
"Mas," desis Kanaya mengelak ketika Ibra hendak melanjutkan kembali aksinya.
"Kenapa? Dia sudah pergi, kita lanjut, Sayang." Ibra menempelkan keningnya di kening Kanaya, Hembusan napas yang terasa hangat itu menyapu wajah Kanaya. Mata Ibra nampaknya sudah dipenuhi kabut tebal, pria itu benar-benar menginginkannya.
"Kalau yang lain masuk juga gimana?"
Detak jantung Kanaya bahkan belum baik-baik saja, kehadiran Gavin yang tiba-tiba masih membuatnya merasa ditelan*jangi di depan publik. Sementara Ibra? Tentu saja dia menganggap itu sebagai hal biasa.
Ibra tak peduli, mempercayakan semuanya pada Gavin karena dia yakin pria itu mampu berpikir sendiri apa yang seharusnya dilakukan di luar sana.
Meneruskan aksinya, menghirup aroma tubuh Kanaya yang begitu candu. Menenggelamkan wajahnya di pegununangan himalaya nan hangat itu.
Kanaya yang menerima serangan Ibra yang kini memberikan gigitan kecil di sana, dalam sekejab bagian atas Kanaya sudah terbuka. Tangan Ibra memang lihai luar biasa, tidak salah ketika dia membanggakan pengalaman yang dia miliki.
"Hhmmpp."
Menarik rambut Ibra sebagai cara mengendalikan dirinya, sejak tadi Kanaya berusaha menahan namun pada akhirnya suara indah yang selalu membuat Ibra tersenyum senang itu akhirnya terungkap juga.
Menepikan benda yang mengganggu di mejanya, dengan satu tangan dia bahkan bisa menahan tubuh Kanaya dan kini wanita itu sudah duduk di atas meja. Dengan posisi wajah mereka bertemu begitu dekat, tangan Kanaya melingkar di leher sang suami, mempersilahkan Ibra melakukan apa yang dia mau.
Pelukan yang ia berikan kian hangat, bahkan panas kini menjalar di sekujur tubuh keduanya. Gigitan kecil tanpa menyakiti itu membuat Kanaya terpejam.
Terlatih dalam permainan Ibra yang memang kerap dia dapatkan membuat tangan Kanaya mulai mandiri dan mencari tanpa perlu Ibra arahkan lebih dahulu.
Ibra tersenyum tipis kala jemari lentik itu berusaha membuka ikat pinggangnya. Wanitanya dapat mengimbangi cara Ibra mencari kesenangan, bisa dikatakan Kanaya adalah partner yang luar biasa memabukkan bagi seorang Ibrahim Megantara.
__ADS_1
Keduanya sama-sama dikuasai gai*rah menggelora, Kanaya bahkan meminta dengan sorot matanya agar Ibra melakukan hal lebih secepatnya. Memang biasanya akan begini, di awal dia akan menolak dan buaian Ibra membuat Kanaya meminta pada akhirnya.
Cengkraman di pundak Ibra kuat kuat ketika tubuhnya menegang, baru beberapa saat dan Kanaya sudah dibuat tak berdaya. Tak lama, pria itu kini merasakan sesuatu akan meledak di bagian intinya.
Ibra menyeka keringat di kening istrinya, rambut Kanaya yang kini tampak basah dan wajah yang kian cantik di mata Ibra ketika lelah begitu membuat lelahnya seakan hilang entah kemana.
"Love you, Honey." Ibra hendak kembali mendekatkan wajahnya, menjadikan bibir itu sebagai sasarannya, hingga senyum itu terganti dengan wajah penuh amarah ketika terdengar keributan di luar yang berakhir dengan pintunya dibuka paksa.
BRAK
"Bangshaaat!! Mas Ibra!!!"
Kanaya terperanjat kala suara wanita yang luar biasa memekakan telinga itu terdengar nyaring di telinganya. Ketakutannya benar-benar terjadi, sontak dia bangun dan Ibra memeluk sang istri demi melindunginya.
"Mas," teriak Kanaya panik dan memejamkan mata karena yang kini ia rasakan adalah malu luar biasa.
Beruntung Ibra tak melucuti seluruh pakaiannya, namun Kanaya jelas saja tak bisa diselamatkan. Ibra menarik jas yang ada tak jauh dari sana dan segera membalut tubuh mungil istrinya.
Rahangnya mengeras, mata itu memerah namun Ibra belum bisa menghampiri wanita itu karena kini Kanaya lebih penting untuk dia lindungi.
"Siapa yang mengizinkannya masuk, Gavin!!"
Kanaya hendak menoleh ketika mendengar teriakan Ibra, namun pria itu masih berusaha melindunginya dan menahan Kanaya agar tidak melihat kemanapun.
Ibra menatap marah Gavin yang panik setelah tak mampu menahan seorang Olivia yang memaksakan masuk bahkan membuatnya terjerambab di tanaman hias depan ruangan Ibra.
__ADS_1
Suara di dalam ruangan Ibra memang tidak terdengar di luar dengan jelas, meski Gavin dapat menebak apa yang bosnya lakukan, tapi dia sama sekali tak menyangka jika Olivia datang di saat mereka belum benar-benar usai melaksanakan ritualnya.
"Lepaskan aku, Gavin!! Aku harus tau siapa wanita murahan itu!!"
"Jaga bicaramu, Olivia ... kau yang murahan di sini," sentak Gavin tidak peduli meski ada Ibra.
Olivia berontak, bak hunusan seribu anak panah, hatinya luar biasa sakit begitu melihat bagaimana Ibra menatap wanita selainnya dengan begitu penuh damba.
Sementara wanita itu masih dalam pengawasan Gavin, Kanaya meminta Ibra melepaskan pelukan demi dia bisa mengenakan celana pendek itu setidaknya.
"Tega kamu, Mas!!" teriak Olivia bagaikan seorang istri yang memergoki suaminya tengah bermain api dengan wanita lain.
Bukan hanya teriakan, tapi wanita itu meraung dan berusaha untuk lepas dari cengkaram Gavin. Bahkan kini dia mengambil langkah dengan menendang alat vita*l Gavin hingga pria itu terhuyung dan tak mampu manjaga keseimbangannya.
Kesempatan baginya, Olivia menghampiri Ibra dengan Kanaya yang dia sembunyikan di balik punggungnya. Sebagai istri sah yang merasa tidak salah, Kanaya meminta Ibra menyingkir dan jangan membuat dia seakan pengganggu dalam rumah tangga orang lain.
"Mas kamu apa-apaan sih?! Aku nggak salah," ucap Kanaya tak terima karena Ibra justru memintanya mundur dan tetap berada di balik punggungnya.
"Oh, jadi benar dia alasan kamu tidak mau pulang? Bahkan Mama sekarat kamu tetap diam?!! Karena dia?!! Jallang ini, Mas?"
Olivia meradang, dia menunjuk-nunjuk Kanaya yang sejak tadi melemparkan tatapan datar padanya. Dia masih ingat jelas wanita yang ada di foto itu, dan kini mereka bertemu dan saling melemparkan tatapan kebencian.
"Jaga mulutmu, Olivia!! Dia istriku, dan kata-kata itu lebih pantas untukmu, bukan Kanaya." Ibra meradang, tangannya mengepal dan demi Tuhan dia ingin mencabut nyawa Olivia saat ini juga.
Tbc
__ADS_1
Up selanjutnya sore, sengaja dipisah biar pas 1K