Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 78


__ADS_3

Ponselnya berdering sejak tadi, wanita itu bahkan tak sadar jika Ibra mungkin tengah kalang kabut di sana. Pasca kepergiannya dari tempat itu, Jackson menghubungi Ibra secepatnya.


Jackson tak punya wewenang lebih selain mengikuti langkah kanaya dari jauh, pria itu hanya bertugas memastikan istri majikannya baik-baik saja. Dan terkait semua ucapan Siska, dengan jelas dia mendengarnya, pria itu bahkan merangkum singkat apa yang terjadi dan dia sampaikan pada Ibra saat itu juga.


Kanaya nyatanya secengeng itu, entah karena pengaruh hormon atau memang ucapan Lorenza membuatnya benar-benar terluka.


Dia yang tadinya mampu berdiri, kini hanya duduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia malu, menangis di pinggir jalan dan ini bukan di waktu hujan turun.


Hingga dia tersadar kala langkah kaki itu kian dekat, Kanaya yang tadinya sedih mendadak jadi takut. Wanita itu perlahan membuka matanya, tatapannya terpaku kala menatap sepasang sepatu di hadapannya.


"Kamu kenapa nangis di sini?"


Kanaya mendongak, matanya yang memerah dan membasah itu dapat melihat bagaimana pria yang kini didepannya menunduk namun tidak ikut duduk tengah memandanginya.


"Mas?"


Kanaya mengusap air matanya cepat-cepat, tidak ada senyum di wajah Ibra saat ini. Pria itu mengulurkan tangannya dan meminta Kanaya untuk berdiri. Menyeka pelan sisa air matanya, lagi-lagi Ibra melihat sesuatu yang tidak ia sukai.


"Hm, siapa yang membuatmu menangis kali ini?"

__ADS_1


Dia bertanya meski tau sebabnya, pria itu megepalkan tangannya kala mendengar laporan Jackson, dan kini secara nyata dia benar-benar melihat air mata Kanaya berurai karena orang lain, bukan dirinya.


"Enggak, mataku kemasukan debu."


Pembohong terbodoh yang pernah ada, Ibra hanya menghela napas pelan mendengar ucapan Kanaya. Wanita itu telalu menjaga hati lawan bicaranya atau bagaimana hingga mengatakan hal sebodoh ini.


"Besok-besok cari alasan lain, Naya, Mas bukan balita yang bisa kamu bodohi semudah itu," ungkap Ibra kemudian, dia ingin sekali marah. Bahkan menghadiahkan tamparan untuk Siska dia akan lakukan, sayangnya hal itu tidak mungkin dia realisasikan.


"Pulang, aku tidak suka di sini."


Ibra mengangguk, merasa Ibra takkan melepaskan pelukannya segera Kanaya meminta pulang. Menjadi pusat perhatian seperti ini rasanya sangat memalukan, pikirnya.


Ibra paham maksud Kanaya, bukan berarti dia ingin ke rumah cepat-cepat. Mengingat Kanaya sebahagia itu kala mendapatkan izin dari Ibra untuk keluar menemui Lorenza dan Siska.


"Mau," ucapnya dengan senyum tertahan, Kanaya adalah wanita yang biasanya menghabiskan waktu lebih banyak di luar, pergi ke semua tempat yang ia sukai demi menyegarkan batinnya. Dan kali ini, sepertinya pas sekali.


Ibra tersenyum, mungkin ini adalah waktunya. Walau sebenarnya sejak dahulu dia memikirkan hal ini, akan tetapi kesibukan dan kondisi istrinya membuat Ibra menunda rencananya.


Beruntungnya Kanaya yang tak begitu banyak tanya, dia sepercaya itu pada Ibra walau kini dia sendiri tidak paham hendak kemana tujuan Ibra.

__ADS_1


Jalan yang mereka tempuh sepertinya akan lama, dan tentu saja mereka harus makan siang lebih dulu demi bisa tiba di sana dengan nyaman. Dengan diikuti oleh Jackson dan Axel, pria itu merasa akan lebih baik di sana nanti.


"Tidur saja, perjalanannya masih lama ... nanti kamu lelah, Nay."


Melihat istrinya yang tengah berusaha menahan kantuk sebenarnya dia tidak tega, akan tetapi itu adalah hal menggemaskan menurut Ibra.


"Enggak, Mas, kalau aku tidur kamu sendirian nanti."


"Tapi mata kamu udah kecil banget itu," tutur Ibra kemudian, dan Kanaya masih sepede itu mengatakan jika dia tidak ingin tertidur.


Selain pemandangan di sisi jalan yang sangat disayangkan jika ditinggal tidur, Kanaya juga tak tega jika membiarkan Ibra mengemudi dalam kesepian. Tapi sayangnya, kantuk itu memang luar biasanya hingga kala Ibra mengelus pelan mata dan keningnya Kanaya tertidur semudah itu.


"Hahahah bilangnya enggak, tau-tau lemes sendiri." Ibra tersenyum miring melihat kelakuan istrinya, pria itu mengecup punggung tangannya berkali-kali.


Mengajak istrinya menginjak tanah kelahiran, Ibra hanya berharap dia dan Kanaya kembali dalam keadaan baik tanpa kurang satu hal pun. Pria itu sangat amat dia cintai, dan tentu saja dunianya harus mengetahui jika kini Ibra telah memiliki belahan jiwa yang sesungguhnya.


"Sabar ya, Nay ... nggak lama lagi," ucapnya meski memang tanpa jawaban, Ibra tetap mengatakan berbagai hal pada istrinya itu.


Tbc

__ADS_1


Nanti Malem aku up lagi.


__ADS_2