Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 45


__ADS_3

Menjalani hidup baru, sebagai istri Ibra Megantara seakan mengubah hidup Kanaya 180 derajat. Wanita itu tidak memiliki kebebasan yang seluas dulu, ketika belum menikah.


Ibra tak mengizinkannya pergi jika bukan dengannya. Bodyguard yang justru membuat Kanaya takut sendiri begitu setia menemaninya pergi kemana pun.


Perihal pekerjaan, Kanaya masih diperbolehkan karena wanita itu belum mau jika jadi pengangguran. Ya, walau sebenarnya Ibra bisa memberikan kehidupan dengan segala kemewahan padanya, tetap saja Kanaya merasa pegal dan memang jiwa Kanaya bukan kau rebahan.


"Hanya sampai beberapa bulan lagi, setelah itu tidak boleh."


Perdebatan mereka sejak tadi tak ada ujungnya. Kanaya masih berusaha melakukan negosiasi bersama Ibra demi mendapatkan kebebasan meneruskan karirnya. Lumayan, siapa tahu naik jabatan seperti Gibran, pikir Kanaya.


"Tujuh bulan ya?" tanya Kanaya mendongak, menatap wajah Ibra yang sejak tadi lelah menghela napas lantaran Kanaya mulai batu dan tidak segera mengiyakan larangannya.


"No, 4 bulan."


Itu sudah paling lama, dan tidak ada lagi toleransi. Ibra bahkan khawatir jika istrinya masak sendiri, dan kini wanita itu justru tetap ingin melanjutkan karirnya.


"4 bulan, lama banget aku nganggurnya." Kanaya mengerucutkan bibirnya, persis cangkang keong sawah.


"Nggak nganggur, aku pulang kamu tetep kerja."


Ibra terkekeh, melihat istrinya melongo pria itu semakin merasa ini lucu. Sepertinya otak istrinya memang benar-benar polos, sangat cocok sekali dengan pikiran Ibra yang luar biasa mulusnya.


"Maksudnya?"


Sungguh, Kanaya memang tidak mengerti pada kenyataannya. Sejak kemarin bahasa-bahasa yang keluar dari mulut Ibra begitu tinggi untuk diterjemahkan otak Kanaya yang masih polos itu, julukan Lorenza.


"Nggak paham? Pura-pura tidak mengerti atau memang ...."


Tidak yakin sekali, umur Kanaya sudah sedewasa itu dan bisa-bisanya dia tidak paham apa maknanya. Ibra merubah posisinya agar lebih leluasa menatap kebohongan dalam manik indah Kanaya.


"Kamu dari dulu ngapain, Nay?"


"Hah?"


Semakin tidak paham tentu saja, wajah slengean Ibra dengan tatapan yang tak bisa Kanaya terjemahkan maknanya itu tergambar jelas di depan mata.

__ADS_1


"Huft, wajar saja Abygail menghajarku malam itu."


Pria itu menghela napas kasar, teringat bagaimana marahnya Abygail kala mengetahui adik kandungnya dia hamili. Lucu bukan? Kanaya yang terkesan nakal ternyata masalah ini dia polos sekali.


"Kenapa memangnya?" tanya Kanaya semakin merasa pembicaraan Ibra sudah kesana kemari.


"Adiknya sepolos ini, tapi kenapa kamu berani bayar laki-laki malam itu? Hm?" Ibra terlampau gemas, menghujani wajah Kanaya dengan kecupan rasanya tidak akan pernah puas.


Kanaya mulai paham maksud pembicaraan Ibra, suaminya menduga dia seliar itu ternyata. Kanaya tidak liar sebenarnya, tidak juga polos. Tergantung siapa lawan bicaranya, dan jika bersama Ibra memang dia seakan terlihat tak paham apa-apa.


"Mama butuh mantu, tapi Gibran malah lamar Khaira ... aku bingung dan belum punya penggantinya, mau jujur aku makin malu."


Penjelasan Kanaya sudah sangat jelas sebenarnya, memang hanya itu dan demi gengsi selangit rela memgeluarkan uang dengan jumlah yang tidak sedikit.


"Adik iparmu itu ya? Rumit sekali percintaan kalian." Tidak ada kecemburuan sepertinya, tapi nada bicaranya mendadak berubah.


"Lumayan ... rumit," ujar Kanaya dan Ibra menatap kesedihan di mata Kanaya, dia masih belum bisa lupa atau bagaimana, pikir Ibra.


"Lupakan ... gunakan aku sebagai perantaranya, cintai aku setulusnya maka melupakan dia adalah hal mudah, Kanaya." Ibra membelai wajah Kanaya, menyampaikan ungkapan cinta dengan kalimat indah dan tatapan tulus pada Kanaya.


-


Hanya anggukan, tidak ada jawaban dari Kanaya karena sesaat kemudian Ibra sudah membenamkan bibirnya, memaksa Kanaya bungkam dan wanita itu hanya bisa terpejam.


"Ingat semua ini, Kanaya."


Cukup lama menahan, Ibra tak ingin kehilangan kesempatan. Malam kesekian, walau sebenarnya bukan pertama tapi sejak pernikahan dia mengharapkan ini dari Kanaya.


Jemarinya menelusuri tubuh sang istri dengan lembut, Tubuh Kanaya yang juga menginginkan tidak bisa berbohong meski kerap ia tahan. Lenguhan yang tak sengaja lolos dari bibir Kanaya kala Ibra turun ke leher dan lainnya membuat pria itu merasa mendapatkan izin penuh dari Kanaya.


Kali kedua bagi Kanaya, walau sejak kemarin Ibra mulai memancingnya dengan memberikan kecupan tiba-tiba tapi kali ini Kanaya masih sama seperti kali pertama.


Tak butuh waktu lama bagi Ibra, melucuti pakaian Kanaya dengan sekali tarik dan bahkan istrinya tak sadar adalah kemampuan terpendamnya.


Berusaha menutupi bagian intinya, Ibra menepis tangan Kanaya lembut. Tidak ada menyakiti dan pemaksaan di sana, percintaan sehat dan ini yang sejak dulu Ibra impikan dari seorang yang dia cintai secara sempurna.

__ADS_1


Sengaja menunda dan membuat istrinya terbuai dan bahkan Ibra menginginkan Kanaya memohon padanya. Jemari lentik itu sejak tadi mencari tempat berpegang kala Ibra berhasil membuatnya kembali merasakan surga dunia padahal dia belum melakukan serangan yang sesungguhnya.


Kanaya tidak bisa menahan lebih lama, matanya menatap Ibra dan senyum miring Ibra dapat dia tangkap dengan nyata. Dia menyukai hal ini, melihat tubuh yang tengah ia kuasai bergetar membuktikan jika dia adalah pria sejati.


Ibra mengunci tubuh Kanaya, kecupan itu dia berikan sebagai penenang sesaat sebelum dia benar-benar memasuki inti milik Kanaya di bawah perutnya. Melakukannya dengan hati-hati dan tentu saja tidak bisa sebrutal ataupun segila kehendaknya. Kanaya hamil muda dan Ibra tidak mau penyesalan terjadi di kemudian hari.


Deru napas kedua insan itu menyatu dalam keheningan angin malam, tubuh keduanya penuh keringat dan bahkan membuat rambut Kanaya tidak beraturan. Racauan Keduanya sebebas itu karena tidak mungkin ada yang mendengar, kecuali Sulis sengaja berdiri di depan pintu.


"Kan-naya."


Bersamaan dengan tubuh Ibra yang menegang setelah kemudian ambruk di atas istrinya. Napas Ibra tersengal-sengal begitupun dengan Kanaya yang kini hanya memejamkan mata.


Kanaya melingkarkan tangan di pundak suaminya, tubuhnya seakan tak masalah meski Ibra berada di sana. Pria itu masih menenggelamkan wajahnya di ceruk sang istri, wanitanya yang akan selamanya menjadi milik Ibra.


Tanpa masa lalu, dan hidup hanya tentang mereka berdua, tanpa adanya orang ketiga dari pihak manapun. Deru napas yang kini mulai teratur, Ibra semudah itu tertidur.


"Berat, Mas," keluh Kanaya mencoba mendorong tubuh Ibra, pada akhirnya berada di titik itu dan sadar tubuh suaminya memang berat sekali.


"Mas Ibra!!" rengek Kanaya sembari menepuk-nepuk pundaknya, beberapa kali mencoba namun hasilnya sama saja hingga Kanaya berpikir bahwa Ibra pingsan.


"Mas!! Tolonglah, aku kejepit!!" desisnya tapi memang benar-benar Ibra tetap diam bahkan bergerak sedikitpun tidak.


"IBRAHIM!! Mati akunya kalau begini, astaga." Jika pasangan lain akan berakhir manis yang mana pria akan memeluk wanitanya, Kanaya justru tersiksa di akhir, belum lagi tubuh manusia ini terasa makin berat karena tertidur kian lelap.


"MAS!!"


"Hm?" What? Dari tadi dia sadar atau bagaimana? Sungguh Kanaya tak habis pikir.


"Geser, aku kejepit."


"Maaf-maaf ... Mas nggak sadar, Kanaya." Bisa saja dia mencari alasan, tidak sengaja kata dia? Semudah itu dia berucap kemudian kini merubah posisinya dan tidur namun meminta dipeluk oleh istrinya.


"See You, besok pagi."


TBC

__ADS_1


Thor gak pas, kenapa upnya pagi? Gapapa, kan belum tentu ketemunya pagi juga.


__ADS_2