
Di sisi lain, Wiradh memejamkan mata sembari menikmati kopi hitamnya. Harus bahagia atau bagaimana dia saat ini, Lorenza secara nyata akan dipinang orang lain. Akan tetapi, ada sedikit kedukaan dalam dirinya kini.
"Udah deh, Mas ... lagian dia juga udah tua, kapan lagi kita ketiban duren."
Bagi seorang Maria, mendapati seorang anak gadisnya dilamar adalah sebuah keberkahan. Tak peduli walau kini Lorenza tengah berontak di dalam kamar layaknya bayi yang memaksakan kehendak kepada orang tuanya.
"Ck tua-tua, putriku akan selamanya jadi anak kecil, Maria!"
Bagi seorang ayah, anak perempuan adalah harta berharganya. Sama sekali tidak dia duga sang istri justru sesenang itu, berbanding terbalik dengan putrinya.
"Ini nih, sikap kamu yang begini bikin dia jadi berasa kecil mulu. Leon aja udah gonta ganti pasangan, lah dia belum juga ... dan sekarang, dia dipinang pria setampan Gavin, ya Tuhan ... andai saja aku masih muda," tutur Maria seakan tak sadar dengan siapa dia bicara.
"Maksudmu?"
"Hah? E-enggak Mas!! Intinya aku bersyukur dia bakal nikah."
Menatap kerutan di dahi sang suami yang mulai layu, Maria cepat-cepat membenarkan maksudnya. Sungguh dia sama sekali tidak sengaja dan ini murni kesalahan lidahnya.
"Huft, semoga keputusan ini memang tepat ... tapi kamu yakin ini nggak berlebihan? Kamu tuduh dia hamil, Maria."
"Udah tenang aja, aku nggak punya cara lain buat dia kawin cepet, Mas."
Sebagai seorang wanita yang sudah memiliki dua anak dan mereka sudah dewasa, tentu saja Maria paham betul tanda-tandanya. Dan juga, jika memang Lorenza hamil duluan sudah pasti akan dia usir putri sulungnya itu.
"Tapi dia nangis terus, Maria." Masih tak tega, isakan Lorenza terdengar nyata oleh Wiradh, ingin dia tenangkan namun Maria jelas melarang. Bukan tanpa alasan, jika mereka sampai bicara empat mata, maka bisa jadi Wiradh membuka kebenaran jika sang mama hanya menakutinya saja.
"Jangan manjain, dia sudah besar ... kali ini kamu nggak usah ikut campur, cukup terima saja lamaran dari pihak Gavin," titah Maria tidak bisa dibantah.
Pria itu hanya menghela napas pelan, walau memang Gavin terlihat baik-baik saja. Entah kenapa batin Wiradh seakan tak ikhlas putrinya menikah cepat-cepat.
"Itu mereka, Mas berdiri!!"
-
.
.
__ADS_1
.
Leon yang juga berada di sana mengambil tindakan cepat dan memanggil Lorenza di kamarnya. Kedatangan calon atm berjalan yang bisa Leon jadikan sumber dana begini jelas harus dimanfaatkan dengan benar.
Dengan langkah panjangnya, menghampiri kamar Lorenza dan tanpa aba-aba dia menerobos masuk kamar sang kakak.
"Aarrrggghhh!! Leon keluar!!"
Tunggu, apa itu tadi? Leon bahkan belum melihat tapi Lorenza sudah berbalik. Pria itu masih berada di tempatnya, pemandangan sang kakak yang hanya mengenakan bra dan berusaha mengenakan bajunya terlihat biasa saja di matanya.
"Baru selesai mandi? Woah? Calon suami Kakak udah dateng tuh."
Bukannya keluar dia justru duduk di tepian ranjang, memandangi sang kakak dengan mata tengilnya. Lorenza risih luar biasa, cepat-cepat dia memakai bajunya dan kini berbalik menghadap Leon.
"Kamu bener-bener nggak paham sopan santun ya, Leon ... udah maen masuk tanpa izin, orang ganti baju malah diliatin! Stres tau nggak!!" sentak Lorenza seakan hilang akal, dirinya bahkan masih belum tenang. Dan kini, Leon datang dengan membawa kegilaan.
"Salah sendiri lama, bang Gavin sama keluarganya udah dateng dan rambut kakak aja belum kering!! Sehat?"
Pria itu berucap santai masih dengan posisinya yang bersedekap dada di tepi ranjang. Lorenza hanya menghela napas pelan, dia tidak kaget dengan apa yang Leon katakan karena sejak tadi dia sudah mendengar deru mobil yang dia yakini sebagai Ibra dan juga Gavin.
"Keluar sana, aku bisa sendiri."
"Jelaskan gimana caranya aku kabur? Sementara kamarku sudah kamu buat persis kandang kuda begitu!!" ujar Lorenza sembari menunjuk jendela kamarnya.
Ah iya, Leon lupa apa yang dia lakukan semalam. Ketakutan Maria begitu besar hingga meminta putranya untuk memastikan jendela kamar Lorenza terkunci permanen.
Beberapa kayu menutup jendela Lorenza dari luar, entah berapa banyak paku dia gunakan agar sang kakak tidak memiliki peluang kabur sedikitpun.
"Demi menghindari hal yang tidak-tidak, Kak ... percayalah, ini demi kebaikanmu."
Rasanya ingin sekali dia pukul wajah adiknya, dan sialnya sang papa sama sekali tidak memihaknya. Seolah mendukung keputusan sang mama untuk menerima lamaran dari Ibra.
"Mas Ibra nggak asik banget pakek ikut campur."
Lorenza menatap sedih cermin di hadapannya, kagumnya kepada Ibra semakin hilang kala dia mendengar kabar yang menurut Maria baik itu tadi malam.
"Suaminya Kak Naya?"
__ADS_1
"Hm," sahut Lorenza apa adanya, dia masih berpikir untuk memoles sedikit wajahnya. Meski bukan pertemuan yang dia inginkan, tetap saja Lorenza mau kali ini.
"Woah kalian benar-benar jadi istri konglomerat sepertinya ... Bang Gavin juga kaya sepertinya," ungkap Leon menganggukkan kepala, sepertinya memang pria itu hanya fokus dalam hal yang itu-itu saja.
"Kamu bisa keluar nggak? Berisik!!" sentak Lorenza merasa adanya Leon justru membuatnya kian lama.
"Nggak mau!! Aku ditugaskan mama jemput mempelai wanitanya, takut nanti kabur lewat dapur."
"Heh!! Mempelai apanya?!! Kamu mau aku kubur hidup-hidup, Leon?" Seram sekali, ancaman yang sama sekali tak membuat Leon takut melainkan justru merasa geli.
Menanti cukup lama, poles tipis menurut Lorenza tapi bagi Leon ini sangat-sangat lama. Pria itu bahkan masih menyempatkan diri video call dengan salah satu kekasihnya. Salah satu? Iya!! Karena yang lainnya masih ada.
"Sudah?" tanya Leon dengan senyumnya yang merekah, wajah manis Lorenza benar-benar menggemaskan. Terkadang dia sadar jika kakaknya cantik di beberapa saat, selebihnya tidak pernah.
"Iy...."
"Nggak usah ditarik sinting!!" Langkah Lorenza terasa sulit, adiknya memiliki tubuh yang tinggi dan juga gagah. Jelas saja yang kecil bahkan terseok-seok mengikutinya.
"Jangan cerewet! Ayo cepetan."
Ke ruang tamu dengan langkah terburu dan hati Lorenza seakan menggebu. Ada apa ini? Dia takut atau kenapa. Kian dekat dia justru kian takut dan pembicaraan mulai terdengar samar di telinganya.
"Niat kami baik, Pak ... dan juga terkait alasan yang sama-sama kita ketahui, sebagai keluarga sudah seharusnya kita membenahi kesalahan mereka."
Terdengar dewasa dan bijaksana, sudah pasti itu Ibra. Lorenza masih kagum dibuatnya, namun apa yang Ibra ucapkan dibelakangnya masih menganggu pendengaran Lorenza.
"Saya paham Nak Ibra, sebagai orangtua Lorenza saya hanya bisa mendukung keputusan putri saya. Kalaupun mereka melakukan kesalahan antara mereka berd...."
"Tunggu!! Izinkan aku bicara!"
Dengan tangan yang mengepal dan mata tajamnya, Lorenza datang dan memotong pembicaraan sang papa. Entah kenapa dia merasa luar biasa terhina dengan tuduhan sinting yang berasal dari mulut Leon itu.
"Za?" Entah karena spontan atau kenapa, Gavin yang kaget dengan kehadiran Lorenza justru berdiri dan hendak meraih pergelangan tangan Lorenza.
Siallan, apa yang kulakukan?!! Kalau begini, mereka jelas yakin aku memang melakukan hal keji itu pada wanita ini!!
Tbc
__ADS_1
Bab Selanjutnya otw diketik❣️ Sabar yaa. Kirim hadiah dulu, othornya kerja bagai kuda ini.