
Berjalan seperti biasa, Kanaya tetap melakukan pekerjaan sebagaimana mestinya. Sekalipun ada Ibra yang sebenarnya sejak tadi mengacaukan pikirannya, tetap saja Kanaya berusaha santai dan tak terlihat jika dirinya sedang kacau.
Jam makan siang, Lorenza sudah sejak tadi mengajak wanita itu bergerak cepat. Akan tetapi rasanya Kanaya malas sekali, wajahnya menjelaskan dia sudah kenyang sebelum makan siang.
"Kamu aja, aku kenyang."
"Naya, kamu hamil, Sayang ... kue balok sebaskom gak bakal jadi gizi buat bayinya," tutur Lorenza lembut, seakan berperan sebagai suami yang membuat Kanaya menepis tangan Lorenza.
"Ck, nggak usah sentuh-sentuh deh."
"Judes banget, mas Ibra kuat ngadepin kamu yang begini, Nay?" tanya Lorenza tiba-tiba ragu, ganasnya Kanaya mengalahkan seorang ibu kost yang biasanya akan meradang kala akhir bulan.
"Apasih pertanyaannya," kesal Kanaya yang justru salah tingkah.
Jelas saja berbeda jika itu adalah Ibra, mana mungkin dia akan semarah itu pada seseorang yang memang ia kehendaki selalu menyentuhnya. Kanaya tak bisa bohong, entah itu bawaan bayi atau memang keinginannya, yang jelas Kanaya sangat menyukai bila Ibra perlakukan semanis mungkin.
Meski sulit, Lorenza tetap memaksanya. Sebagaimana mandat Siska bahwa jam makan Kanaya harus diperhatikan karena anak itu sangat terlatih untuk hidup asal-asalan.
"Nggak usah tarik-tarik!! Iya makan."
Menyebalkan sekali, jam makan siang hampir habis dan Kanaya baru berniat. Kanaya meminta makan di luar, restoran yang tak jauh dari kantor tiba-tiba mengusik pikirannya.
"Kamu yang bayar?" tanya Lorenza memastikan, dia tidak mau terjebak seperti makan bersama Gibran kala itu.
__ADS_1
"Iya aku yang bayar, Lorenza."
Takut sekali, padahal sejak dahulu Kanaya selalu begini. Dia akan melakukan menjadi sumber dana dalam setiap hal yang mereka jalani bersama.
Tetap santai walau mereka cukup banyak menunda waktu. Bukan karena adanya Ibra saja, tapi memang sejak dulu. Keduanya berjalan beriringinan layaknya saudara kembar.
"Kamu mikirin apa? Baik-baik aja kan, Nay?" tanya Lorenza khawatir, wanita itu tampak berbeda dan meski Kanaya jawab tidak ada yang salah, Lorenza tak sebodoh itu menafsirkan makna.
"Nggak, cuma capek aja dikit."
Memang fakta, dia lelah dan berjalan seperti ini dia tak terlalu suka. Hanya demi menghargai kesetiaan Lorenza sebagai teman yang memastikan dia untuk makan teratur dan terjaga dengan baik, Kanaya melakukan ini semua.
Hati-hati sekali, dia menjaga Kanaya setulus itu. Walau sebenarnya Kanaya bukan lagi bayi yang harus dia gandeng ketika berjalan di tempat umum, tapi Lorenza selalu melakukannya demi memastikan Kanaya aman.
Hembusan angin terasa melegakan, meski tak sebegitu tenang angin pantai. Namun setidaknya, rasanya lebih melegakan daripada sebelumnya. Berada di tempat berbeda, wanita itu sejenak melupakan hal yang membuat dunianya seakan jungkir balik.
"Lorenza lebay!!" ucap Kanaya puas sekali, melihat sahabatnya yang bergerak ke kanan dan ke kiri dia mendadak geli.
"Kanaya sewot!!" balas Lorenza tak mau ambil pusing, wanita itu mengganggu kesenangannya, menyebalkan sekali, pikirnya.
"Hahah wajar nggak ada yang suka sama kamu, Za." Kanaya menggeleng pelan, tak salah jika sebagian pria yang megenal Lorenza di awal lebih memilih menyerah.
"Belum aja, mereka saja yang nggak bisa lihat keunikan dalam diri aku." Percaya diri sekali, padahal jika ada yang mengenalnya, itu bukan unik melainkan aneh.
__ADS_1
"Percaya diri sekali," celetuk Kanaya hendak memulai makannya, dan anehnya Lorenza tak lagi menjawab ucapan Kanaya. Padahal, sebelumnya itu selalu menyambar jika Kanaya mengucapkan satu kalimat saja.
Merasa heran dengan perubahan Lorenza, Kanaya turut terdiam. Dan ketika hendak melihat ke belakang, dirinya sudah dikejutkan dengan kedatangan pria tampan yang tiba-tiba duduk di sampingnya.
"Boleh aku duduk di sini?"
Ibra, dengan wajah ramah dan seperti biasanya menyapa Lorenza, bukan Kanaya. Sepertinya ini bukan hanya meminta bergabung, melainkan dia menginginkan tempat berdua bersama Kanaya.
"Silahkan, M-mas eh Pak."
Lorenza bingung hendak bagaimana, Ibra tampak berbeda dan sepertinya dia harus menempatkan diri sesuai tempatnya. Tak butuh perintah, dia duduk di tempat lain dengan membawa makan siang yang baru saja ia lahap dua suap itu.
"Gavin, kau temani saja dia," titah Ibra menarik sudut bibirnya, dia kasihan akan tetapi bersyukur juga Lorenza lebih mengerti tanpa menunggu perintah darinya.
Mereka kini hanya berdua, dan Kanaya justru merasa bingung harus bagaimana. Ibra menatapnya penuh teliti sementara Kanaya jelas saja melanjutkan makannya susah payah.
"Pelan-pelan, tidak ada yang mau merebut makananmu, Naya." Ibra mengingkat rambut Kanaya yang menurutnya sangat menggangu jika terurai sejak makan. Padahal sejak tadi Kanaya hanya diam, dia merasa berat walau hanya sekadar bertanya apakah Ibra sudah makan atau belum.
"Kanaya ...."
Wanita itu menoleh kemudian menatap kesal Ibra, wajahnya yang saat ini berbeda dengan beberapa jam lalu membuatnya kesal sekali. Tadi Ibra menatapnya seolah tak kenal, sakit sekali rasanya batin Kanaya.
"Ada yang mau kamu bilang? Atau cuma duduk di sini ganggu aku makan?" Ketus sekali, tidak ada tatapan bersabahat, Ibra ketar-ketir karena ini adalah emosi pertama yang dia saksikan dari sang istri.
__ADS_1
**TBC
Aku up sepertinya akan lebih dari 3, tungguin dan sawer Ibra jan lupa🦔**