Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 36


__ADS_3

Menatap penuh makna sang istri yang kini tertidur lelap, Ibra menarik sudut bibir sembari merapikan rambut Kanaya yang terlihat berantakan. Cantik-cantik tapi tidur dengan mulutnya sedikit terbuka, Ibra terkekeh karena hal ini begitu lucu di matanya.


Bagai seorang ayah yang menemani putrinya tertidur, Ibra sesekali mengecup punggung tangan Kanaya. Aroma wanita itu benar-benar membuatnya candu, Ibra benar-benar jatuh pada Kanaya rasanya.


Tubuh istrinya masih terlihat kurus, perutnya bahkan masih rata. Bersabar tentang waktu, Ibra takkan pernah membiarkan seseorangpun menyakiti anaknya nanti.


Drrt Drrt


Sungguh mengganggu sekali, ponselnya bergetar dan saat ini Ibra tak ingin diganggu sama sekali. Pria itu menghela napas kasar kala ponselnya kembali berdering untuk yang ketiga kali.


"Ck, siapa lagi."


Ibra menjauh dari Kanaya beberapa langkah, khawatir jika istrinya terganggu. Dia masih termangu kala menyaksikan nama yang penelponny di sana. Pria itu berdecak kesal dan menolaknya untuk kesekian kali.


"ANGKAT!! MAMA MAU BICARA, IBRA?!!"


Belum sempat dia mematikan ponselnya, sebuah pesan singkat bermotifkan ancaman kini masuk dan itu bukan hanya sekali tapi berkali-kali. Sudah Ibra katakan hidupnya memang tak tenang sama sekali dengan kehadiran wanita itu dalam hidupnya.


"Hallo, Mama mau bilang apa?" tanya Ibra masih sopan, kurang baik apalagi dia? Bahkan pria itu masih bersikap layaknya seorang anak pada orangt tuanya baik-baik.


"Satu minggu kamu nggak pulang, Mama hubungi juga nggak bisa! Kemana saja kamu? Gavin juga selalu menghindar setiap Mama tanya, apa yang kamu sembunyikan dari Mama, Ibra?!!"


Sakit sekali rasanya telinga Ibra, wanita itu tengah mengeluarkan sumpah serapah dan seperti biasa seakan menganggap dirinya berkuasa atas Ibra. Pria itu menjauhkan ponselnya dan menarik napas dalam-dalam sebelum kemudian angkat bicara.


"Bukan urusan Mama, lagipula aku sudah dewasa, berhenti mengusikku," ujar Ibra dengan sedikit penekanan, jujur saja dengan kehadiran Kanaya dirinya sedikit lebih tenang sejak 7 hari yang lalu.


"Mama semakin yakin ada yang tidak beres, jujur sama Mama, Ibra, apa yang kamu sembunyikan?"


Enggan menjawab, pria itu diam sesaat dan menoleh ke arah Kanaya yang tengah terlelap di sana, takut jika istrinya justru terbangun dan terganggu istirahatnya.


"IBRA!! MAMA BELUM SELESAI BICARA!! PULANG SEKARANG!!" bentak Indira lewat telepon dan demi apapun emosi Ibra kini meluap-luap rasanya.


"Diam kau, Indira ... selagi aku masih berbuat baik, aku bukan bayimu yang bisa kau atur semaumu lagi," tutur Ibra dengan nada ancaman yang cukup menakutkan.

__ADS_1


Sebenci-bencinya dia pada Indira, belum pernah dia sampai segila ini, mungkin marah karena Indira mendesaknya pulang dan demi apapun Ibra bukan pria yang suka dipaksa.


"Woah berani sekali kau ya, wajar saja mamamu pergi ... sepertinya dia menyadari bahwa putranya akan seburuk ini."


Perkataan itu menyakiti Ibra? Jelas, tentu saja dan dia memang sangat marah dan lemah ketika Indira menggunakan kalimat itu sebagai alat menundukkan Ibra.


Sejak kecil dia terlatih dengan kalimat Indira yang seakan menjelaskan bahwa Ibra harus mengikuti perintahnya agar tidak dianggap anak nakal. Cara Indira mendidik Ibra sejak kecil memang berbeda, menjadikan wanita yang melahirkan Ibra sebagai umpan membuat pria itu terdidik dan terbawa hingga dewasa.


Ada perasaan yang memaksa dia untuk mengikuti ucapan Indira dengan alasan takut mengecewakan mamanya yang telah pergi meninggalkan Ibra. Ditakut-takuti dan Indira selalu mengatakan alasan mama kandung Ibra pergi adalah dirinya yang membuat pria itu tak bisa menolak kemauan mama tirinya.


"Baik aku akan datang nanti sore," ucap Ibra pada akhirnya, pria itu memejamkan matanya seraya memukul angin, kemarahan di ubun-ubun dan jiwa yang menggebu membuat Ibra seakan panas jiwanya.


"Siang ini tidak bisa? Lama sekali, Ibra."


"Aku hanya punya waktu sore hari, Ma ... siang aku harus ke kantor."


Ibra berbohong kali ini, tidak mungkin dia mengatakan bahwa dirinya tengah bersama Kanaya, istri tercintanya. Bukan karena Ibra jahat, dia masih butuh waktu untuk bisa mempertemuka mereka, ada banyak alasan yang membuat Ibra menyembunyikan Kanaya saat ini dari Indira.


"Aku muak, Tuhan," keluh Ibra menatap langit, kenapa hidupnya tak pernah diberi ketenangan sebentar saja.


.


.


.


Pandangannya terasa kabur, saat ini Kanaya masih berusaha menyesuaikan cahaya lampunya. Tidur siang ternyaman dan ini cukup lama, wanita itu menyadari tidak ada siapa-siapa di sisinya, hanya ada guling di sisi kanan kiri yang sudah pasti Ibra yang menyusunnya.


"Kanaya, baru bangun?"


Baru saja dipikirkan, kini suaminya sudah datang dengan membawa makanan dan minuman. Padahal itu adalah tugas pelayan di rumahnya, tapi kini justru Ibra yang melakukannya.


"Iya, aku tidur kelamaan ya, Mas?" tanya Kanaya merasa bersalah, pasalnya jika dia ingat-ingat Kanaya menghabiskan waktu 5 jam full hanya untuk tidur siang saja.

__ADS_1


"Tidak, kamu capek jadi wajar saja tidurnya lama."


Senyum itu terbit di wajah Ibra, pria itu begitu sabar menanti istrinya bangun bahkan dia rela menghabiskan waktu membantu Sulis menyiapkan makan siang yang jauh dari kata terlewat bagi Kanaya.


"Maaf, Mas ... mereka udah pulang ya?" Lagi-lagi Kanaya merasa tak nyaman lantaran kepergian Siska dan Lorenza diluar pengawasannya.


"Hm, pulang karena Lorenza sakit perut tiba-tiba," jawab Ibra seadanya, mengingat bagaimana Lorenza mengeluh sakit perut dan meminta minyak angin pada Ibra beberapa saat lalu.


"Sakit perut?" tanya Kanaya heran, wanita itu mengerutkan dahi, kenapa bisa Ibra mengetahui hal semacam itu, pikir Kanaya.


"Iya, sudahlah lupakan teman-teman anehmu itu, makan dulu ya? Kamu melewatkan makan siang, takutnya sakit, Kanaya."


Ibra tahu jelas jam lapar Kanaya tak tentu dan tidak bisa ditebak, terkadang sepanjang hari dia akan lapar di sore hari, bahkan terkadang baru lapar ketika malam hari.


"Hm, gak mau wortelnya, nggak enak."


Pemilih sekali, Ibra dengan sabar menyuapi Istrinya. Seumur hidup dia tidak pernah melakukan hal semacam ini.


Sesuap, dua suap, tiga suap bahkan kini suapan terakhir masuk ke mulut Kanaya dengan selamat. Pria itu berhasil membuat istrinya makan banyak sore ini, entah lapar atau apa, yang jelas tak butuh waktu lama untuk Kanaya menghaniskan makan siang menjelang sorenya.


"Udah?" tanya Ibra kala selesai dan meraih gelas air yang sudah tandas dalam sekali tenggak, istrinya haus luar biasa sepertinya.


"Hm, udah," jawab Kanaya sopan, makan sekenyang ini baru kali ini ia rasakan, pria itu membuat mualnya sangat berkurang memang, biasanya walau dirinya lapar rasa mual itu sedikit tentu masih ada.


"Mas mau pergi? Rapi gini?" tanya Kanaya baru sadar jika suaminya terlihat hendak pergi, tapi kenapa dia tidak diajak, pikir Kanaya.


"Iya pergi, sebentar kok nggak lama, kamu di rumah saja ya," tutur Ibra lembut dan berharap Kanaya tidak berulah juga.


"Mau kemana memangnya?" Dia penasaran dan butuh jawaban pasti.


"Mau lihat singa, udah lama nggak ditengokin ... siapa tahu kelaparan," ujar Ibra terlihat jujur dan apa adanya, bisa-bisanya Kanaya percaya dan tak menaruh curiga sedikitpun pada Ibra.


"Kan buas, kok Mas berani?"

__ADS_1


"Beranilah, kalau ngasih makannya tepat dia nggak buas, Nay," ujarnya menarik sudut bibir, betapa polos wanita di hadapannya kini, pikir Ibra.


TBC


__ADS_2