Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 93


__ADS_3

Hari ini terlalu berat bagi Kanaya, Gibran dan Olivia tidak ada bedanya. Dia masih lemas dalam pelukan Ibra, dan pria itu jelas tak tinggal diam meski sudah membuat Gibran hampir tak bernapas.


Memerintahkan Gavin menyeret Gibran keluar, dipecat tidak hormat dan tanpa mendapat apapun dari perusahaan. Sebelumnya Ibra sudah mengalah dan dia tak mengusik Gibran sama sekali selagi Kanaya tidak merasa terganggu.


Sayangnya, Ibra yang diam ternyata Gibran anggap lemah dan memanfaatkan keadaan sesukanya. Sementara Gavin yang dimintai tanggung jawab jelas saja bertindak sama tegasnya.


Pulang dengan keadaan babak belur, bahkan dia butuh beberapa waktu untuk bisa kembali berdiri setelah Gavin seret keluar kantor. Dia sempat berpikir untuk meminta Jackson mengantarnya, dan Ibra tidak pernah memberi izin pada Gavin apapun alasannya.


Tamat sudah, mungkin setelah pulang Khaira takkan menerima kegagalannya.


"Pastikan dia tidak bisa hidup dengan tenang," titah Ibra tegas, setelah kejadian ini seorang Gibran Andreatama akan menjadi pengangguran abadi, berani bermain-main pada Ibra artinya siap dengan batunya.


Pulang lebih awal walau sebelum waktunya, Ibra ingin istrinya beristirahat dengan baik. Pergelangan tangan dan area dagunya yang memerah membuat Ibra kembali memanas seketika.


Rasanya kurang puas, namun Kanaya sudah tak mau lagi melepas Ibra. Pria itu tidak punya pilihan lain, hanya ini pilihan terbaiknya.


Kanaya sejak tadi hanya memandang ke luar, hiruk pikuk ibu kota seceria itu di mata Kanaya. Gedung tinggi yang menjulang dan banyaknya pasang mata dengan berbeda cara pandang menghiasi perjalanan pulang.


"Nay, kamu lihat apa?"


Ibra mengenggam tangannya, menyadarkan istrinya yang ia takutkan akan terus menerus terbenam dalam ingatan buruk itu.


Kanaya tidak menjawab banyak, sejak tadi dia lebih banyak diam. Mungkin moodnya rusak hingga akar karena pertemuannya dengan makhluk bernama Gibran itu.


"Ada yang kamu inginkan?"


Ibra bertanya selembut mungkin, siapa tahu istrinya mengidam tiba-tiba setelah sempat bertemu musuh bebuyutannya. Sebelum terlanjur pulang, karena biasanya Kanaya akan mengutarakan keinginannya setelah Ibra berada di halaman rumah.


"Enggak, capek Mas ... mau tidur."


Tumben sekali keinginanya hanya itu, Ibra mengangguk setelah mengulas senyum hangat. Pria itu tersenyum dan mengusap puncak kepala Kanaya.


Benar kata Ibra, semakin lama mereka bersama maka akan semakin banyak hal gila yang Kanaya temui. Walau sebenarnya perihal Olivia dia bisa atasi dengan memberikan kepercayaan pada Ibra sepenuhnya.


Memecah lalu lalang kendaraan yang tak begitu ramai, Ibra kini tiba dengan selamat. Langkah malas Kanaya membuat Ibra memilih untuk membopong wanitanya. Hal semacam itu sebenarnya merupakan pemandangan yang biasa, para pekerja dan bodyguard yang ada di sana kerap melihat pemandangan manis ini.


"Aku bisa jalan sendiri, Mas."

__ADS_1


Hal yang Kanaya tak habis pikir, sebenarnya Ibra mengira istrinya lumpuh atau bagaimana. Kanaya hanya lelah dan setiap langkah istrinya lambat sedikit saja Ibra akan menggendongnya.


"Tenaganya simpen buat nanti malem."


"Nanti malem?"


"Hm, kamu harus makasih banyak-banyak karena Mas datang di saat yang tepat, iya kan Sayang?" Mengedipkan matanya dengan seraya menampilkan gigi rapihnya.


Masih saja, sepertinya otak Ibra benar-benar tidak terselamatkan. Wajah mesumnya begitu nyata dan demi apapun Kanaya kesal mendengarnya. Wanita itu mencubit perut suaminya, mereka baru saja tegang urat dan pikiran Ibra masih tetap fokus ke arah sana.


"Aaaww, sakit, Nay."


"Kamu memang nggak sehat, Mas."


Ibra terkekeh geli, Kanaya yang begini benar-benar membuatnya terhibur. Seakan dunianya kembali baik-baik saja meski tadi sempat emosi di luar nalar.


-


.


.


Gibran melankah masuk dengan bantuan penjaga rumah, wajahnya babak belur dan jalannya terlihat sedikit pincang. Khaira panik sementara kepala Widya terasa sakit.


"Mas!! Katakan, ulah siapa?!" desak Khaira panik, wanita yang kini tengah hamil muda itu tak bisa berkata apa-apa kala melihat suaminya persis korban perampokan.


Mahatma yang juga baru saja keluar sama paniknya. Bagaimanapun, Gibran adalah suami dari Khaira, anak kandungnya. Pria itu menghubungi Abygail dan Adrian segera, pikirannya sudah macam-macam.


"Ada yang hilang?" Khaira bukannya bertanya keadaan Gibran lebih dulu, melainkan memastikan dompet, ponsel dan mobil kesayangan miliknya yang Gibran gunakan hari ini masih aman.


"Astafirullah, Khaira!! Pentingkah memeriksa harta Gibran lebih dulu dibandingkan keadaannya sekarang?" sentak Mahatma tak habis pikir, entah kenapa dia memiliki seorang putri yang tak punya hati seperti Khaira.


"Papa kenapa bentak aku?!!"


Tak terima dengan teguran sang papa, Khaira membentak Mahatma hingga membuat pria itu menggeleng pelan. Widya menggenggam tangan suaminya, meminta pengertian agar Mahatma tidak kembali marah.


"Papa!! Ada apa?"

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Abygail datang dengan wajah paniknya. Mahatma memberitahukan hal semengerikan itu dan berpikir bahwa Gibran benar-benar korban perampokan.


"Gibran, kau kenapa? Apa yang terjadi?"


Abygail tetap sekhawatir itu, andai saja dia tahu alasan Gibran menerima pukulan separah itu, sepertinya dia justru akan menghadiahkan pukulan yang lain.


Gibran belum mau menjawab, jika jujur dia akan semakin tersiksa. Abygail takkan tinggal diam, meski sempat semarah itu pada Kanaya, pada akhirnya pria itu tetap merindukan adiknya. Beberapa kali Abygail masih memantau Kanaya lewat Lorenza, wanita cerewet yang masih dapat dia percaya.


"Hubungi Adrian, kita harus lapor polisi, Pa."


Mendengar itu Gibran makin takut, dia segera menggeleng cepat dan meminta sang mertua tidak melakukan perintah Abygail.


"Jangan, Pa, aku baik-baik saja."


"Baik-baik saja bagaimana? Bibirmu bahkan robek dan wajahmu hancur begini, sebenarnya apa yang terjadi? Siapa yang melakukannya?"


Abygail mulai tak sabar, sejak tadi dia bertanya baik-baik dan Gibran tidak menjawab sama sekali. Pria itu hendak menjawab tapi sepertinya ragu, dan ini yang tidak Abygail suka dari Gibran.


"Katakan siapa, Gibran!!" sentak Abygail memekakkan telinga.


"Ib-Ibra."


Mendengar jawaban itu, Abygail memicingkan matanya. Pria itu bisa menebak alasan apa yang membuat Ibra melakukannya. Tentu tidak jauh-jauh dari Kanaya.


"Ibra? Suami Kanaya?!!"


Gibran mengangguk, Mahatma yang belum memahami situasi jelas bingung. Dia belum mengetahui fakta jika Gibran adalah bawahan Ibra. Sementara Abygail yang megetahui ini dari Lorenza hanya terdiam sesaat sebelum kemudian dia kembali bertanya perihal sebabnya.


"Kanaya, kau pasti berbuat macam-macam pada adikku hingga Ibra semarah ini bukan? Jawab!!"


Mahatma yang mendengar bentakan Abygail semakin heran. Sebelumnya dia khawatir akan keadaan Gibran namun kini Abygail seperti ingin membunuhnya.


"Aku tidak melakukan apa-apa, Mas!! Dia cemburu karena Kanaya masuk ke ruanganku ketika dia pergi," ucapnya lemah dan membuat Khaira membeliak sempurna.


"Apa?" Mahatma menatap Gibran tak percaya, sementara Widya kini sakit kepala tiba-tiba.


To Be Continue

__ADS_1


Antagonis paling sinting siapa?


__ADS_2