. Wanita itu memaksa Lorenza pulang dan bahkan tanpa izin dia menarik paksa Lorenza keluar dari ruang kerjanya.
“Aku nggak sakit, San.”
“Halah bohong aja terus, aku nggak mau ya kalau sampai kamu kenapa-kenapa dan makin ngerepotin.”
Di tengah perdebatan mereka, sosok yang sejak tadi menghantui pikiran Lorenza justru melihat tingkah mereka. Sebagai pria yang dikagumi, jelas saja Sandora melakukan hal yang sebagaimana mestinya pada Gavin.
“Dia kenapa?” tanya Gavin tegas dan dengan wibawa yang sangat jauh berbeda ketika dia bertengkar bersama Lorenza.
“Aku baik-baik saj_”
“Aku tidak bertanya padamu,” sergah Gavin dan menutut Sandora yang menjawab segera.
“Lorenza sepertinya sakit, Pak … bibirnya pucat dan sejak tadi juga tidak fokus,” jelas Sandora apa adanya, tidak mengada-ngada dan semua jelas jika memang Lorenza mencurigakan di matanya.
“Baiklah, kembali ke ruanganmu, serahkan padaku.”
Mendengar itu, Lorenza memohon agar Sandora tetap bersamanya. Wanita itu takut Gavin justru berbuat macam-macam padanya. Sayangnya, si polos Sandora segera berlalu kala mendapat titah dari atasan tampannya itu.
“Pembangkang seperti biasa … kau memang merepotkan, Lorenza.”
Ingin rasanya Lorenza meluapkan semua kemarahannya, dirinya yang kini pucat pasi adalah imbas dari lamaran dadakan yang Gavin lakukan di lift. Wanita itu terdiam dan tidak melawan karena memang tubuhnya panas dingin sejak terpisah dari Gavin tadi pagi.
“Ikut aku,” ucapnya melangkah cepat, sama sekali tidak memberikan perhatian seharusnya kepada wanita yang sedang sakit.
Lorenza berdecak kesal sembari mengikuti langkah pria itu, langkah panjang yang sesulit itu untuk dia ikuti. Bagi Gavin semua terlihat baik-baik saja, padahal saat ini Lorenza tengah menggila luar biasa, tak punya pilihan lain, toh jika dipaksakan kemungkinan dia memang akan tumbang.
“Aku bisa pulang sendiri.”
“Sudah di sini, telat, Lorenza.”
__ADS_1
Lorenza hanya menurut ketika Gavin memerintahkannya untuk masuk, mereka sangat berbeda dalam menyikapi kejadian tadi pagi. Lorenza nampaknya memikirkan itu hingga makan siang saja tidak bisa, sementara Gavin masih bebas padahal secara nyata dia yang mengutrakan niatnya.
“Mau kemana?” tanya Lorenza kala sadar jalur yang hendak Gavin ambil berlawanan arah dengan alamat rumahnya.
“Rumah sakit, kau pucat sekali.”
“Tidak perlu, antar pulang saja … aku cuma kurang tidur.”
“Yakin?” ujar Gavin memastikan, karena jika dia lihat wajah Lorenza luar biasa pucat, dan itu tidak bisa dia pungkiri bahwa memang wanita di sampingnya ini tidak baik-baik saja.
“Hm.”
Dia menjawab singkat karena enggan terlalu rumit, ingin dia utarakan yang sesungguhnya namun takut jika dia justru malu luar biasa.
Dia nggak sadar aku begini karna ucapan konyolnya? Cih dasar laki-laki tidak punya perasaan.
Dengan matanya yang sedikit terpejam, Lorenza dapat melihat dengan jelas bagaimana wajah santai Gavin saat ini. Pria itu mengemudi dengan begitu fokus tanpa sedikitpun terlihat rasa bersalah di wajahnya.
-
.
.
.
“Tapi kau pucat.” Gavin menahannya tanpa sadar, kondisi Lorenza memang benar amat mengkhawatirkan, dan dia tidak mungkin diam saja sementara wanita itu berjalan saja tidak bisa normal sepertinya.
“Lepaskan tanganku, aku bisa sendiri … jangan membuatku semakin sulit,” sentak Lorenza tanpa sadar dan matanya justru mengembun tanpa Gavin ketahui sebabnya.
Dia bingung hendak melakukan apa, wanita itu membuatnya kalut dan Gavin tidak mengerti cara mengatasinya.
“Maaf, aku lancang.”
Mungkin itu yang membuat Lorenza marah, Gavin tak bisa memaksa masuk dan dia hanya memastikan Lorenza baik-baik saja hingga pintu itu tertutup. Sesaat kemudian, dia memejamkan mata sembari bersandar demi menenangkan pikirannya.
“Apa yang kau lakukan, Gavin … omong kosong apa yang kau katakan padanya.”
Sejak tadi Lorenza salah besar, dibalik wajah tenang Gavin dia justru tengah memikirkan ucapan yang sempat dia katakan pada Lorenza. Menyesal? Tidak juga sebenarnya, Lorenza terlihat berbeda setelah pertemuan mereka tadi pagi.
Sebelum dia melaju, Gavin melihat sekali ke arah rumah itu. Rumah yang sangat terlihat nyaman dengan sejuta kenyamanan di dalam sana.
__ADS_1
“Huft, pergi juga akhirnya.”
Kedua insan ini sama-sama menipu diri sendiri. Lorenza sejak tadi belum masuk ke kamarnya, melainkan tetap menunggu Gavin benar-benar berlalu dari sana. Ada rasa khawatir kehadiran Gavin diketahui kedua orang tuanya, karena jika sampai terjadi hal itu sama saja dengan bunuh diri.
“Acie!! Kalau masih pengen berudaan kenapa masuk, Kak?”
“Haaah!! Kebiasaan!! Kamu tu kenapa sih doyan banget ngagetin?!!” gertak Lorenza luar biasa panik kala dia menyadari di belakangnya sudah berdiri Leon dengan wajah tampan yang kini sudah siap untuk pergi entah kemana.
“Santai aja kali, nggak usah bentak-bentak.”
“Kamu yang nggak punya otak!!” Emosinya semakin membuncah dengan kehadiran Loen kini, kepalanya terasa semakin pusing dan sialnya Lorenza justru mual dan membuat adiknya berpikir macam-macam.
“Gawat, jangan-jangan dia hamil?”
Mata Loen membulat sempurna, matanya justru berubah jadi hijau dan dia melihat peluang uang jika sang kakak benar-benar menikah. Sudah pasti dia akan usil dan mengabadikan sang kakak yang kini muntah-muntah di westafel. Bukannya khawatir, Leon justru senang melihat hal janggal ini.
“Kirim ke mama nggak ya?” Dia berpikir panjang dan mulai menimbang keputusan, akan tetapi jika dia melakukan ini takutnya justru membuat sang kakak terjebak masalah lain. “Enggak deh, nanti mama jantungan, kalau dia beneran dinikahin Gavin mah oke-oke aja, takutnya sama bang Ihsan.” Atas dasar itu, Leon menunda tindakannya sesaat.
“Leon,” panggil Lorenza lemas, sepertinya dia benar-benar bermasalah.
“Kenapa? Kamu butuh test pack, Kak?” tanya Leon frontal dan membuat Lorenza mendaratkan pukulan di kepalanya cukup kuat.
“Aku cuma tanya, Lorenza!!”
“Air anget, perutku nggak enak banget,” pintanya benar-benar mengiba, yang Lorenza minta benar-benar serius.
“Widih, bang Gavin jago … kalian berapa kali mainnya? Auto jadi keren dong.” Masih saja ucapannya kemana-mana, padahal Lorenza dan Gavin silahturahmi bibir saja belum pernah.
“Ngaco!! Jangan sampe kamu begini depan mama ya,” ancam Lorenza dengan wajah penuh amarahnya, tapi bukannya takut Leon justru menjadikan ini sebagai sebuah peluang untuk membuat bidupnya nyaman.
“Aman, tergantung seberapa banyak imbalannya.” Ujung-ujungnya hanya uang, memang semua akan berakhir demikian jika urusannya bersama Loenardo.
“Dasar pemeras! Cari kesempatan namanya!”
“Terserah, itu juga kalau kamu mau … kalau nggak ya jangan,” ucapnya sewot dan kemudian berlalu untuk menyiapkan air hangat yang Lorenza minta.
To Be Continue
Jangan lupa kasih dukungan buat Ibra guys.
Tinggalkan jejak, jempolnya jan lupa. Vote-vote😗
__ADS_1