
"Naya berhenti."
Kanaya kaget luar biasa kala suaminya memeluknya sangat erat. Pusat perbelanjaan tersebut cukup ramai, dan Ibra yang tiba-tiba begini jelas saja membuatnya panik.
"Mas kenapa?" tanya Kanaya menatap bingung kenapa suaminya melakukan hal ini.
Ibra masih tak memberikan izin Kanaya lepas, seerat itu dan dia menekan kepala istrinya agar terus terbenam di dadanya.
"Kita pulang," tuturnya kemudian dan tanpa menerima pertanyaan dari Kanaya Ibra melangkah panjang. Terus menyembunyikan Kanaya dalam pelukannya dan mungkin orang-orang akan berpikir Ibra tengah menculik seorang wanita.
Sebelum semuanya terlambat, Ibra lupa dimana kini mereka berada. Pusat perbelanjaan yang biasanya kerap Olivia kunjungi setiap waktu, sungguh Ibra tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya.
Dia tidak tahu sejak kapan wanita itu mengawasinya, Ibra berharap dia yang lebih dahulu menyadari keberadaan wanita itu daripada sebaliknya.
"Pulang? Kamu bilang boleh lama di sini."
Jelas saja dia bingung, beberapa menit lalu bahkan Ibra mengatakan jika dirinya bebas mau selama apa. Kalaupun pulang besok pagi tak masalah, lantas kenapa tiba-tiba pria itu berubah pikiran, Kanaya membatin. Ibra tak lagi mau menunda, segera dia berlalu dari tempat itu tetap dengan kecepatan rendah meski dia merasa batinnya tengah dikejar gerombolan hewan buas.
"Bukan waktunya, Kanaya ... Oliv ada di sini."
"Lalu kenapa kalau ada mantan istri kamu? Kenapa jadi kucing-kucingan begini sih, Mas?" tanya Kanaya tak habis pikir, jika hanya sebatas mantan istri, lalu kenapa Ibra menyembunyikan dia layaknya istri simpanan.
"Nay, dia bukan manusia, kamu tidak akan mengerti segila apa wanita itu."
Kanaya hanya diam terpaku, mengikuti langkah Ibra yang masih saja terburu. Pria itu menyimpan kekhawatiran yang luar biasa saat ini, terutama kondisi Kanaya yang tengah mengandung anaknya.
"Dengarkan aku, Olivia dan Mama itu adalah dua wanita yang sama-sama gila ... kamu ingat Mas babak belur beberapa waktu lalu?"
"Ehm, kenapa, Mas?" tanya Kanaya kemudian, kala itu Kanaya memang tak menemukan titik terang lantaran Ibra hanya meminta dia untuk tidak khawatir.
__ADS_1
"Sore itu sebenarnya Mas pulang, ternyata Mama dan Olivia merencanakan hal gila bahkan membuat Mas hampir kehilangan nyawa."
Sejelasnya, Kanaya harus paham mana lawan mana kawan. Ibra memang belum sempat mengutarakan sedetail itu bagaimana liciknya dua wanita itu. Dan saat ini, Ibra ingin Kanaya membuka matanya lenar-lebar untuk memahami jika memang hidup bersama Ibra tidak setenang itu.
"Jadi ... dia masih suka di rumah Mas dan menjalin hubungan baik dengan Mama?" tanya Kanaya mulai mengerti kenapa Ibra benar-benar melarangnya mengenal Indira.
Ibra mengangguk, Olivia memang sebebas itu di sana. Datang semaunya bahkan menginap seenak hati tanpa Indira permasalahkan. Hal itu pula yang membuat Ibra memutuskan untuk perlahan pergi dan tinggal sendiri, kehadiran Olivia benar-benar mengganggu matanya.
"Apa alasannya masih di sana? Kan udah cerai lama?"
"Ya apalagi, dia berharap dengan bantuan Mama aku bisa kembali ... tapi aku tidak akan pernah menerima wanita itu dalam hidupku, Nay."
"Rujuk maksudnya ya?"
Ibra mengangguk, entah tak habis pikir kenapa ada wanita memiliki pikiran sebuntu Olivia. Seakan tiada pria lain yang bisa mendampingi hidupnya selain Ibra.
"Aku sudah menjatuhkan talak berpuluh-puluh kali, Kanaya ... tapi dia seakan tuli dan menganggap itu angin lalu."
"Jangan pikirkan, intinya dia hanya wanita tak tau malu ... kita pulang nggak apa ya? Nanti kita pergi ke tempat yang jauh lebih baik dari ini, ya."
Ibra meminta pengertian Kanaya, wanita itu bisa saja nekat melakukan hal gila pada Kanaya jika sampai dia mengetahui statusnya. Dan Ibra tidak pernah sudi hal itu terjadi, jika hanya Olivia seorang Ibra mungkin mampu membuatnya bungkam, pasalnya ada Indira yang Ibra khawatirkan akan turut melakukan hal macam-macam dengan kaki tangannya yang cukup banyak itu.
"Iya, aku ikutin Mas aja baiknya gimana."
Tidak ada penolakan yang Kanaya berikan, wajah cemas Ibra dapat dia pahami jika memang sekhawatir itu. Kanaya tidak mau membuat suaminya semakin pusing, pria itu sudah berusaha sebaik mungkin untuknya.
-
.
__ADS_1
.
Di tempat lain, suasana justru berbanding terbalik dari tempat dimana Kanaya dan Ibra berada. Pada akhirnya Lorenza benar-benar kena getahnya. Tadi pagi dia sudah ragu hendak masuk kerja atau tidak.
Ibra memang tidak ia temui, sempat berpikir aman-aman saja namun nyatanya Lorenza sial ketika jam menunjukkan pukul 14:00. Sebuah panggilan dadakan dari Gavin yang memintanya datang ke roof top membuat jantung Lorenza hendak lepas dari tempatnya.
"Kau tau kenapa aku memanggilmu kesini?" tanya Gavin dengan jarak beberapa meter darinya.
Lorenza ciut tiba-tiba, pria itu memunggunginya tapi kenapa Gavin seakan hendak mengulitinya hidup-hidup saat ini juga.
"Kau benar-benar pembangkang sepertinya."
Gavin berbalik, menatap tajam Lorenza dan langkahnya perlahan mendekati wanita itu. Sebagaimana kemarahan Ibra yang sempat Gavin dengar lewat telepon, saat ini Gavin juga tersulut emosi begitu melihat wajah Lorenza.
"Aaarrggghhh!! Sepertinya kau lupa batasan ya? Hanya karena Kanaya sahabatmu, bukan berarti kau berhak membuat kebahagiaan Ibra terancam."
"Maksudmu?" Mata itu masih berani menatap Gavin, dia merasa sama sekali tak melakukan hal salah dan tidak mengancam kebahagiaan Ibra.
"Dengar!! Sebelumnya aku diam dengan cara lancangmu mencampuri kehidupan Kanaya dan juga Ibra, tapi kali ini, kalian keterlaluan!!" sentak Gavin berapi-api.
Untuk pertama kalinya dia tak kuasa menahan emosinya. Semua yang dia dengar dari Ibra perihal perlakuan Lorenza dan Siska kemarin membuatnya berubah pikiran mengenai wanita pemberani ini.
"Aku hanya mengatakan hal yang seharusnya Kanaya tau!! Kenapa memangnya?!"
"Itu hak Ibra!! Kewajiban Ibra dan kau tidak perlu ikut campur rumah tangga mereka, Lorenza."
Lorenza tidak merasa sakit meski Gavin membentaknya dan seakan memojokkannya di posiai salah. Sekalipun Ibra yang marah besar padanya, dia akan terima karena memang dia gegabah dan salah langkah.
Pria itu berlalu pergi bahkan tak peduli ketika Lorenza hampir terhuyung karena dia dengan sengaja menabrak punggungnya. Lorenza memandang langit siang ini, cerah tapi semuanya seakan gersang dan kacau.
__ADS_1
Pertemanannya tak baik-baik saja, Siska marah dan Kanaya bersikap dingin padanya. Belum lagi saat ini Gavin marah besar dan bahkan tak segan membuatnya hampir terjatuh di tempat ini.
"Huft, terus aku harusnya gimana?" tanya Lorenza kesal, sama sekali dia tidak berniat untuk membuat semuanya hancur, nyatanya rumah tangga Kanaya yang dia khawatirkan justru baik-baik saja.