Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 86


__ADS_3

"Pertumbuhannya sangat baik, Anda benar-benar bisa siaga sepertinya."


Pujian nyata atas kesigapan Ibra sebagai suami Kanaya, pria itu tersenyum tipis mendengar pujian wanita cantik berjas putih itu. Demi bisa menemani Kanaya, dia bahkan rela mengutamakan Kanaya meski tanggung jawabnya di kantor luar biasa rumitnya.


"Laki-laki atau perempuan, Dok?"


Wanita itu menarik sudut bibirnya, bukan hal lumrah sebenarnya. Beberapa pasangan memang kerap menanyakan hal semacam itu padanya.


"Untuk saat ini belum terlihat, Pak Ibra ... sabar saja, beberapa waktu lagi."


Sungguh malu sekali rasanya, dengan pertanyaan itu tampak sekali jika Ibra sedikit bodoh. Pria itu masih berusaha mempertahankan wibawanya, sangat sangai dengan wajah datar meski Kanaya menahan tawanya sejak tadi.


"Dokter, saya boleh bertanya?"


Ibra mengalihkan pembicaraan, sejak lama dia penasaran sebenarnya, tapi hendak bertanya pria itu selalu lupa.


"Silahkan."


Kanaya menatapnya dengan perasaan was-was seketika, takut jika Ibra justru bertanya hal macam-macam dan seenak jidat.


"Hubungan sek*s saat istri hamil tidak bahaya kan?" tanya Ibra enteng sekali, dia hanya memastikan saja sebenarnya. Beberapa kali Kanaya selalu takut jika Ibra meminta hak patennya.


Kanaya seakan tak punya muka, bisa-bisanya Ibra bertanya tentang itu. Padahal pria itu tetap meminta meski Kanaya hamil muda, imannya tentu tidak setebal itu. Belum jadi istri saja Ibra libas, apalagi ketika wanita itu sudah menjadi miliknya.


"Tidak, Pak ... hanya saja, harap hati-hati dan perhatikan kenyamanan istri Anda, jangan terlalu memaksa." Jika dilihat dari gurat wajahnya, Ibra memang seorang pria yang tak bisa lepas dari hal itu.


"Dengar kan, Sayang? Tidak bahaya selagi Mas tidak brutal."


Menampilkan senyum tipis ke arah Kanaya yang kini hanya menatapnya tanpa kata. Wajah Ibra sungguh membuatnya tergerak untuk mencakarnya saat ini juga.


Interaksi pasangan ini benar-benar manis, melihat mereka wanita 35 tahun itu mendadak ingin pulang segera. Pertengkarannya dengan sang suami seakan menemukan titik terang untuk berdamai setelah melihat kehangatan Ibra.


Kanaya sebenarnya terlihat sedikit pucat, tapi seperti yang tadi mereka dengar sendiri bahwa keadaannya cukup baik. Hanya mungkin istrinya tidak boleh melakukan hal berat, dan sudah jadi keluhan Kanaya di masa yang akan datang karena akan semakin banyak larangan Ibra nantinya.


"Mas ke kantor setelah ini?" tanya Kanaya pelan kala mobil itu telah melaju dengan kecepatan normal, pria itu memang sudah rapi sejak pergi dari rumah, dan bisa dipastikan siang ini Kanaya akan sendirian.

__ADS_1


"Hm, kenapa?" Ibra melirik Kanaya sekilas, wanita itu hanya menggeleng sembari menghela napasnya lelah.


Diamnya Kanaya dapat pria itu simpulkan sebagai sebuah pernyataan keberatan. Hingga dia memilih memutar arah tanpa persetujuan Kanaya lebih dulu. Istrinya takkan menolak, lagipula mungkin saja Kanaya merindukan tempat kerjanya.


"Mas? Kita mau kemana lagi?" Kanaya baru sadar jika Ibra mengambil arah berlawanan, bukan menuju ke kediamannya dan tentu saja dia heran karena ini dadakan.


"Ikut Mas ke kantor, mau kan?"


Kanaya berseru yes dalam hatinya. Jelas saja dia mau, rasanya sudah dua abad dia tidak menginjakkan kaki di sana. Ibra tersenyum melihat istrinya sebahagia ini, raut wajah yang berubah 180 derajat dan mata berbinar itu dapat menjelaskan jika dia menyukai keputusan Ibra.


Untung saja dia sempat berdandan tipis di rumah, meski Ibra mengatakan dia cantik tanpa apapun, tetap saja Kanaya tidak terbiasa jika keluar dengan wajah polos tanpa polesan sedikitpun.


"Aaah kangennya, mejaku siapa yang dudukin ya?" Kanaya semakin berbinar kala kantor tempatnya meniti karir sudah semakin jelas terlihat, gedung paling mewah dan paling mencolok di antara yang lain di lingkungan itu akhirnya Kanaya datangi kembali.


"Siapa yang kerja duduk di meja, Sayang? Kamu pertanyaannya aneh banget." Kanaya salah bicara, dan Ibra justru menjadikannya bahan candaan. Sukses membuat bibirnya maju beberapa centi.


-


.


.


Kanaya melewati mereka tak lupa dengan senyum hangat dan jawaban manis kala sapaan mereka dia dengar. Bagaimana dia hendak sombong, Ibra yang tak mengizinkannya terlalu ramah saja membuatnya tertekan.


"Semua disenyumin, rahang kamu nggak pegel?" tanya Ibra ketika keduanya berada di dalam lift, dia tidak suka jika Kanaya sebahagia itu ketika berjumpa dengan para karyawan yang cari muka terhadapnya.


"Senyum itu ibadah, Mas," tutur Kanaya serius, Ibra hanya menatapnya sekilas dan berdecak heran dengan perubahan istrinya yang jadi sebugar ini ketika berada di kantor.


"Ibadah yang lain masih banyak, bukan hanya senyum."


"Iya kan gapapa, senyum juga mudah, Sayang ... gini doang, dapat pahala udah." Tak lupa dia memberikan bagaimana cara senyum yang baik dan benar kepada siapapun yang menyapanya.


"Masih ada ibadah yang lebih mudah, Nay, dan itu lebih membahagiakan daripada bagi senyum ke orang lain." Ibra berucap tanpa menatapnya, pria itu kini fokus pada benda pipih di tangannya, memberitahukan pada Gavin jika dirinya datang bersama Kanaya.


"Apa memangnya?" tanya Kanaya megerutkan dahi, dia memang tidak semudah itu mengerti ucapan Ibra yang lebih rumit daripada peta india.

__ADS_1


"Silahturahmi di atas ranjang," ucapnya sembari mengerlingkan mata, Ibra memang terlatih nakal sejak dalam kandungan sepertinya. Entah keturunan siapa dia begitu hingga setiap pembicaraan pasti ujungnya mengarah ke sana.


"Kamu mes*um banget, Mas, parah." Kanaya menggeleng tak habis pikir, tatapan Ibra yang kini tertuju pada dada dan bagian sensitif di bawahnya membuat Kanaya merasa tengah terjebak di lift bersama pria chabul.


"Ck, pakek ditutupin buat apa ... bahkan kedalamannya Mas sudah rasakan, Nay."


Bugh


"Kamu bisa istirahat dulu nggak sih, jangan buat gerah siang hari." Memukul pelan dada suaminya, dan Ibra hanya tertawa sumbang begitu mendapat pukulan itu. Masuk ke ruangan dengan tangan Kanaya yang sengaja Ibra genggam, entah pada siapa dia perlihatkan, yang jelas mereka harus paham jika Kanaya adalah miliknya.


"Duduk di sini, temenin Mas kerja."


Tak masalah, memantau seorang Direktur Utama melakukan pekerjaannya adalah jabatan tertinggi yang pernah Kanaya dapatkan. Ibra bahkan memintanya duduk di pangkuan, walau sempat Kanaya menolak pria itu tetap kukuh dan meminta istrinya untuk diam.


Karena di lift bahasan Ibra sudah menjurus ke arah yang iya-iya, tentu saja kini dia mulai berulah.


"Mas kamu apa?" tanya Kanaya seraya menahan tangan suaminya.


"Ibadah," jawabnya santai, wajahnya sudah terbenam di balik punggung Kanaya, menghirum aroma yang menjadi candu seumur hidup bagi Ibra.


"Jangan di sini, kalau ada yang lihat gimana?" Kanaya masih berusaha menyadarkan otak Ibra yang sepertinya semakin tidak waras.


"Nggak akan ada, kalaupun ada Mas congkel biji matanya." Mudah sekali dia bicara, sangat amat enteng tanpa beban.


Hingga, ketika kini dia meminta Kanaya merubah posisi duduknya menghadap Ibra. Gangguan tak terduga datang tanpa kesiapan dari keduanya.


"Selamat siang ... Uhuk-uhuk."


Gavin yang tidak mengira jika akan menyaksikan pemandangan itu segera balik badan dan pura-pura tidak melihat apa yang mereka lakukan.


"Gavin!!" teriak Ibra melempar sebuah buku dan tepat sasaran mendarat di punggungnya.


"Maaf, Tuan, saya tidak melihat apapun ... silahkan lanjutkan." Dia berlalu cepat-cepat sebelum Ibra semakin mengamuk, sungguh dia lebih takut jika Ibra terganggu ketika berusaha mencari kesenangan daripada menggangu pekerjaannya.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2