
"Cih minta maaf? Yang benar saja, Anda gila?"
Gavin bahkan kehilangan kendali, perintah Ibra pagi ini benar-benar membuatnya tak bisa berkata-kata. Apa tadi? Meminta maaf pada wanita itu? Sejak kapan Gavin mau minta maaf pada wanita, Ibra tengah mengajaknya bercanda.
"Gavin kau?"
Mata Ibra membulat sempurna, pria yang ada di depannya mendadak jadi pembangkang. Tak biasanya Gavin menolak perintahnya, dan ini entah kenapa hatinya sangat amat tersiksa.
"Semua yang Anda perintahkan akan saya lakukan, kecuali itu."
Dia menolak tegas, sementara Ibra mulai kehilangan kesabaran. Permintaan istrinya tadi malam memang bukan perihal permintaan maaf, hanya saja Kanaya meminta agar dia tidak berlebihan mengambil langkah.
"Lakukan, kau kemarin bertindak di luar perintahku bukan?"
Sama-sama bertindak tegas, Ibra menatap tajam pemilik manik coklat itu. Melihat Gavin yang seenggan itu, dia lama-lama kesal sendiri.
"Tapi, Tuan ... dalam hal itu saya tidak salah, memang wanita itu yang perlu diberi pelajaran," jelasnya frustasi, dia melakukannya karena merasa Ibra terancam, sungguh dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia meminta maaf. Alangkah menari-narinya Lorenza karena merasa menang di mata Ibra.
"Tapi kau berlebihan, Gavin, tidak perlu mengasingkannya hanya untuk kau bebas membentak Lorenza ... lagipula tubuhmu itu sejak kapan kau gunakan untuk menyakiti wanita dengan sengaja?"
Mengenai itu, Gavin sendiri lupa bagaimana dia tiba-tiba memiliki keinginan agar Lorenza terpental jika perlu. Pria itu paling tidak suka wanita yang terlalu aktif membawakan berita tanpa pertimbangan baik dan dan buruknya.
"Dia mengadu?" tanya Gavin tak terima, sepertinya Lorenza benar-benar pembangkang.
"Bukan masalah itu, tapi aku tegaskan padamu ... wanita itu adalah orang-orang yang memposisikan diri sebagai pengganti keluarga istriku, anggap saja hal yang wajar jika dia ikut campur hubungan kami."
Ibra menyadari mereka bukan pengaruh buruk sepenuhnya yang harus Kanaya hindari. Mendengar cerita istrinya tentang Lorenza yang justru merasa salah di mata siapapun membuatnya sedikit tersentuh.
"Wajar apanya, dia memancing keributan yang membuat non Kanaya diamuk temannya yang lain. Mulut Lorenza memang ada baiknya dijahit, membuat pusing saja."
Demi apapun rasanya Gavin kesal sekali. Wanita itu bukan hanya pembangkang, tapi juga pengadu. Sudah jelas dia mengadukan secara detail apa yang dilakukan Gavin padanya kemarin, bahkan mungkin ditambahi bumbu-bumbu yang membuat Kanaya dan Ibra merasa bersalah, pikir Gavin.
"Mulutmu juga!! Gavin ... di antara banyak masalah yang harus kita selesaikan di perusahaan, kau justru lebih pusing karena wanita itu," imbuh Ibra tak habis pikir dengan apa yang dia lihat kini, kenapa jadi seserius ini mereka membahas Lorenza.
__ADS_1
Hendak menjawab apa, karena memang dia lebih pusing menghadapi Lorenza dibandingkan harus menyelesaikan berbagai masalah lainnya. Berhadapan dengan Lorenza tak cukup hanya dengan otak, tapi juga harus pakai otot, pikir Gavin kesal.
-
.
.
"Tuan, aku rasa meminta maaf pada wanita itu bukanlah hal penting ... saat ini, yang paling penting adalah melindungi non Kanaya, karena Ningsih mengatakan keberadaan kalian di sana kemarin telah diketahui Nyonya."
Ibra yang tadinya fokus membahas Lorenza, mendadak lupa dan kini berganti tentang Kanaya, sang istri.
"Kau yakin?" tanya Ibra merasa sedikit ragu, pasalnya dia memang sempat melihat Olivia, tapi rasanya tidak mungkin jika wanita itu yang mengetahui keberadaan mereka.
"Hm, orang kepercayaan Nyonya mengikuti Anda di pusat perbelanjaan, dan dia juga mengambil foto kalian berdua sebagai buktinya."
"Apa?!! Lalu Mama mengetahui wajah istriku?!"
"Iya, Tuan," jawab Gavin dengan berat hati, sebagaimana laporan Ningsih semua memang terjadi begitu adanya.
Ibra mengusap wajahnya kasar, dia memang benar-benar bodoh hingga tak mempertimbangkan hal itu. Berkeliaran bebas di kota yang mana dia ketahui Indira berkuasa bersama anak buahnya.
"Tapi anehnya, Nyonya biasa saja dan tidak memberikan respon seperti dulu, Tuan."
Menurut penuturan Ningsih yang Gavin dengar memang demikian. Indira tidak mengerahkan anak buahnya untuk memperketat pencarian atau bahkan melakukan pengejaran, jika dahulu dia takkan berhenti jika sudah mendapatkan petunjuk, kini semua benar-benar berbeda.
"Maksudmu?" tanya Ibra dengan tatapan penuh tanya pada Gavin saat ini.
"Yang marah besar melihat foto itu hanya Olivia, sementara Nyonya hanya diam dan menganggap hal itu wajar Anda lakukan."
Sebenarnya, tentang hal ini bukan hanya Ibra yang terkejut, tapi juga Gavin. Apa mungkin keadaan Indira yang membuatnya tak segila dulu? Atau mungkin ini hanya pancingan agar Ibra datang sendiri karena mengira dirinya jinak, pikir Gavin.
"Baguslah, dia memang tidak berhak marah padaku," tutur Ibra menatap jauh keluar sana, hanya saja hal semacam ini tidak bisa Ibra anggap sebagai pertanda baik.
__ADS_1
"Tapi, Tuan ... jangan lengah hanya karena Nyonya tidak memperlihatkan reaksi seperti sebelumnya, bisa jadi ini jebakan."
Ibra megangguk, sejak tadi memang ini yang dia pikirkan. Ibra paham bagaimana Indira, wanita itu bahkan bisa bersembunyi di balik senyum hangat sembari menusuk lawannya tanpa aba-aba.
"Hm, aku paham itu, Gavin."
Mereka sejenak terdiam, nampaknya Ibra sudah melupakan perihal perintahnya beberapa saat lalu. Ini adalah hal yang Gavin inginkan, melihat Ibra yang justru memikirkan hal seharusnya, dia menghela napas lega.
"Keluarlah, aku akan pulang sebentar lagi ... jam makan siang sudah dekat."
Ibra menatap pergelangan tangan kirinya, memang sudah mendekati jam makan siang. Dan hari ini, Ibra mengetahui jika istrinya tengah belajar memasak bersama Sulis. Meski dia tidak terlalu berharap Kanaya akan memberikan hidangan istimewa, akan tetapi Ibra memilih makan siang bersama sang istri.
"Baik, Tuan, apa perlu saya antar?" tawar Gavin dengan wajah yang justru terlihat lega sekali Ibra pulang siang ini.
Meski harus menempuh jarak yang sejauh itu, Gavin rela cari muka demi bisa selamat dan Ibra melupakan perintah konyolnya itu.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri."
Ibra merapikan meja kerjanya sebelum pergi, pria itu memang terbiasa sejak dulu melakukan itu. Batin Gavin benar-benar merdeka, nyatanya Ibra memang tidak membahasnya lagi.
"Hati-hati, Anda harus benar-benar fokus dan tidak boleh berpikir macam-macam, Tuan!! Stay Focus, Ibra!!" seru Gavin menepuk pundak Ibra beberapa kali, mereka memang cukup dekat di luar pekerjaan sebenarnya.
"Ck, kau sinting?" Ibra mengedikkan bahunya, pria itu berdecak kesal dan menatap heran wajah Gavin yang terlihat bahagia sekali dia pergi.
"Maaf, Tuan, saya terlalu bersemangat."
Mengiringi langkah Ibra hingga memastikan atasannya masuk lift dengan selamat. Kebiasaan ini memang sudah menjadi tradisi, Ibra yang sejak dahulu tidak mau masuk jika seseorang tidak membukakan pintu untuknya, sampai saat ini terkadang kebiasaan itu masih terbawa-bawa.
"Gavin, jangan lupa yang kukatakan ... minta maaf, akui kesalahanmu pada Lorenza," ucap Ibra sebelum dia berlalu, sebuah kalimat yang sukses membuat raut wajah Gavin berubah total.
"Kau dengar, Gavin?"
"I-iya, Tuan," jawab Gavin dengan berat hati, rasanya sangat menyesal dia telah berusaha membahas pembicaraan lain dan juga cari muka sebelumnya.
__ADS_1
"I Hate You, Rambut Dora!!"
Tbc