
Kematian Wedirman tentu adalah duka bagi sebagian orang. Namun, tidak menutup kemungkinan ada yang menganggap hal ini sebagai kesempatan untuk naik.jabatan. Beberapa petinggi yang sudah memiliki kepercayaan diri besar sekali, begitu yakin posisi Wedirman akan menjadi milik mereka.
Sayangnya, harap sebatas harap karena pada akhirnya mereka hanya bisa gigit jari dan mengepalkan tangan karena pada akhirnya posisi itu kembali kepada seseorang yang memang berhak sejak lama. Tinggalah perasaan tak suka dan merasa kematian Wedirman tak berguna.
Penyambutan Direktur utama yang baru, tentu hampir semua penasaran. Desas-desus bahwa pengganti Wediirman adalah seseorang yang masih muda dan cekatan. Banyak juga yang mengira bahwa pria yang dimaksud adalah putra kandung Wedirman yang tersembunyi keberadaannya.
"Nay," panggil Lorenza seperti biasa, dia akan heboh duluan walaupun desas-desus itu belum tentu benar. Baru beberapa hari dia menangis bahkan susah bernapas karena kepergian Wedirman, kini wanita itu antusias menunggu penggantinya.
"Hm," sahut Kanaya luar biasa lemas, dia sedikit lelah dan mulutnya terasa malas untuk bicara karena pegal mengunyah kue balok sejak pagi tadi.
"Kata orang sih, Dirut yang baru masih muda .... aah aku makin semangat! Jadi gak sabar seberapa tampannya, kayaknya aku bakal berpaling sih dari Mamas Ibra kali ini."
Kanaya menarik sudut bibirnya, bukan tersenyum melainkan merasa geli dengan pernyataan Lorenza. Baguslah sekiranya dia tidak menginginkan Ibra lagi, pikir Kanaya.
"Terserah," seru Kanaya dengan nada ketus dan luar biasa menjengkelkannya.
Lorenza merasa Kanaya tidak seru lagi, semenjak hamil mood Kanaya sudah tidak cocok diajak ghibah seperti dulu. Dan hanya meninggalkan Lorenza sendirian berkhayal tentang para pria tampan.
"Apasih, Nay ... sensi banget kek orang hamil." Lorenza memutar bola matanya malas, kesal sekali rasanya kala wanita itu benar-benar mengabaikan pembicaraannya.
Dia tak lagi menjawab, sudah cukup dia lelah dengan berdiri di sini menanti kedatangan sang direktur yang entah kapan tibanya. Kakinya sudah kesemutan, andai saja bisa tak bergabung rasanya ingin sekali Kanaya tetep berada di ruangan saat ini.
"Hhppppttt Nay, nggak lama lagi!! Itu mereka kan?"
Masih kurang puas dan seakan tak paham jika Kanaya kesal, Lorenza menepuk-nepuk pundak Kanaya kala jajaran pria tinggi berjas hitam mulai bergerak mendekati mereka.
Langkah kaki yang jenjang, rambut yang luar biasa rapi dan tunggu, sepertinya Lorenza mengenali siapa yang berada paling tengah. Wanita itu bahkan memicingkan matanya demi bisa mengenali mereka lantaran jaraknya masih cukup jauh.
Mereka kian dekat, dan mata Lorenza takkan salah. Sementara yang lain menunduk, wanita itu sibuk mengenali siapa pria itu. Dia bahkan enggan menurut walau Sandora sudah menepuk tengkuk lehernya agar segera menunduk.
__ADS_1
Langkah mereka terdengar sangat berwibawa, Kanaya yang justru merasa kesal dengan kelakuan Lorenza mengangkat wajahnya namun hal yang ia lihat kini jauh lebih penting dari Lorenza.
Pandangannya terkunci, dia berusaha meyakinkan jika ini hanya mimpi. Kanaya masih terus saja menatapnya, hingga tatapan itu berbalasa kala Ibra juga Menjadikanny pusat perhatian. Tidak ada senyum seperti Ibra yang ia kenal sebagai suaminya, hanya ada wajah tegas berlalu formal ke depan sana.
Kanaya menunduk tiba-tiba, fakta di luar dugaan dan seakan kejutan yang kelewatan untuknya. Ibrahim Megantara, apa lagi hal yang dia sembunyikan, pikir Kanaya mengepalkan tangannya tiba-tiba.
Perkenalan atau sambutan, terserah apalah itu Kanaya tak peduli lagi. Yang jelas dia mendengar nama Ibra dengan pasti, siapa tahu namanya berbeda dan perkara itu Ibra bohong juga, pikirnya.
Selama penyambutan itu terjadi, tidak ada wajah bahagia seperti yang lainnya. Kagum, salah tingkah bahkan mencuri pandang tidak pernah Kanaya lakukan. Dia hanya terdiam tanpa ulah, dan kembali ke ruangannya diam-diam kala suasana mulai senggang.
π€π€π€π€π€
BRAK
Lorenza menyusul Kanaya dengan langkah terburu dan wajah cemasnya. Wanita itu bahkan susah payah mengatur napas karena berlari demi bisa memastikan Kanaya kembali ke ruangannya, bukan ke tempat lain.
"Kenapa pertanyaanmu begitu?"
Untuk berdebat dia tidak punya waktu, Kanaya lebih lelah dari apa yang terlihat dan rasanya mual sekali mengingat kejadian tadi.
"Mas Ibra, kamu tau ini dari awal kan? Makanya kamu biasa aja," tebak Lorenza bahkan sengaja menyeret kursi di hadapan Kanaya.
"Aku nggak tau sama sekali, Za, jangan tanya aku ... kamu tanya Ibranya sendiri sana."
Kanaya kembali berkutat dengan monitor yang sebenarnya bukan hendak bekerja, melainkan lanjut nonton drama kemaren sore yang sempat ia tonton. Memikirkan Ibra terlalu berat, dia takut bayinya juga berontak.
"Serius nggak tau? Kamu bohong banget, Ibra tu suami kamu, Naya ... masa nggak tau."
Kanaya yang biasa saja dan dia yang panik, Ibra memang suaminya, tapi Kanaya merasa saat ini yang ia miliki hanya sebatas raga Ibra. Sisanya dia tidak paham sama sekali siapa pria itu.
__ADS_1
"Demi Tuhan aku nggak tau, kalaupun aku tau nggak juga bakal diem-diem sama kalian sejak awal."
Lorenza tidak marah, melainkan kini pikirannya tengah berlari kesana kemari. Posisi Ibra bukan main dan bisa jadi dia lebih kaya dari itu. Keyakinannya sejak awal benar-benar nyata dan di antara mereka bertiga, yang meyakini Ibra bukan orang biasa hanyalah Lorenza.
"Fiks!! Dia konglomerat dari zigot, Nay!! Kamu harus cari tau lebih tentang suami kamu!!"
Kanaya hanya menghela napasnya kasar, ribet sekali memiliki teman seperti Lorenza. Dia sangat berbeda, kala Lorenza justru memikirkan seberapa kayanya Ibra, dia justru bingung alasan Ibra setertutup itu padanya.
"Kamu masih terus bahas ini? Aku mulai enek, Za."
Dia marah, rasanya ingin sekali berbicara empat mata pada Ibra. Bertanya dan menuntut penjelasan kenapa dirinya berada di posisi ini. Belum lagi, dia merasa malu luar Bias karena cerita banyak tentang Wedirman yang kemudian menimbulkan pertanyaan bagaimaba hubungan mereka sebenarnya, karena seperti yang Kanaya dengar dari Ibra tadi malam bahwa papanya sudah tiada sejak lama.
"Penasaran, dia kakaknya Zora mungkin ya?" cetus Lorenza menduga-duga, demi apapun dia lebih penasaran dari Kanaya.
"Entahlah, Lorenza! Ingin rasanya aku pukul wajah tanpa dosanya itu saat ini juga."
Wanita itu merasa Ibra mempermainkan kepolosannya, dia memang tak terlalu peduli bagaimana kehidupan orang ketika mengenalnya. Dan juga pertemuannya dengan Ibra adalah hal yang berawal dari kegilaan, mana dia tahu jika akan terjadi hal semacam ini.
"Kalau mas Ibra jadi Dirut, lalu Gibran gimana?"
"Ck, terlalu banyak yang kamu pikirkan sampai nasib Gibran juga," keluh Kanaya tak habis pikir kenapa Loenza sesinting ini.
"Ck, bukan itu maksudnya boddoh!!"
"Lalu apa?"
"Nggak peka memang, sudahlah."
TBC
__ADS_1